5 Alasan P2P Lending Cocok Menjadi Investasi ala Milenial

Saya sudah cukup banyak menulis artikel P2P Lending baik di blog ini maupun di media massa lainnya. Alasannya sederhana, saya menganggap P2P Lending termasuk investasi ideal bagi milenial, baik dari segi return dan sistem kerjanya. Meskipun P2P Lending tergolong sebagai instrumen yang memiliki risiko tinggi.

Kenapa P2P Lending cocok untuk dijadikan sebagai investasi milenial? Berikut ini alasannya.

Tidak ada fluktuasi harga

Jika dalam instrumen Saham dan Reksadana ada fluktuasi harga yang naik turun, di P2P Lending tidak ada yang namanya fluktuasi harga. Kamu bisa mengukur berapa return yang kemungkinan akan kamu dapat berdasarkan return yang ditawarkan per tahun.

Model seperti ini tentu cocok untuk milenial yang baru memulai investasi tapi mampu mentolerir risiko tinggi.

Tingkat risiko dapat diminimalisir

Semua investasi memiliki risiko, di P2P Lending risiko investasi dapat berupa gagal bayar oleh borrower yang meminjam uang kita. Bila kita investasi di P2P Lending, mungkin kita bisa dapat return 20%, namun kita juga bisa mengalami kerugian 100% bila terjadi gagal bayar.

Tapi kabar baiknya, diantara semua instrumen investasi yang masuk ke dalam golongon risiko tinggi, P2P Lending menjadi instrumen yang paling bisa kita minimalisir kerugiannya.

Jenis-jenis mitigasi risiko yang biasanya ada di P2P Lending adalah:

  1. Sistem scoring. Tim internal P2P Lending yang ahli di bidang ini akan melakukan sistem scoring seberapa risiko kah pendanaan tersebut. Sistem scoring terbaik biasanya dilabeli dengan A+ (risiko rendah) dan C (risiko tinggi). Contoh P2P Lending yang memiliki sistem scoring paling akurat adalah Modalku, Investree, dan Amartha.
  2. Ada P2P Lending yang memberikan opsi pengembalian dana pokok bila terjadi gagal bayar. Contohnya pada Amartha.
  3. Beberapa P2P Lending mewajibkan Borrower menggunakan agunan bila terjadi gagal bayar. Misalnya Akseleran.
  4. Tanggung renteng. Bila terjadi gagal bayar oleh satu Borrower, maka kolompok Borrower tersebut akan saling membantu membayar tanggungan Borrower gagal bayar. Penerapan ini dilakukan oleh Amartha.
  5. Scoring TKB90 bisa menjadi penilaian kita melihat kinerja sebuah P2P Lending.

Mendapatkan cash flow

Sebuah instrumen investasi wajib hukumnya mendapatkan cash flow. Menariknya, cash flow yang didapat melalui P2P Lending bisa dalam bentuk tunai layaknya cash flow deposito.

Tidak perlu skill khusus untuk memahami

Seperti yang sudah saya ceritakan pada artikel P2P Lending sebelumnya, P2P Lending merupakan investasi yang paling gampang untuk dipahami. Karena sistem kerjanya hanya tiga serangkai, kamu sebagai Lender (pemilik modal) meminjamkan modal kamu kepada Borrower (peminjam modal) melalui broker (Platform). Itu saja.

Baca: P2P Lending (Peer-to-Peer Lending): Cara Kerja, Keunggulan, dan Risiko

Kamu hanya butuh sedikit ilmu untuk mengetahui mana Platform P2P Lending yang terbaik untuk berinvestasi dan bagaimana cara memilih Borrower yang tepat. Semua itu sudah saya jelaskan pada artikel sebelumnya.

Bisa dimulai dari Rp 100 ribuan

Untuk memulai berinvestasi di P2P Lending, kamu bisa memulainya hanya dengan uang Rp 100 ribuan saja. Tapi saya tidak sarankan memulai dengan Rp 100 ribuan. Kenapa? Karena P2P Lending yang bagus seperti Investree dan Amartha minimal pendanaannya RP 1 juta keatas.

Nah, itulah alasan kenapa P2P Lending sangat cocok untuk milenial. Meskipun P2P Lending termasuk ke dalam investasi risiko tinggi, tapi kalau memang kamu orang yang agresif dan mentolerir terhadap kerugian yang mungkin terjadi, kamu tidak perlu khawatir.

Kalau memang belum yakin untuk berinvestasi di P2P Lending, saran saya coba saja dulu daftar dan mulailah dengan dana yang kecil, misalnya di Akseleran yang bisa dimulai dengan uang Rp 100 ribuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *