Cara Memilih dan Membeli Saham Berdasarkan Pengalaman Pribadi

Pelan-pelan saya mulai mengalihkan semua aset di berbagai instrumen investasi lain ke saham, baik itu Deposito maupun P2P Lending, termasuk juga tabungan emas digital saya yang tidak seberapa.

Kenapa saya ingin seratus persen hanya berinvestasi di saham? Karena saya melihat potensi pasar modal di Indonesia, terutama produk saham masih sangat luar biasa. Ekonomi Indonesia terus tumbuh, pertumbuhan terbesar di genjot oleh perusahaan yang memiliki kapital pasar yang besar. Dan perusahaan yang memiliki kapital besar ada di saham.

Oh ya, kalau kamu ingin belajar tentang investasi saham, silahkan baca artikel saya sebelumnya yang berjudul Panduan Investasi Saham dari Nol Khusus Pemula.

Memilih hanya berinvestasi di saham bukan berarti instrumen investasi lain tidak bagus, bukan begitu maksudnya. Hanya saja saya ingin fokus di satu instrumen, supaya saya bisa lebih perhatian ke instrumen tersebut. Apalagi saya tidak menganut keyakinan diversifikasi investasi.

Apa itu diversifikasi? Diversifikasi adalah metode untuk tidak menyimpan aset hanya di satu instrumen saja. Tujuannya bila terjadi crash market di salah satu instrumen investasi, kita masih ada instrumen lain yang bisa menyelamatkan kita, jadinya tidak rugi-rugi amat. Kalau dalam pribahasanya, jangan letakkan semua telur di satu keranjang yang sama.

Hampir semua investor melakukan diversifikasi pada investasinya, cuma sebagian kecil yang tidak melakukan itu, seperti saya. Kenapa saya tidak melakukan diversifikasi pada aset investasi saya? Alasannya sederhana, aset saya belum menyentuh angka 1 milyar. Jadi saya lebih ingin fokus pada pengembangan yang optimal, kalau saya melakukan diversifikasi takutnya aset saya malah tidak optimal kerjanya.

Buat kamu yang ingin melakukan diversifikasi, menurut saya pastikan dulu untung dan ruginya. Kalau asetnya masih sedikit, lebih baik fokus pada satu instrumen untuk pengembangan yang optimal, buat apa punya banyak instrumen tapi tidak satunpun punya hasil yang optimal. Tapi kalau kamu meyakini seperti kebanyakan investor untuk diversifikasi, ya silahkan lakukan dengan sebaik mungkin, kalau bisa jangan lebih dari 3 instrumen.

Lalu, bagaimana saya mengoptimalkan aset saya di saham? Berikut ulasan saya tentang cara saya memilih dan membeli saham.

1. Tetap Berada pada Konsep dan Kriteria Investasi

Saya pernah membahas pada artikel-artikel sebelumnya. Bagi saya, yang namanya investasi adalah sebuah kegiatan bisnis yang membutuhkan modal agar dapat menghasilkan cash flow tanpa perlu bekerja secara aktif.

Kriteria investasi yang menjadi ketentuan saya:

  • Modal
  • Cash flow
  • Pendapatan pasif

Jika terpenuhi ketiga kriteria tersebut, maka investasi tersebut adalah pilihan saya. Nah, coba saya contohkan seperti emas. Menurut saya emas bukan instrumen investasi, karena emas tidak menghasilkan cash flow. Deposito termasuk investasi karena memenuhi kriteria diatas, namun adakalanya deposito tidak bisa dianggap investasi bila suku bunganya 0 atau minus (seperti yang terjadi di Inggris).

Baca: Apakah Saya Masih Berinvestasi pada Emas?

Maka itu berlaku juga di saham. Saya hanya memilih saham yang memenuhi kriteria diatas, yakni membutuhkan modal, saham yang membagikan dividen sebagai cash flow, dan saham yang cocok untuk investor jangka panjang (bukan trader).

2. Investasi Jangka Panjang

Ketika ingin membeli saham, saya selalu harus meyakini dulu kalau saya memposisikan diri sebagai investor, yang membeli sebuah bisnis untuk menikmati laba dari perusahaan tersebut. Bukan trader yang mengambil return dari kenaikan harga saat dalam waktu singkat. Perbedaan antara investor dan trader akan saya bahas di artikel selanjutnya.

Kenapa saya harus investasi jangka panjang? Karena saham sangat fluktuatif bila di investasikan untuk jangka pendek. Kamu tidak bisa memperoleh hasil yang optimal di jangka pendek, bahkan cenderung merugi.

Lihat grafik di atas, itulah adalah grafik harga dari saham BCA (kode BBCA). Dari tahun 2005 hingga 2019 mengalami kenaikan capital gain yang sangat tinggi, tahun 2020 turun sedikit karena isu covid-19. Sekarang bandingkan dengan grafik dibawah ini.

Di grafik kedua, harga saham BBCA bisa dilihat naik turun. Kamu bisa menilai sendiri, bagaimana potensi risikonya, apakah investasi jangka panjang atau trading harian yang memiliki risiko paling tinggi?

Karena banyak pelaku saham yang melakukan trading dibandingkan investasi, maka munculah imej yang mengatakan saham adalah investasi paling berisiko. Padahal, bila kita melakukan investasi jangka panjang, kita bisa menganggap investasi saham adalah investasi yang risikonya tidak besar-besar amat.

3. Memilih Perusahaan yang Sudah Dikenal Orang

Saya hanya membeli perusahaan yang sudah dikenal orang, karena itu menunjukkan perusahaan tersebut punya market yang bagus dan produknya dipakai banyak orang.

Contohnya perusahaan yang sudah dikenal orang seperti Gudang Garam, BCA, BRI, BNI, MANDIRI, ASTRA, Indofood, Garuda Indonesia, Telkom, Krakatau Steel, Unilever, dan lain-lain.

4. Penguasa di Sektornya

Saya lebih memilih saham dari perusahaan yang menguasai market di sektor atau subsektornya. Ini bagi saya penting, karena perusahaan tersebut mampu tumbuh dan akan terus tumbuh meski ada pesaingnya, baik pesaing lama maupun pesaing yang baru masuk.

Contoh perusahaan yang menguasai market, Telkom yang menjadi penguasa 65% pasar data dan internet. ASTRA yang memegang merk mobil Toyota, Daihatsu, dan motor Honda menjadi penguasa otomotif di tanah air. Unilever yang menjadi penguasa ritel tanah air.

Produk Indomie dari ICBP merupakan produk yang menguasai pasar mie instant di Indonesia bahkan menembus pasar global.

5. Memiliki Capital Market di Atas 20 Triliun

Besarnya capital market berbanding lurus dengan besarnya aset yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Bila aset perusahaan semakin besar, maka kemungkinan perusahaan tersebut bangkrut sangatlah kecil. Istilah to big to fail.

Rata-rata perusahaan yang saya sebutkan diatas sudah memiliki capital market diatas 20 triliun.

6. Sudah Beroperasi Lebih dari 20 Tahun

Semakin lama perusahaan tersebut beroperasi, semakin matanglah perusahaan tersebut, baik dari segi bisnis maupun manajemen.

Saya sangat menghindari perusahaan yang baru berdiri, karena belum terbukti ketangguhannya, baik di masa resesi ekonomi maupun di masa sekarang.

7. Menghindari Sektor yang Berisiko

Karena sifat saya investasi jangka panjang, maka saya harus memilih perusahaan yang model bisnisnya akan terus tumbuh dari masa ke masa dan akan terus digunakan meski adanya perubahan zaman. Saya menghindari sektor mining (pertambangan) yang bisnisnya sangat dipengaruhi oleh ketersediaan sumber daya alam.

Selain itu, perusahaan yang saya pilih tidak mudah terganggu oleh kondisi alam dan harga pasar global. Misalnya sektor pertanian dan peternakan yang memiliki risiko pada perubahan kondisi alam. Serta sektor mining yang harga komoditasnya tergantung harga global.

Saya juga tidak berani memilih perusahaan yang sarat dengan pengaruh regulasi domestik maupun global. Misalnya sektor pertanian (seperti sawit) dan mining (seperti batu bara) yang sering ada penolakan dalam negeri dan luar negeri, baik oleh kelompok adat atau aktivis lingkungan.

8. Hanya Memilih Saham yang Model Bisnisnya Mudah Di Mengerti

Yang tidak kalah penting ketika memilih saham untuk di investasikan, saya harus pastikan bahwa saya memahami model bisnisnya, mengerti bagaimana mereka mendapatkan untung dan produknya sederhana. Saya tidak membeli saham karena hanya ikut tren pasar.

Contoh bisnis yang bisa kita pahami dengan mudah seperti perbankan, ritel seperti KCF, Unilever, Sampoerna, Indofood dan ritel lainnya. Mereka membuat sebuah produk, lalu produk tersebut digunakan orang dan menghasilkan untung.

Saya menghindari bisnis yang bakar duit, tidak jelas untungnya seperti apa dan bahkan kadang merugi. Kalau bisnis terlalu canggih terkadang malah tidak untung, contohnya saja Garuda Indonesia. Bisnis maskapai tergolong bisnis yang biaya operasionalnya sangat tinggi, sedangkan pemasukannya tidak sebanding karena harga tiket terlalu murah atau daya beli masyarakat terhadap tiket pesawat rendah.

Begitu pula dengan bisnis teknologi. Saya tidak paham bagaimana Tokopedia,  Bukalapak, Shopee, OVO, Gojek, dan Grab menghasilkan keuntungan. Kalau dilihat hampir semua produk mereka itu free penggunaannya, malah mereka sering ngasih diskon ke penggunannya. Promosi mereka lebih cenderung promosi bakar duit.

By the way, perusahaan teknologi di atas belum satu pun IPO ke Bursa Efek Indonesia. Kabarnya Tokopedia 3 tahun lagi IPO, selama mereka tidak mampu menghasilkan keuntungan yang jelas, maka saya sama sekali tidak tertarik untuk ikut model bisnis seperti mereka.

9. Saham Likuid

Saya pastinya memilih saham yang likuid, yang ada transaksi aktif setiap menitnya. Membeli saham yang jarang ada transaksi membuat uang kita bisa nyangkut tidak dapat dicairkan.

Biasanya saham yang suka nyangkut itu adalah saham yang capital marketnya kecil dan sering di goreng oleh trader yang punya modal besar.

10. Selalu Membagikan Dividen

Investasi adalah bisnis, bisnis harus menghasilkan keuntungan. Keuntungan yang bisa didapat di investasi saham salah satunya dalam bentuk dividen. Pembagian dividen tidaklah wajib dilakukan oleh perusahaan, namun saya tidak akan membeli saham dari perusahaan yang tidak membagikan dividen bagi pemegang sahamnya.

Menurut saya, buat apa saya punya surat berharga dan diakui sebagai salah satu pemegang saham bila saya tidak memperoleh pembagian untung yang didapat oleh perusahaan. Jadi kriteria investasi berlaku disini.

11. Hanya Membeli Maksimal 3 Saham

Alasan kenapa saya hanya membeli maksimal 3 saham, yang pertama saya bukan investor yang melakukan diversifikasi saham, yang kedua saya ingin memaksimalkan saham yang saya miliki, yang ketiga saya bisa lebih selektif memilih saham yang terbaik menurut saya pribadi.

12. Perusahaan yang Memiliki Fundamental yang Baik

Saya hanya memilih perusahaan yang memiliki fundamental yang baik. Nah, untuk memahami cara analisis fundamental sebuah perusahaan kamu memang sedikit membutuhkan ilmu. Kamu mungkin membutuhkan seorang mentor atau belajar secara otodidak dari buku. Saya belum berani membahas ini di blog, karena saya takut memberikan informasi yang salah, karena rasanya ini jauh dari kompetensi saya.

Perusahaan yang konsisten membagikan dividen selama 10 tahun berturut-turut, bisa dijadikan salah satu ciri yang memiliki fundamental yang bagus. Logikanya, tidak mungkin perusahaan tersebut berhutang ke pihak lain untuk membagikan dividen ke pemegang sahamnya.

Tapi hanya melihat dari segi dividen saja tidaklah cukup. Karena dari dividen, selain harus konsisten selama 10 tahun, dividen tersebut harus dilihat apakah persentasenya wajar atau tidak, misalnya dibagikannya lebih 50%. Menurut saya kalau persentasenya terlalu besar tidaklah bagus, karena keuntungan yang disimpan untuk pengembangan aset terlalu sedikit.

Itulah 12 langkah yang saya ambil sebelum saya memutuskan untuk membeli sebuah saham. Ingat, hal yang terpenting sebelum membeli saham adalah pastikan dulu uang kita aman. Jangan melemparkan uang ke lubang buaya dengan cara memilih saham yang salah.

Sekian dari saya, semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *