Tips Cara Mengelola / Mengatur Keuangan dengan Benar

Disclaimer: saya bukan lulusan ekonomi, tidak memiliki sertifikat konsultan finansial. Namun saya belajar banyak tentang mengatur keuangan secara otodidak dari buku-buku finansial dan internet. Hal yang akan saya jelaskan dalam postingan ini murni berdasarkan pengetahuan saya pribadi dan berdasarkan versi saya. Bila ada perbedaan pendapat dari orang yang lebih kompeten, tentu saya menerima secara terbuka kritik dan sarannya.

Sebenarnya tidak harus sampai harus kuliah prodi ekonomi untuk mengatur keuangan diri sendiri, karena sudah sangat banyak buku, referensi internet bahkan di Instagram yang membahas tentang manajemen keuangan. Kecuali kalau kamu mau expert di bidang ini, maka perlulah kamu untuk memiliki gelar dan sertifikat kompetensinya.

Sebenarnya, kalau ditanya bagaimana cara paling ideal mengatur keuangan? Menurut saya, cara paling ideal mengatur keuangan yaitu dengan cara membuat pos-pos pembagian uang berdasarkan persentase kebutuhan. Sederhananya, berapapun pendapatan yang kita miliki tiap bulannya harus dialokasikan untuk 6 hal:

  • Kebutuhan sehari-hari
  • Cicilan / hutang
  • Investasi
  • Dana darurat
  • Hiburan
  • Sedekah / zakat /donasi

Nah, untuk saya sendiri, saya membuatnya dalam bentuk rumus dibawah ini:

40%+30%+10%+10%+5%+5% = Pendapatan

Apa maksud dari rumus tersebut? Maksudnya adalah proporsi dari pendapatan yang saya alokasikan sesuai dengan kebutuhan. Proporsi masing-masing harus jelas, itulah mengapa penting sekali untuk membagi pos-pos pendapatan.

Ini bukan hal yang baru, hampir semua pakar konsultan finansial menyarankan pengelolaan keuangan menggunakan sistem pos-pos keuangan. Lalu, secara personal, biasanya kita mencoba modifikasi persentase pos sesuai dengan pendapatan dan kondisi keuangan kita masing-masing. Namun satu yang pasti, semua pakar selalu mewajibkan minimal 3 pos utama yang harus ada, yakni pos kebutuhan harian, dana darurat, dan hutang/investasi (tergantung kondisi).

Untuk lebih jelasnya, saya akan membahas lebih dalam bagaimana cara mengatur keuangan yang benar dengan cara membagikan ke pos-pos pendapatan.

1) Kebutuhan sehari-hari

Proporsi 40% dari pendapatan bulanan. Apa saja yang termasuk kebutuhan sehari-hari? Tentu saja makan minum, transportasi, uang jajan anak, biaya sekolah, utilitas (air, listrik, wifi, pulsa, dan lain-lain).

2) Cicilan / hutang

Proporsi 30% dari pendapatan bulanan. Generasi milenial biasanya banyak sekali yang berhutang, mulai dari hutang kartu kredit, KPR (Kredit Kepemilikan Rumah), KPM (Kredit Kepemilikan Mobil), serta KTA (Kredit Tanpa Agunan).

Baca: Kenapa Generasi Milenial Hobi Menghabiskan Uang?

Sah-sah saja kalau berhutang, tapi pastikan alokasi untuk cicilan kita tidak lebih dari 30%. Sebisa mungkin membeli segala sesuatu tidak dengan cara kredit, karena kalau dihitung-hitung, biaya pengeluarannya akan lebih besar jika dibandingkan dengan bayar tunai secara langsung.

Misalnya membeli rumah, tabunglah terlebih dahulu, jika uangnya sudah cukup, belilah rumah yang memang sesuai dengan kesanggupan walau lokasinya kurang strategis, tapi lokasinya memiliki prospek baik saat 10 tahun ke depan. Atau kredit dengan DP-nya 50% atau lebih, dengan tenor yang tidak lama, sehingga bunga yang diberikan bank pun juga bisa bersahabat.

Tapi tetap saran terbaik saya, lebih baik menabung terlebih dahulu dalam bentuk emas sampai kira-kira dapat membeli rumah secara tunai. Hal ini yang saya jalani saat ini.

3) Investasi

Proporsi 10% dari pendapatan bulanan. Investasi memiliki peranan terpenting untuk dapat mencapai keamanan secara finansial. Contoh instrumen investasi, seperti emas, properti, saham, reksadana, obligasi, dan lain-lain.

Kabar baik buat kita yang tidak memiliki cicilan atau jumlah cicilannya tidak sampai 30% dari pendapatan, kita dapat mengubah alokasi cicilan yang tadinya 30% untuk berinvestasi dan menambah alokasi dana darurat.

Semakin banyak investasi yang kita miliki semakin tinggi juga kemungkinan kita untuk mapan secara finansial di usia muda. Akumulasi dana investasi nanti juga bisa dibelikan aset investasi secara tunai, seperti rumah.

4) Dana darurat

Proporsi paling ideal untuk darurat adalah 10% dari pendapatan bulanan. Dana darurat merupakan bagian terpenting dari perencanaan keuangan. Dana darurat memiliki fungsi sebagai dana utama yang digunakan untuk membayar di awal atau istilahnya dapat dijadikan bumper saat kita berada dalam keadaan genting atau menghadapi kejadian yang tidak disangka-sangka, misalnya seperti kondisi pandemik covid-19 saat ini yang cukup mengguncang ekonomi masyarakat.

Karena sulit untuk memprediksi berapa besarnya dan kapan dana tersebut dibutuhkan, maka dana darurat ini perlu dipersiapkan dari awal dan merupakan tujuan finansial dengan skala prioritas tinggi.

Bagaimana menghitung dana darurat? itu semua tergantung biaya hidup bulanan kita yang dikalikan sekian bulan. Sebenarnya ini subjektif ya, karena tiap masing-masing orang punya pendapat berbeda untuk menghitung berapa jumlah dana darurat yang harus dimiliki.

Saya sendiri memiliki perhitungan tersendiri berdasarkan kondisi keluarga, perhitungan ini saya ikuti berdasarkan beberapa pakar keuangan yang saya modifikasi. Kamu boleh memiliki perhitungan sendiri, namun yang pasti jangan terlalu melenceng dari substansi fungsi dana darurat itu sendiri.

Untuk memperjelas kebutuhan dana darurat, mari kita asumsikan biaya kebutuhan bulanan kita sebesar Rp4.000.000/bulan. Maka prediksi besaran dana darurat yang harus dipenuhi adalah seperti tabel dibawah ini:

Subject Kebutuhan hidup perbulan Dana darurat
Lajang  4 x Rp 16.000.000
Menikah  6 x Rp 24.000.000
Menikah 1 anak  9 x Rp 36.000.000
Menikah 2 anak atau lebih  12 x Rp 48.000.000
Entrepreneur / freelance  12 x Rp 48.000.000

Jadi, berapa dana darurat yang kita butuhkan? Jika masih kurang dari target, ini waktunya untuk kita bekerja keras mewujudkan dana darurat kita masing-masing. Dana darurat diharapkan bisa menjadi bumper kita selama 3 bulan ketika mengalami guncangan ekonomi dalam keluarga, misalnya terkena musibah PHK. Atau kondisi yang tidak terduga lainnya.

Ingat, jangan pernah anggap remeh dan tidak mempersiapkan dana darurat. Belajarlah dari kasus viral yang gajinya 80 juta perbulan yang kebingungan akibat di PHK karena pandemic covid-19, keluarganya terguncang karena tidak mempersiapkan dana darurat.

Jika biaya darurat ini sudah tercukupi sesuai prediksi besarannya, maka proporsi dana darurat selanjutnya bisa dialihkan ke dana investasi.

5) Hiburan

Proporsi 5% dari pendapatan bulanan. Kebutuhan hiburan ini bukan hanya untuk sekadar traveling, tapi konsepnya adalah sebagai kebutuhan memanjakan diri. Dana hiburan ini dapat digunakan untuk hangout, berbelanja, nonton bioskop, kebun binatang, mengajak anak bermain timezone, membeli gadget, dan lain-lain.

Pokoknya apa pun yang bikin kita happy bersumber dari dana hiburan. Nah, yang terpenting jangan sampai kebablasan, kita hanya boleh menghabiskan 5% pendapatan yang kita miliki untuk hiburan.

6) Sedekah / zakat / donasi

Proporsil 2,5% – 5% dari pendapatan bulanan. Kenapa kita harus mengalokasikan dana untuk kebaikan? Ya tentu untuk keimanan dan rasa kemanusiaan kita. Mengeluarkan uang demi kebaikan tidak akan membuat kita miskin, justru dengan kita bersedekah, berzakat atau berdonasi, akan memancing rezeki yang lebih banyak lagi.

Dan satu lagi, ketika kamu berinvestasi dalam bentuk emas dan telah sampai batas wajib zakat, maka kamu bisa mempersiapkan dananya dari alokasi pos ini. Ingat, mengeluarkan zakat artinya membersihkan harta dan untuk mendapatkan keberkahan.

Baiklah, kita sudah membahas bagaimana cara yang benar mengelola keuangan.  Nah, sekarang pasti kita juga bertanya-tanya, bagaimana kita bisa mengukur aset atau kekayaan yang kita miliki saat ini.

Cara mengukurnya sebenarnya mudah, kamu hanya perlu menghitung semua jumlah aset dan dikurangi dengan kewajiban/hutang jangka pendek atau panjang. Nanti di bagian akhir, kita akan tahu, apakah arus kas kekayaan yang kita miliki positif, negatif, atau nol.

Kalau hutang kita lebih besar daripada aset kekayaan, berarti arus kas kita negatif. Kalau aset kita lebih besar dari hutang, artinya arus kas kita positif atau di antara keduanya antara aset kekayaan dan hutang sama besarnya, berarti arus kas kita bernilai nol.

Berikut ini cara mengukur aset berdasarkan ZAP Finance Consulting.

Aset Contoh Nilai Per Tanggal
Aset kas Kas di tangan 1.000.000
Tabungan 3.000.000
Deposito 0
Total aset 4.000.000
Aset investasi lancar Emas 15.000.000
Obligasi 0
Saham 20.000.000
Reksadana 0
Total aset 35.000.000
Aset investasi tidak lancar Rumah tidak ditempati 0
Tanah 0
BPJS ketenagakerjaan 5.000.000
Properti 0
Ruko disewakan 0
Total aset 5.000.000
Aset konsumsi Perhiasan 0
Barang koleksi 0
Mobil 130.000.000
Motor 0
Rumah di tempati 500.000.000
Total aset 630.000.000
Kewajiban/hutang Kartu kredit 12.000.000
Jangka pendek Pinjaman mobil 0
Pinjaman KTA 0
Total kewajiban jangka pendek 12.000.000
Kewajiban/hutang Pinjaman rumah 350.000.000
Jangka panjang Pinjaman apartemen 0
Total kewajiban jangka panjang 350.000.000
Total semua kewajiban/hutang 362.000.000
Total kekayaan bersih
=
Total aset – Total hutang
674.000.000

362.000.000
312.000.000

Dari tabel diatas, sudah ketahuan berapa aset yang kita miliki dan berapa hutang atau kewajiban yang harus dibayarkan. Cek masing-masing arus kas yang kita punya, apa negatif, positif, atau sama dengan nol.

Nah, sebenarnya tabel diatas membantu kita mengecek pola pengaturan keuangan yang kita miliki hari ini. Kalau ternyata aset kita masih minim, sementara hutang atau cicilan kita melebihi porsi 30% dari pendapatan, langkah pertama yang harus dilakukan sebelum kita berinvestasi adalah melunasi hutang-hutang kita atau paling tidak mengurangi hutang hingga porsinya 30% dari pendapatan. Makanya proporsi hutang berada di deretan kedua setelah kebutuhan.

Kalau kamu kesulitan mengikuti tabel diatas, saya sudah buatkan tool penghitung kekayaan bersih agar kamu dapat menghitungnya dengan mudah secara online. Kamu bisa menggunakan tool Net Worth untuk menghitung kekayaan bersihmu.

One Reply to “Tips Cara Mengelola / Mengatur Keuangan dengan Benar”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *