P2P Lending (Peer-to-Peer Lending): Cara Kerja, Keunggulan, dan Risiko

Tidak semua instrumen investasi pernah saya cicipi, karena memang saya bukan orang yang menganut konsep diversifikasi investasi. Contohnya seperti Reksadana dan Obligasi, saya sama sekali belum pernah membeli kedua instrumen tersebut, namun saya memiliki sedikit pengetahuan tentang kedua instrumen tersebut karena proses belajar setahun lalu dalam mencari investasi apa yang cocok untuk saya.

Dalam perjalanan saya berinvestasi, saya baru mengenal P2P Lending di akhir Agustus 2019 lalu. Awal mula saya mengelola aset adalah dengan menabung emas, lalu saya mulai mencoba Depositokan beberapa uang saya, lalu saya masuk ke Saham dan yang terakhir P2P Lending.

Saat ini, saya hanya menjalankan dua instrumen investasi yakni Saham dan P2P Lending. Untuk emas masih menjadi tabungan saya. Sedangkan Deposito sudah saya alihkan ke Saham. Proporsi investasi saya yakni 95% Saham dan 5% P2P Lending.

Nah, untuk kali ini saya ingin membahas jenis investasi P2P Lending. Saya rasa banyak diantara kita yang mungkin belum mengenal istilah P2P Lending, sebenarnya apa sih P2P Lending ini?

Sebelum saya bahas lebih lanjut, saya ingin disclaimer dulu. P2P Lending adalah investasi yang memiliki risiko tinggi, lebih tinggi dari Reksadana. Jadi, kenali profil risikomu dan bijaksana dalam berinvestasi.

Pengertian P2P Lending


Menurut OJK, P2P Lending (Peer-to-Peer Lending) adalah salah  satu  inovasi  pada  bidang  keuangan  dengan  pemanfaatan  teknologi  yang memungkinkan  pemberi  pinjaman  dan  penerima  pinjaman  melakukan  transaksi pinjam  meminjam  tanpa  harus  bertemu  langsung.  Mekanisme  transaksi  pinjam meminjam dilakukan melalui sistem yang telah disediakan oleh Penyelenggara P2P Lending, baik melalui aplikasi maupun laman website.

Sederhananya, konsep P2P Lending ini kita meminjamkan uang kita ke orang lain melalui platform online (aplikasi atau website) dengan harapan mendapatkan bunga atau imbal hasil.

Jenis investasi P2P Lending ini sebenarnya sudah eksis di Inggris sejak 2005 dan baru masuk ke Indonesia sejak tahun 2010. Sayangnya saya baru mengenal P2P Lending pada tahun 2019, telat sekali saya.

Cara Kerja P2P Lending


Cara kerjanya sangat sederhana, mirip seperti cara kerja Bank. Kalau di P2P Lending, nasabah/kreditur disebut sebagai Lender (pemberi pinjaman) dan debitur disebut sebagai Borrower (penerima pinjaman).

[caption id="attachment_1112" align="aligncenter" width="1204"] Sumber: Financialsecurity.id[/caption]

Regulasi yang mengatur P2P Lending ada pada Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sehingga investasi P2P Lending diakui dan legal dioperasikan di Indonesia. Untuk melihat legalitas P2P Lending, kamu bisa membukanya disini.

Sama seperti Bank, P2P Lending juga menerapkan dua versi pendanaan, yakni pendanaan konvesional dan syariah. Kamu bisa melihat daftar P2P Lending berdasarkan jenis pendanaannya melalui listing P2P Lending OJK pada tautan diatas.

Keunggulan P2P Lending


P2P Lending termasuk instrumen investasi yang memberikan return yang sangat tinggi, bahkan return yang didapat dari investasi ini hampir menyerupai return yang didapat dari pasar modal Saham.

P2P Lending termasuk investasi jangka pendek. Kamu bisa mendapatkan return hanya dalam minimal 30 hari, tergantung tenor yang dipilih.

Menjalani instrumen P2P Lending sangat mudah dan tidak serumit Saham, tidak perlu belajar membaca pergerakan pasar atau segala macam analisis. Kamu hanya cukup memilih Borrower yang kamu yakini berdasarkan sistem mitigasi yang sudah disediakan oleh penyelenggara P2P Lending.

Risiko P2P Lending


Dalam berinvestasi, konsep yang tidak pernah hilang yakni “semakin banyak return yang diperoleh, maka semakin tinggi pula tingkat risiko yang didapat”. Jadi, P2P Lending memiliki tingkat risiko tinggi yang menurut saya menyerupai Saham.

Oke, saya ingatkan lagi, P2P Lending adalah investasi berisiko tinggi.

Risiko yang paling memungkinkan terjadi yaitu ketidakmampuan Borrower untuk membayar atau mengembalikan dana yang dipinjamnya (gagal bayar) dan telat bayar. Namun hal ini bukan berarti tidak ada cara untuk meminimalisir risiko.

Minimalisir Risiko (Mitigasi) P2P Lending


Mengingat P2P Lending tergolong investasi risiko tinggi, pihak penyelenggara tentu tidak mau bila calon Lender merasa was-was untuk menginvestasikan dananya, karena tentu akan mengganggu bisnis P2P Lending.

Sehingga, berbagai macam cara dilakukan oleh penyelenggara P2P Lending untuk mengamankan uang para Lender. Cara yang dilakukan berupa menerapkan sistem Credit Scoring, agunan, asuransi, dan TKB90.

Credit Scoring

Sistem Credit Scoring ini adalah cara pihak penyelenggara P2P Lending menganalisis dengan formula internal agar bisa memberikan informasi kepada Lender tentang seberapa besar risiko gagal bayar atau telat bayar oleh Borrower tersebut.

Masing-masing penyelenggara P2P Lending memiliki formula dan pola Credit Scoring tersendiri, umumnya mereka menggunakan simbol A, B, C, dan D sebagai cara mereka memberitahukan tingkat risikonya. Semakin rendah (kekanan) scorenya, maka semakin berisiko pendanaannya.

Sejauh ini, saya melihat penyelenggara P2P Lending yang memiliki sistem Credit Scoring yang paling akurat adalah Investree dan Amartha.

Agunan

Beberapa penyelenggara P2P Lending mewajibkan agunan bagi para Borrower, hal ini dilakukan semata-mata untuk mengurangi kerugian Lender bila terjadi gagal bayar oleh Borrower.

Contoh penyelenggara P2P Lending yang mewajibkan agunan bagi Borrower adalah Akseleran.

Asuransi

Beberapa penyelenggara P2P Lending menyediakan fitur asuransi pendanaan bilamana Borrower gagal bayar. Fitur ini sifatnya opsional, Lender boleh menggunakan ini atau tidak menggunakannya.

Contoh pnyelenggara P2P Lending yang menyediakan asuransi pendanaan adalah Amartha. Amartha menggandeng Jamkrindo sebagai pihak pengansuransi pendanaan dari lender dengan benefit akan mengembalikan dana sebesar 80% dari dana yang gagal bayar.

Untuk memanfaatkan fitur ini, kamu diwajibkan membayar premi sebesar 1% darpi pendanaan yang kamu berikan.

TKB90

TKB90 adalah ukuran tingkat keberhasilan penyelenggara P2P lending dalam menfasilitasi penyelesaian kewajiban pinjam meminjam dalam jangka waktu sampai dengan 90 hari terhitung sejak jatuh tempo.



Fitur TKB90 ini merupakan fitur yang diwajibkan oleh OJK sebagai bentuk transparasi tingkat keberhasilan dalam mengembalikan dana Lender secara utuh. Semakin tinggi nilai TKB90 maka akan semakin baik.

Nah, itu saja yang bisa saya ulas tentang P2P Lending. Pada artikel selanjutnya saya akan membahas lebih dalam tentang bagaimana memilih Platform P2P Lending terbaik dari sekian banyak P2P Lending yang terdaftar dan bagaimana strategi berinvestasi pada P2P Lending.

POSTINGAN TERKAIT

Komentar

  1. […] Untuk yang belum tahu apa itu P2P Lending dan bagaimana cara kerja investasi ini, silahkan terlebih dahulu membaca artikel: P2P Lending (Peer-to-Peer Lending): Cara Kerja, Keunggulan, dan Risiko […]

    BalasHapus
  2. […] Baca: P2P Lending (Peer-to-Peer Lending): Cara Kerja, Keunggulan, dan Risiko […]

    BalasHapus
  3. […] Baca: P2P Lending (Peer-to-Peer Lending): Cara Kerja, Keunggulan, dan Risiko […]

    BalasHapus