Apakah Bitcoin (Cryptocurrency lainnya) Termasuk Instrumen Investasi?

Sebelum saya membahas apakah Bitcoin atau Cryptocurrency lainnya pantas disebut instrumen investasi atau tidak, kita harus mengenal terlebih dahulu apa itu Bitcoin dan bagaimana legalitasnya.

By the way, beberapa hari lalu saya baru menyelesaikan sebuah tool yang dapat membantu orang-orang untuk mengetahui kode pos dari sebuah alamat. Silahkan dicoba tool kode pos ini, siapa tahu bermanfaat juga untuk kamu.

Menurut Wikipedia, Bitcoin (BTC) adalah sebuah uang elektronik yang dibuat pada tahun 2008 oleh Satoshi Nakamoto. Ia mempublikasikan paper akademis sebanyak sembilan halaman yang berjudul: “Bitcoin: A Peer to Peer Electronic Cash System.” Paper tersebut dianggap sebagai sumber awal terciptanya Cryptocurrency.

Transaksi pertama yang menggunakan Bitcoin terjadi pada tanggal 22 Mei 2008. Kala itu, Laszlo Hanyecz membeli dua pizza Papa John dan membayarnya dengan 10 ribu Bitcoin. Sebagai info, harga 1 Bitcoin saat ini adalah Rp 139 juta. Bayangkan saja dulu 2 potong pizza dibeli dengan harga 10 ribu Bitcoin.

Bitcoin dan mata uang Cryptocurrency lainnya, disebut sebagai aset kripto, kini sudah bisa diperdagangkan di bursa berjangka komoditas Indonesia, setelah Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditas (Bappebti) menerbitkan Peraturan Bappebti No 5 tahun 2019 pada 8 Februari 2019.

Keberadaan Bitcoin di Indonesia memang sudah mendapat lampu hijau dari Bappebti. Akan tetapi, BI dan OJK tetap melarang penggunaan mata uang kripto sebagai alat pembayaran di Indonesia.

Kalau kita ingin menilai apakah Bitcoin dianggap sebagai instrumen investasi atau bukan, maka terlebih dahulu kita harus mengetahui pengertian investasi dan kriteria-kriterianya.

Bila dari pengertian dan kriterianya tidak terpenuhi, maka sebuah instrumen yang menghasilkan uang belum bisa dikatakan sebuah investasi. Ya, meskipun saya tahu banyak asumsi berbeda mengenai pengertian investasi itu sendiri.

Menurut Warren Buffet, sebuah instrumen bisa dikatakan bagian dari investasi bila instrumen tersebut dapat menghasilkan cash flow di masa yang akan datang secara pasif. Jadi bila kita tarik kesimpulannya, investasi adalah suatu tindakan penanaman uang atau modal yang diharapkan bisa menghasilkan cash flow (aliran uang) di masa depan secara pasif.

Maksud dari menghasilkan uang secara pasif artinya tanpa bekerja kita bisa menghasilkan uang. Bila kita harus bekerja untuk menghasilkan uang, itu namanya gaji atau keuntungan bisnis, nah itu bukan pendapatan pasif (pasif income), melainkan pendapatan aktif.

Supaya lebih mudah kriteria tersebut akan saya jadikan sebuah list:

  1. Modal / uang
  2. Menghasilkan cash flow
  3. Dikelola secara pasif

Mari kita lihat, apakah Bitcoin memenuhi 3 kriteria diatas?

Pertama, modal. Untuk mendapatkan Bitcoin, sudah pasti kamu diharuskan memiliki uang agar dapat ditukarkan dalam bentuk Bitcoin. Dalam hal ini, Bitcoin memenuhi kriteria pertama.

Kedua, apakah Bitcoin bisa menghasilkan cash flow? Jawabannya tidak. Bitcoin tidak bisa menghasilkan cash flow. Bitcoin akan menghasilkan keuntungan apabila ketika kita membeli tahun ini dengan harga tertentu, diharapkan tahun depan harga Bitcoin akan naik.

Dari sifat ini, Bitcoin bukan produk yang produktif. Bahkan untuk digunakan sebagai simpanan kekayaan saja tidak cocok. Alasan karena sifat Bitcoin yang sangat fluktuatif.

Sifat yang terlalu fluktuatif dikarenakan Bitcoin sangat tergantung dengan kepercayaan masyarakat. Selain itu, tidak adanya satu pun entitas yang mengontrol harga Bitcoin. Harga Bitcoin ditentukan oleh semua orang yang memiliki Bitcoin (berapapun jumlahnya).

Jika kamu memiliki Bitcoin saat ini, kamu termasuk salah satu orang yang menentukan harga Bitcoin. Jika kamu tiba-tiba menjual semua Bitcoin kamu, maka harga akan bergerak turun (karena penawaran/supply kini bertambah). Begitu juga jika kamu tiba-tiba ingin membeli banyak Bitcoin, kamu telah berkontribusi pada jumlah permintaan (demand) Bitcoin, sehingga harga akan bergerak naik.

Sekarang, bayangkan ada jutaan orang yang memiliki Bitcoin di dunia dengan harga jual dan harga beli yang berbeda-beda.

Dengan mengumpulkan mereka semua, kamu akan mendapatkan nilai tengah pasar antara harga permintaan dan harga penawaran. Itulah harga Bitcoin pada saat itu.

Nah, mari kita kembali ke kriteria investasi. Ketiga, apakah Bitcoin dapat dikelola secara pasif? Tentu bisa, setelah kamu membelinya, lalu kamu menyimpannya secara bertahun-tahun hingga harga jual Bitcoin bisa menguntungkanmu.

Sayangnya, dari 3 kriteria tersebut, 1 kriteria tidak terpenuhi untuk Bitcoin. Dengan begitu saya pribadi menganggap Bitcoin bukanlah bagian dari instrumen investasi. Begitupun halnya dengan valas.

Lalu ada pertanyaan, apa bedanya dengan emas? Kan emas juga tidak bisa menghasilkan cash flow? Betul, secara kriteria emas juga tidak memenuhi kriteria investasi, namun balik lagi ke pandangan tiap orang tentang apa itu investasi.

Memahami instrumen investasi memang membutuhkan pembelajaran yang panjang, dulu saya masih menganggap semua instrumen yang memiliki nilai di masa depan adalah investasi. Ternyata itu pemahaman yang mungkin agak keliru, karena tidak semua yang memiliki nilai kapital di masa depan bisa disebut investasi, itu menurut bapak saham dunia, Warren Buffet.

Bagi saya trading forex, emas, dan lain-lain bukan juga investasi, melainkan sebuah pekerjaan yang dilakukan oleh trader untuk menghasilkan uang. Artinya mereka sedang melakukan pekerjaan aktif.

Pertanyaan terakhir, menurut kamu apakah rumah yang kita tempati sendiri termasuk instrumen investasi? Silahkan jawab di kolom komentar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *