Pengertian Inflasi, Jenis, Penyebab dan Cara Menghitung Inflasi

Sekitar dua puluh tahun yang lalu uang dengan nilai Rp 1 juta menjadi nominal yang besar. Dengan nominal sebesar itu kita dapat memenuhi kebutuhan sehari-sehari dalam sebulan termasuk biaya cicil rumah dan mobil. Tapi hari ini, nilai Rp 1 juta sangat mungkin dihabiskan hanya dalam waktu dua hari.

Contoh lain, kalau dulu beli bakso ayam bisa Rp 1000 semangkuk, sekarang harus merogoh hingga Rp 15.000. Kenapa bisa terjadi? inilah yang dinamakan dengan inflasi.

Inflasi adalah kondisi turunnya nilai mata uang atas barang dan jasa. Penyebab inflasi bisa karena pasang surutnya politik negeri, permintaan barang dan jasa lebih tinggi dari persediaan, suku bunga bank yang tinggi hingga kurs mata uang rupiah yang menurun dibandingkan mata uang asing.

Dengan kata lain, sepuluh tahun ke depan, bisa saja BBM Premium yang sekarang harganya Rp 6.500 menjadi Rp 10.000? Jika nilai bahan pokok meningkat maka hal tersebut akan berdampak juga pada harga barang lainnya.

Menurut yang dilansir oleh liputan6.com, jenis-jenis inflasi ini ternyata ada banyak sekali. Kalau menurut penyebabnya, inflasi dibagi 2 jenis, yang pertama inflasi domestik, yakni inflasi yang berasal dari dalam negeri. Biasanya diawali dengan defisit APBN, lalu pemerintah mencetak uang secara berlebihan sehingga jumlah uang yang beredar terlalu banyak dibandingkan jumlah kebutuhan pokok yang tersedia. Sedangkan jenis kedua yaitu inflasi import, jenis inflasi ini diakibatkan karena naiknya harga-harga kebutuhan di luar negeri atau di negara-negara mitra dagang. Karena harga kebutuhan di luar negeri meningkat, otomatis harga barang tersebut pada saat dijual kembali di Indonesia juga akan menjadi tinggi.

Realitanya, kita memang tidak bisa memprediksi segala sesuatu dengan pasti. Tapi kita bisa dari sekarang menyiapkan bekal untuk menghadapi kemelut inflasi. Ibarat pepatah, sedia payung sebelum hujan, itulah yang seharusnya dilakukan oleh setiap orang.

Nah sayangnya, sering kita temui orang-orang yang tidak memikirkan bagaimana hari mereka ke depannya, seakan-akan kita hanya hidup di momen ini. Kalau pendapatan dihabiskan untuk barang atau jasa yang bersifat wants, bisa dipastikan kita tidak akan siap menghadapi banyaknya tuntutan kebutuhan di masa depan.

Kalau direnungkan lagi, tuntutan kebutuhan di masa depan jumlahnya tidaklah sedikit, seperti biaya kesehatan, pendidikan anak, pensiun, serta biaya krusial lainnya. Jika diiihat, itu semua baru biaya kebutuhan pokok, belum biaya lainnya, seperti biaya jalan-jalan.

Itu berarti orientasi terhadap masa depan harus mendapatkan perhatian lebih sehingga kita bisa mempersiapkan biaya-biaya tersebut sedini mungkin supaya tidak kejadian seperti istilah hura-hura di usia muda, lalu masih terus bekerja keras saat sudah tidak di usia produktif, dan buruknya hasil kerja keras tadi tidak bisa dinikmati di hari tua.

Jika sebelumnya ilustrasi inflasi digambarkan pada semangkuk bakso ayam. Sekarang mari kita lihat contoh inflasi lainnya. Misalkan biaya pendidikan, menurut data dari penelitian ZAP Finance, biaya pendidikan mengalami kenaikan 10% hingga 20% setiap tahunnya, ini artinya biaya pendidikan meningkat lebih tinggi dibandingkan infiasi setiap tahun. Rata-rata kenaikan inflasi di Indonesia sekitar 5,5% setiap tahunnya.

Sumber: bolasalju.com

Kebayang tidak, kalau dulu kita kuliah tahun 2009 biaya per semester Rp 1.000.000 (kurang lebih), pada tahun 2020 biaya kuliah per semester bisa Rp 12.000.000. Nominal yang cukup fantastis, bukan? Sulit dibayangkan kalau beberapa tahun lagi ketika kita yang sudah berkeluarga harus membiayai pendidikan anak, kita akan menemui permasalahan yang sama “biaya pendidikan yang semakin meroket”.

Nah, coba kita belajar cara menghitung inflasi. Cara paling mudah untuk menghitung inflasi adalah dengan menggunakan rumus dibawah ini:

(IHK yang sekarang – IHK waktu yang lalu) / IHK Sekarang x 100

Sumber: simulasikredit.com

IHK ini singkatan dari Indeks Harga Konsumen (harga beli konsumen). Misalkan kita ingin menghitung inflasi harga BBM (Premium) antara tahun 2008 dan 2017. Misalkan harga Premium pada tahun 2008 Rp.4000/liter sedangkan harga Premium pada tahun 2017 sebesar Rp.6500/liter, sehingga perhitungan menjadi :

(Rp.6500-Rp.4000)/(Rp.6500) x100 = 0,3846 x 100% = 38,5 %

Sehingga dapat disimpulkan bahwa Premium mengalami inflasi sebesar 38,5% dari tahun 2008 hingga 2017. Secara rata-rata, Premium mengalami kenaikan inflasi sebesar 4,3% per tahun.

Sama juga seperti biaya kesehatan, menurut data dari Presiden PT Zurich Topas Life (ZTL), Peter Huber, dilansir dari kompas.com, ternyata biaya berobat di Indonesia meningkat hingga 36% selama 10 tahun terakhir. Angka ini juga lebih tinggi daripada tingkat inflasi Indonesia.

Nah, itu baru biaya berobat untuk rawat jalan, belum lagi jika kita harus melakukan rawat inap hingga berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu ke rumah sakit di luar negeri, uang puluhan hingga ratusan juta bisa dihabiskan untuk biaya berobat saja.

Siapa sih yang mau sakit? Pasti tidak ada, tapi untuk jaga-jaga kita harus menyiapkan dana darurat yang dialokasikan untuk kebutuhan berobat atau paling tidak urus BJPS segera mungkin. Begitu pula dengan biaya pendidikan anak tadi, yang sudah menjadi kewajiban dan harus diupayakan, karena pastinya sebagai orang tua kita selalu ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita.

Pertanyaannya, sudah siapkah kita menghadapi inflasi?

One Reply to “Pengertian Inflasi, Jenis, Penyebab dan Cara Menghitung Inflasi”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *