Apakah Saya Masih Berinvestasi pada Emas?

Sebenarnya bagi saya istilah “investasi” pada emas sudah tidak relevan lagi, karena saya menganggap emas sudah bukan instrumen investasi lagi. Hal ini sesuai dengan kriteria yang menyatakan apakah instrumen tersebut bisa dikatakan investasi atau bukan.

Nah, apa saja kriteria itu? Mari simak list dibawah ini:

  1. Membutuhkan modal;
  2. Menghasilkan cash flow (aliran dana berkala);
  3. Merupakan pendapatan pasif;

Coba kita kupas satu persatu.

Apakah emas membutuhkan modal? Ya, tentu. Kita harus punya uang untuk membeli emas.

Apakah emas bisa menghasilkan cash flow? Saya pikir tidak ya, emas yang kita simpan tidak menghasilkan cash flow. Bila kita menyimpan emas seberat 100 gram, sepuluh tahun kemudian emas itu tidak berubah, tetap 100 gram, diam dan tidak bertumbuh. Yang berubah hanya harga pasar yang naik.

Apakah emas bisa menghasilkan pendapatan pasif? Kita menghasilkan uang dan mendapatkan untung bila kita menjual di kemudian hari (capital gain). Ini bisa disebut pendapatan pasif. Namun bila kita melakukan trading emas (jual-beli di waktu berdekatan demi mendapatkan return positif), jelas ini melanggar kaedah pendapatan pasif.

Lalu kenapa saya masih menulis kata “investasi emas” pada judul artikel? Ini sebenarnya lebih untuk mengeneralkan persepsi karena banyak orang yang menganggap emas adalah instrumen investasi.

Sama seperti orang menganggap bahwa deposito bukanlah instrumen investasi. Padahal menurut saya deposito adalah instrumen investasi, meskipun return yang didapat sangat kecil. Namun investasi sudah memenuhi 3 kriteria di atas.

Baca: Memahami Produk Deposito: Bagi Hasil, Keuntungan dan Kerugian Deposito

Kalau emas bukan investasi, lalu apa dong? Emas lebih pas disebut tabungan. Bagi investor, emas digunakan untuk mengamankan kekayaan dari ketidakpastian ekonomi (safe haven). Namun hampir semua investor besar tidak menganggap emas sebagai media investasinya.

Sebelum kita bahas lebih lanjut, kita perlu mengenai jenis-jenis transaksi emas yang dikenal di masyarakat.

  1. Emas perhiasan
    Jenis emas ini yang paling sering digunakan sebagai alat menabung orang tua kita zaman dulu. Jenis emas ini biasanya hanya mengandalkan surat bon atau kwitansi dari toko perhiasan yang dijadikan bukti bahwa emas-nya legal dan asli.
  2. Emas batangan
    Jenis emas yang sudah terstandar, diakui dunia, dikemas dalam sebuah kemasan yang ditandai dengan barcode. Emas batangan di Indonesia dikeluarkan oleh PT Antam. Emas tersebut dapat dibeli melalui online, di butik emas dan di toko perhiasan.
  3. Tabungan emas digital
    Jenis emas yang bisa dibeli mulai dari Rp 2000 melalui platform penjual emas. Sebenarnya ini adalah emas batangan yang kita simpan di perusahaan terpercaya. Hanya saja proses membelinya bisa dengan cara menabung atau dicicil. Silahkan baca artikel Investasi Emas Melalui Tabungan Emas Tokopedia.
  4. Trading emas
    Kita memperjual-belikan emas dalam bentuk nilai saja, tidak ada barangnya. Sama seperti trading forex.

Emas hanya menghasilkan keuntungan dari kenaikan harga, tidak ada cash flow yang didapat. Artinya tidak ada uang yang masuk secara berkala. Lalu apa yang menyebabkan emas naik harganya?

Ada empat faktor yang paling sering bikin harga emas naik.

Yang pertama, ketika instrumen investasi lain mengalami penurunan harga, banyak orang yang membeli emas sebagai safe haven (melindungi harta dari penurunan harga). Seperti masa wabah covid-19 ini, banyak ketidakpastian dari harga saham membuat permintaan emas pun meningkat. Ingat, ketika banyaknya permintaan dan ketersediaan barang terbatas, maka kenaikan harga bisa terjadi.

Yang kedua, emas berkolerasi negatif dengan mata uang dolar US (USD). Ketika USD turun, harga emas akan naik.

Yang ketiga, penurunan suku buka oleh Bank Sentral (BI). Logikanya begini, ketika suku bunga turun, orang tentu berpikir dua kali untuk depositokan uangnya ke bank. Buat apa mendepositokan uang kalau nilai uang tidak bertambah. Nah, sering dalam kondisi begini permintaan emas akan meningkat sebagai alat menabung pengganti deposito.

Yang keempat, inflasi. Ketika inflasi, harga emas dipastikan meroket. Emas dianggap salah satu mata uang global yang diakui di seluruh sudut dunia. Baca Pengertian Inflasi, Jenis, Penyebab dan Cara Menghitung Inflasi.

Apakah saya masih berinvestasi di emas?

Jawabannya masih, tapi lebih tepatnya saya menabung emas, bukan tujuan investasi.

Saya tidak lagi memberikan proporsi tertentu dalam hal menabung emas, tidak lagi menabung sekian persen tiap bulan untuk emas. Kalau dulu, saya menyisihkan Rp 500.000 sampai Rp 1000.000 untuk emas, karena sekarang saya fokus pada instrumen investasi lain yang menghasilkan cash flow.

Artinya setelah saya mengalokasikan dana untuk saham dan P2P Lending, kalau ada uang sisa baru saya masukin ke tabungan emas. Tabungan emas digital yang saya gunakan masih sama seperti dulu, yaitu tabungan emas Pegadaian.

Dalam pembahasan selanjutnya saya juga akan membahas tentang saham, P2P Lending dan pengalaman saya berinvestasi pada instrumen yang terkenal dengan resiko tingginya.

Kenapa dulu saya menyisihkan uang yang lumayan tiap bulannya untuk emas? Karena dulu saya belum memahami, apa sih goal saya dalam berinvestasi? apa betul saya berinvestasi hanya demi capital gain (kenaikan harga)?

Inilah kenapa ilmu finance tidak bisa belajar hanya seminggu dua minggu, perlu bertahun-tahun untuk kita mempelajarinya. Semakin banyak yang kita pelajari, semakin paham bagaimana kita memulai untuk berinvestasi.

Berapa tiap bulannya saya menabung emas?

Karena uang sisa dari alokasi investasi, paling saya nabung Rp 50.000 sampai Rp 100.000. Tidak tiap bulan saya tabung, tergantung ada tidaknya sisa alokasi.

Apakah saya masih merekomendasikan emas?

Meski bukan instrumen investasi, mungkin saya masih merekomendasikan kamu untuk menyimpan emas. Karena saya pikir emas adalah cara paling aman dan paling mudah untuk menyimpan harta.

Kalau memang kamu masih ragu berinvestasi pada deposito, reksadana, P2P Lending, dan saham. Kamu bisa memulainya dengan menabung emas saja dulu.

One Reply to “Apakah Saya Masih Berinvestasi pada Emas?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *