Memahami Produk Deposito: Bagi Hasil, Keuntungan dan Kerugian Deposito

Sejauh ini, saya baru mencoba 1 produk deposito dari bank BNI syariah. Melalui deposito ini, imbal hasil yang saya dapatkan cukup menarik, yakni rata-rata Rp 60.000 sampai Rp 100.000 tiap bulannya.

Sebenarnya, apa itu deposito? Kalau sederhananya, deposito ini adalah produk bank yang menghimpun dana masyarakat dengan perjanjian bagi hasil. Jadi kalau kita mendepositokan uang misalkan Rp 1.000.000, maka tiap bulan kewajiban bank untuk membayar bagi hasil sesuai persentase perjanjian ke kita tiap bulannya.

Menurut OJK, pengertian deposito adalah simpanan yang pencairannya hanya dapat dilakukan pada jangka waktu tertentu dan syarat-syarat tertentu. Artinya tiap uang yang kita depositokan, tidak serta merta bisa dicairkan mendadak kapan diperlukan, namun harus sesuai jangka tenor yang kita sepakati.

Pencairan dana deposito tidak mutlak tidak bisa dicairkan, bila kamu ingin mencairkan sebelum habis masa tenor, kamu bisa dikenakan biaya pinalti. Namun hal ini tidak berlaku di sebagian besar deposito syariah.

Itulah yang paling membedakan antara tabungan biasa dengan tabungan deposito. Selain hanya dapat dicairkan setelah jangka waktu berakhir, deposito memiliki karakteristik bila tidak dicairkan maka akan diperpanjang secara otomatis atau automatic roll over (ARO). Deposito dapat dalam mata uang rupiah maupun dalam mata uang asing (deposito dollar).

Jenis-Jenis Deposito

Deposito Berjangka

  • Merupakan simpanan yang pencairannya dilakukan berdasarkan jangka waktu tertentu.
  • Umumnya mempunyai jangka waktu mulai dari 1, 3, 6, dan 12 sampai dengan 24 bulan.
  • Diterbitkan dengan mencantumkan nama pemilik deposito baik perorangan maupun lembaga.
  • Kepada setiap deposan diberikan bunga yang besarnya dan waktu pembayarannya sesuai dengan yang berlaku di masing-masing bank.
  • Pembayaran bunga deposito dapat dilakukan setiap bulan atau setelah jatuh tempo sesuai jangka waktunya.
  • Pembayaran dapat dilakukan secara tunai maupun non tunai (pemindahbukuan).
  • Kepada setiap deposan dengan nominal deposito tertentu dikenakan pajak penghasilan dari bunga yang diterimanya.
  • Pencairan deposito sebelum jatuh tempo umumnya dikenakan denda.

Sertifikat Deposito

  • Merupakan simpanan yang diterbitkan dengan jangka waktu 1, 3, 6 dan 12 bulan.
  • Sertifikat Deposito diterbitkan atas unjuk dalam bentuk Sertifikat, tanpa mencantumkan nama pemilik deposito.
  • Sertifikat Deposito dapat diperjualbelikan kepada pihak lain.
  • Pembayaran bunga Sertifikat Deposito dapat dilakukan di muka, tiap bulan atau pada saat jatuh tempo, baik tunai maupun non tunai.

Deposito on Call

  • Tabungan berjangka dengan waktu penyimpanan yang relatif singkat, minimal 7 hari dan paling lama hanya kurang dari 1 bulan.
  • Dikhususkan dalam jumlah yang besar.

Keuntungan Deposito

Berikut keuntungan deposito yang bisa kamu dapatkan.

Mendapat imbalan bagi hasil

Bila berbicara dalam perbankan syariah, keuntungan deposit yaitu mendapatkan bagi hasil yang besar dibanding dengan kita menabung biasa. Pihak bank akan menentukan persentase bagi hasil dari uang kita depositokan tergantung tenor deposit.

Keamanan uang terjamin

Sama halnya tabungan biasa, deposito juga mendapatkan jaminan keamanan oleh bank.

Resiko sangat kecil

Jika kamu tidak suka dengan resiko maka deposito adalah pilihan yang tepat. Karena jika gunakan uang kita sebagai modal usaha bisa saja kita mengalami kerugian. Namun dengan deposito ini resiko yang akan diperoleh cukup rendah, atau bahkan tidak sama-sekali.

Keuntungan bagi hasil mudah dicairkan

Keuntungan dari deposito dapat kita cairkan secara tunai dalam jangka waktu tertentu. Selain di cairkan secara tunai keuntungan bisa di transfer atau disetorkan ke rekening kita.

Salah satu investasi yang menguntungkan

Meski bagi sebagian orang menanggap ini bukan instrumen investasi, namun bagi saya ingin cocok untuk dijadikan alat investasi. Investasi uang dengan deposito kita tidak takut mengalami kerugian. Segala kerugian akan di jamin oleh lembaga penjamin simpanan. Berbeda jika kamu ingin berinvestasi di saham.

Salah satu pasif income yang mudah

Deposito dapat dijadikan sumber pasif income yang menguntungkan. Dimana kamu hanya perlu mendepositokan dana dan memperoleh imbal hasil sesuai besaran persentasenya.

Kelemahan Deposito

Dibalik keuntungan, ada juga kelemahan dari deposito yang perlu kamu ketahui.

Keuntungan kecil

Bila dibandingkan dengan tabungan biasa, tentu deposito bisa menghasilkan keuntungan yang lebih besar. Namun bila dibandingkan dengan instrumen investasi lain, deposito masih memiliki keuntungan yang kecil. Laba yang didapat dari deposito ini kadang tak sebanding dengan uang yang kita depositokan.

Misalnya saja kita deposito Rp 10.000.000 kita hanya mendapat bunga 5-6 persen saja. Sehingga dari modal deposito uang Rp 10.000.000 kita hanya bisa memperoleh laba sebesar Rp 40.000. Itupun belum dipotong pajak dan biaya administrasi lainnya. Berbeda dengan kita investasi saham yang mana kita dapat memperoleh keuntungan yang cukup besar.

Berbeda bila kamu mendepositokannya dalam jumlah besar, misalnya deposito 100 juta. Diprediksi kamu akan memperoleh laba sebesar Rp 500.000 tiap bulannya.

Ikut terkena inflasi

Perlu diingat, setiap tahun inflasi terjadi. Sehingga nilai uang kita depositokan sekarang akan mengalami penurunan nilainnya.

Hal ini disebabkan karena harga bahan pokok yang semakin hari semakin meningkat. Sehingga ketika hari ini kita deposito 100 juta, maka nilai uang 100 juta pada 2 tahun yang akan datang tidak akan sama dengan sekarang. ini yang menjadi kelemahan ketika ingin melakukan deposito.

Baca: Pengertian Inflasi, Jenis, Penyebab dan Cara Menghitung Inflasi

Dikenai biaya pajak

Deposito ini termasuk ke dalam pajak penghasilan (PPh). Sehingga wajib membayar pajak setiap tahunnya. Biaya pajak PPh ini lumayan besar yaitu 20%. Sehingga kita yang mendapatkan bunga tidak begitu besar akan di potong untuk membayar pajak juga.

Namun pajak diposito hanya berlaku untuk dana diatas Rp 7.500.000. Bila dana yang kamu depositokan kurang dari Rp.7.500.000 maka kamu terbebas dari potongan pajak.

Ada biaya penalti

Selain pajak, ada juga yang namanya biaya pinalti. Biaya pinalti ini dikenakan jika kita menarik deposito kita belum tanggal jatuh tempo. Namun biaya pinalti tidak berlaku pada deposito syariah.

Nilai investasi tidak bertambah

Ketika kita memutuskan untuk mendepositokan uang maka kita tidak ada cara apapun yang bisa meningkatkan nilai dari investasi kita. hal ini disebabkan karena kita tidak terlibat dalam pengelolaan uangnya. Jadi kita tidak bisa menargetkan adanya tambahan dana untuk investasi selain dari laba yang diberikan oleh bank.

Cara Menghitung Laba Deposito

Saya tidak ingin menyebutkan laba sebagai bunga, karena konsep deposito yang saya jalani hanya deposito syariah dengan sistem bagi hasil. Sedangkan deposito bank konvesional menggunakan bunga sebagai laba yang didapat dari deposito.

Pada bank konvesional, besaran bunga ditentukan oleh Lembaga Penjamin Simpanan. Tidak boleh lebih besar dari yang ditetapkan oleh Lembaga Penjamin Simpanan. Untuk lebih jelasnya kamu bisa mengecek di situnya langsung disini.

Untuk deposito konvesional, cara menghitung laba menggunakan rumus seperti ini:

Bila nilai depositonya kurang dari RP. 7.500.000
Laba deposito = jumlah uang simpanan x bunga per tahun x tenor : 12

 

Bila nilai depositonya sama atau lebih dari RP. 7.500.000
Laba deposito = jumlah uang simpanan x bunga per tahun x 80% x tenor : 12

Catatan: Kenapa 80%? karena 20% telah dipotong pajak.

Contoh kasus:

Budi dan Ani adalah teman karib yang hendak mendepositokan uang mereka. Nilai dana yang mereka depositokan berbeda, Budi mendepositokan dana sebesar Rp 5.000.000, sedangkan Ani Rp 10.000.000.

Mereka ingin menyimpan dananya di deposito dengan tenor 3 bulan. Bunga yang ditetapkan oleh bank untuk deposito dengan jangka waktu 3 bulan adalah 7,5%.

Belum genap 3 bulan dana mereka tersimpan dalam rekening deposito, mereka ingin mengkalkulasi laba yang akan didapatnya dari penyimpanan dana mereka. Perhitungannya dapat dilakukan secara sederhana dengan menggunakan rumus diatas.

Perhitungan laba deposito milik Budi:
Pendapatan laba deposito (per bulan) = Rp 5.000.000 x 7,5% x 3 : 12 = Rp 93.750

 

Perhitungan laba deposito milik Ani:
Pendapatan bunga deposito (per bulan) = Rp 10.000.000 x 6% x 3 : 12 = Rp 150.000

Bagaimana dengan deposito syariah? Saya sebenarnya belum tahu pasti bagaimana deposito syariah menghitung labanya. Saya rasa metode perhitungannya berbeda.

Misalnya begini, uang Rp. 200.000.000 yang kita depositokan melalui bank Syariah, maka bank Syariah akan memutar uang Rp.200.000.000 untuk pembiayaan tertentu sesuai akad syariah. Lalu hasil keuntungannya akan dibagikan kepada pemilik deposito sebesar persenan bagi hasil yang disepakati. Tapi ini masih prediksi saya, belum pasti.

Untuk mengetahui taksiran bagi hasil bank syariah, kamu bisa menggunakan perhitungan simulasi milik bank BNI Syariah.

Cara Deposito

Kamu bisa langsung datang ke bank untuk mendepositokan langsung uangmu. Bahkan sekarang beberapa bank sudah bisa melakukan deposito langsung melalui aplikasi mobile banking, tidak perlu harus ke Bank. Kalau membuat deposito dari mobile banking, kamu tidak memerlukan bilyet fisik lagi, karena semua serba digital.

Beberapa bank memiliki syarat yang berbeda-beda, dibawah ini saya tampilkan syarat-syarat deposito dari berbagai bank.

Bank Setoran Minimun Syarat
Deposito BCA Rp 8.000.000
  • Melengkapi dan menandatangani formulir permohonan.
  • Membawa dan menyerahkan fotokopi identitas diri yang masih berlaku, KTP/Passport dan NPWP untuk warga negara Indonesia serta KITAS/ Passport untuk WNA
  • Memenuhi setoran awal minimum.
Deposito BRI Rp 10.000.000 (melalui unit kerja)

Rp 5.000.000 (melalui m-banking)

  • Memiliki tabungan atau giro BRI.
  • Melengkapi dan menandatangani formulir permohonan.
  • Membawa dan menyerahkan fotokopi identitas diri yang masih berlaku, KTP/Passport dan NPWP untuk warga negara Indonesia serta KITAS/ Passport untuk WNA
  • Memenuhi setoran awal minimum.
  • Biaya materai.
Deposito Mandiri Rp 10.000.000 (melalui unit kerja)

Rp 1.000.000 (melalui m-banking)

  • Memiliki rekening Mandiri Tabungan atau Mandiri Giro.
  • Memenuhi minimum setoran.
  • Perorangan:
    – Warga Negara Indonesia : KTP dan NPWP.
    – Warga Negara Asing : Paspor dan KIMS / KITAS / KITAP (Kartu Ijin Menetap Sementara / Kartu Ijin Tinggal Sementara).
  • Perusahaan:
    – KTP pejabat yang berwenang.
    – SIUP, NPWP, akte pendirian perusahaan dan perubahannya yang terakhir.
  • Biaya meterai pada saat pembukaan dan pencairan deposito sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Deposito BNI Rp 10.000.000
  • Mengisi formulir aplikasi pembukaan rekening.
  • Menunjukkan asli bukti identitas diri (KTP/SIM/Paspor) atau Badan Usaha/Hukum (bukti Legalitas) dan menyerahkan foto copy bukti identitas/legalitas dimaksud.
  • Melakukan setoran untuk pembukaan rekening.
Deposito CIMB Niaga Rp 8.000.000
  • Mengisi dan menandatangani formulir pembukaan rekening.
  • Kartu identitas yang masih berlaku ( KTP, Paspor dan KIMS/KITAS).
Deposito BTN Rp 1.000.000
  • Rekening dapat berlaku untuk Warga Negara Indonesia (WNI ) maupun Warga Negara Asing (WNA)
  • Mengisi dan menandatangani formulir pembukaan rekening
  • Wajib melampirkan KTP/SIM/Pasport/KTA/KITAS/KITAP dan NPWP
  • Rekening dinyatakan aktif dan bisa digunakan secara efektif setelah disetujui dan diaktifkan oleh Bank sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Bank
Deposito Bank Mega Rp 8.000.000
  • Nasabah Perorangan : Kartu identitas: KTP/KITAS.
  • Nasabah Non Perorangan:
    – NPWP
    – Akte Pendirian, Anggaran Dasar dan Akte Perubahan Perusahaan.
Deposito BNI Syariah Rp 1.000.000
  • Kartu Identitas Asli (KTP/Paspor) untuk Nasabah Perorangan.
  • Legalitas Perusahaan untuk Nasabah Perusahaan.
  • Biaya Materai.
Deposito BRI Syariah Rp 2.500
  • Untuk nasabah perorangan fotokopi KTP dan NPWP
  • Untuk nasabah non-perorangan, melampirkan dokumen sesuai dengan ketentuan yang berlaku di BRIsyariah
  • Memiliki produk Tabungan Faedah BRIsyariah iB/Giro BRIsyariah iB
Deposito Mandiri Syariah Rp 2.000.000
  • Perorangan: KTP dan NPWP
  • Perusahaan:
    – KTP Pengurus
    – Akte Pendirian dan Akte Perubahan Perusahaan berikut Pengesahan Perusahaan
    – Anggaran Dasar Perusahaan
    – SIUP, TDP/Ijin usaha dari instansi yang berwenang, NPWP, SK.Domisili
  • Biaya materai.
Deposito Danamon Rp 8.000.000
  • Menunjukan identitas asli yang masih berlaku (KTP/SIM/Paspor).
  • Menunjukkan asli dan menyerahkan fotokopi SIUP/NPWP/TDP/Akta Pendirian perusahaan/dokumen lain (untuk Non Perorangan).
  • Mengisi formulir pembukaan rekening.
Deposito MayBank Rp 10.000.000
  • Perorangan: Fotokopi KTP/Paspor/KITAS/ KITAP
  • Perusahaan:
    – Fotokopi KTP/Paspor/KIMS/KITAS
    – Fotokopi NPWP
    – Akte Pendirian Perusahaan dan Perubahannya
    – Tanda Daftar Perusahaan
    – Surat Ijin Usaha Perdagangan

Kenapa saya memilih deposito?

Selain untuk memperkaya portofolio investasi saya, deposito saya gunakan pada dana darurat yang menganggur. Ketimbang disimpan pada tabungan biaya, lebih baik dana darurat saya simpan dalam bentuk deposito saja, lumayan buat nambah-nambah pasif income.

By the way, saya hanya menggunakan deposito dari bank Syariah, alasannya tentu demi hati tentram dan sebisa mungkin menghindari riba.

Kamu bisa mempelajari tentang dana darurat di artikel Tips Cara Mengelola / Mengatur Keuangan dengan Benar. Dan baca juga Pengalaman Deposito Uang Rp 20 Juta Di Bank BNI Syariah.

One Reply to “Memahami Produk Deposito: Bagi Hasil, Keuntungan dan Kerugian Deposito”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *