P2P Lending VS Reksadana, Mana yang Terbaik?

Rasanya sangat tidak adil membandingkan kedua instrumen investasi ini bila salah satu instrumennya tidak saya kuasai betul. Memang, saya belum pernah sama sekali berinvestasi di Reksadana, namun saya mencoba memberikan perbandingan yang fair berdasarkan informasi Reksadana yang saya pelajari dari berbagai sumber.

Bila menurut kamu perbandingan ini tidak valid, silahkan beri pendapat kamu di kolom komentar agar saya bisa lebih memahami dan memberikan informasi tambahan mengenai kedua instrumen ini.

Sebelum mengulas perbandingan kedua jenis instrumen ini, terlebih dahulu kita perlu tahu pengertian kedua instrumen ini. Menurut OJK, P2P Lending (Peer-to-Peer Lending) adalah salah  satu  inovasi  pada  bidang  keuangan  dengan  pemanfaatan  teknologi  yang memungkinkan  pemberi  pinjaman  dan  penerima  pinjaman  melakukan  transaksi pinjam  meminjam  tanpa  harus  bertemu  langsung.  Mekanisme  transaksi  pinjam meminjam dilakukan melalui sistem yang telah disediakan oleh Penyelenggara P2P Lending, baik melalui aplikasi maupun laman website.

Baca: P2P Lending (Peer-to-Peer Lending): Cara Kerja, Keunggulan, dan Risiko

Sedangkan Reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan di investasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito. Jenis-jenis Reksadana ada yang namanya Reksadana Pasar Uang, Reksadana Pendapatan Tetap, Reksadana Saham, Reksadana Campuran, dan Reksadana Indeks.

Untuk lebih jelas mengenai Reksadana, kamu bisa membaca artikel Reksadana: Jenis, Risiko dan Produk-Produknya.

Perbandingan P2P Lending dan Reksadana dapat kita ambil dari berbagai indikator, misalnya dari tingkat return yang didapat dan resiko investasi.

Return yang Didapat

Return yang didapat P2P Lending sangat bervariasi. Bila merujuk ke Investree, disana ada pendanaan yang returnnya bisa tembus 20% p.a. Ini menurut saya cukup tinggi. Namun, kembali lagi ke kaedah investasi, return yang tinggi pastinya memiliki risiko yang tinggi pula.

Sedangkan Reksadana, besar kecilnya return didasarkan jenis Reksadana yang kita miliki dan kinerja dari manager investasi itu sendiri.

Jenis Reksadana yang memiliki return paling tinggi biasanya adalah Reksadana Saham. Return yang didapat bisa mencapai 35%. Tapi kalau saya pribadi menghindari Reksadana Saham dengan return yang tingginya melebihi 20%, karena biasanya isi produknya banyak saham yang sangat fluktuatif.

Pada tahun 2019, saya pernah melihat laporan dari Bareksa bahwa ada Reksadana Pendapatan Tetap yang bernama Syailendra Fixed Income Fund berhasil memberikan return hingga 8,2%. Ini menarik, karena biasanya Reksadana Pendapatan Tetap relatif memiliki risiko yang lebih rendah.

Untuk Reksadana Pasar Uang, biasanya returnnya paling kecil, tidak sampai dari 1%.

Tingkat Risiko

P2P Lending memiliki risiko yang cukup tinggi. Risiko yang mungkin bisa didapat yakni gagal bayar. Namun risiko ini bisa di minimalisir bila kamu berinvestasi pada Platform P2P Lending yang memiliki mitigasi risiko yang bagus dan pemilihan Borrower yang tepat.

Untuk mengurangi risiko gagal bayar, saya pernah menulis artikel yang bisa kamu pelajari untuk mengetahui mana Platform P2P Lending yang terbaik agar kamu bisa berinvestasi di tempat yang tepat.

Sedangkan untuk Reksadana, risiko yang bisa didapat adalah penurunan harga jual, istilahnya mungkin saja return yang kamu dapat malah minus. Nah, untuk tingkat risiko, tergantung dari produk Reksadana yang kamu pilih dan seberapa integritasnya manager investasi yang mengelolanya.

Jika dilihat dari jenis Reksadananya, saya ingin membagi jenis Reksadana berdasarkan tingkat resikonya.

Reksadana risiko rendah

Reksadana Pasar Uang. Bentuk instrumen investasinya dapat berupa time deposit (deposito berjangka), certificate of deposit (sertifikat deposito), Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Surat Berharga Pasar Uang (SBPU) dan berbagai jenis instrumen investasi pasar uang lainnya. Risikonya relatif paling rendah dibandingkan reksadana jenis lainnya.

Reksadana Pendapatan Tetap. Jenis reksadana yang menginvestasikan sekurang-kurangnya 80 persen ke obligasi. Risikonya relatif lebih besar daripada reksadana pasar uang

Reksadana risiko sedang

Reksadana Campuran. Jenis reksadana mengalokasikan dana investasinya dalam portofolio yang bervariasi. Instrumen investasinya dapat berbentuk saham dan dikombinasikan dengan obligasi. Risiko Reksadana Campuran bersifat sedang.

Reksadana risiko tinggi

Reksadana Indeks. Jenis reksadana yang menginvestasikan ke dalam bentuk saham yang masuk ke dalam indeks tertentu di bursa efek. Risikonya relatif lebih tinggi dari jenis Reksadana lain namun dibawah Reksadana Saham.

Reksadana Saham. Jenis reksadana yang menginvestasikan ke dalam bentuk saham. Risikonya relatif lebih tinggi dari jenis Reksadana lainnya.

Untuk manager investasi, saya tidak bisa memberikan penilaian apapun, karena saya belum sama sekali berpengalaman berinvestasi menggunakan manager investasi.

Kesimpulan

Untuk pemula yang ingin berinvestasi dengan kecenderungan memilih investasi yang aman, maka Reksadana Pasar Modal, Reksadana Pendapatan Tetap dan Reksadana Campuran bisa menjadi pilihan terbaik.

Bila kamu termasuk golongan yang agresif dan mentoleransi risiko investasi, maka kamu bisa mencoba P2P Lending, Reksadana Saham atau Reksadana Indeks.

Saran saya, apapun investasi yang kamu pilih, mulailah dengan modal yang kecil (seminimal mungkin). Pelajari progresnya, bila sesuai dengan kemauanmu, maka tingkatkan nilai investasinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *