Kenapa Generasi Milenial Hobi Menghabiskan Uang?

Beberapa tahun belakangan kita sering mendengarkan istilah generasi milenial, bahkan lama kelamaan istilah generasi milenial kian familiar di telinga kita. Tapi sebenarnya apa sih arti dari generasi milenial?

Dalam beberapa literatur, katanya sih generasi milenial itu istilah bagi generasi Y, yakni orang yang lahir rentang tahun 1981-1996. Sementara yang lahir 1997 keatas disebut generasi Z.

Kedua generasi ini menurut saya tidak jauh berbeda. Mereka sama-sama terbiasa dengan digital, suka dengan traveling, suka ikut model, dan shopping.

Yang menariknya, generasi Z cukup dikenal sebagai kaum yang sangat multitasking, mampu melakukan 2-3 pekerjaan sekaligus dalam waktu bersamaan. Multitasking ini bisa muncul karena kebiasaan dan budaya, maka generasi Z memang handal dalam urusan beginian.

Karena sering kali sulit dibedakan, akhir-akhir ini kedua generasi ini disebut juga sebagai generasi milenial. Meskipun dianggap sebagai generasi yang unggul dibidang teknologi, ternyata generasi ini juga dianggap sebagai generasi yang paling doyan menghabiskan uang. Ya, generasi milenial memang sudah terjangkit yang namanya virus konsumtif.

Yuk coba lihat disekitar kita. Lihat teman-teman disekitar, rela ajukan pinjaman online demi membeli smartphone keluaran terbaru, rela menghabiskan seluruh gaji demi shopping diskonan, demi ngopi di starbuck, sampai-sampai uang makan sehari-hari saja harus ngutang dulu ke teman gara-gara saldo “0”.

Generasi milenial lebih memilih menghabiskan gaji bulanan hanya untuk sebuah pengakuan bahwa ia telah memenuhi standar lifestyle masa kini, dibandingkan hidup dengan goal kebebasan finansial dimasa depan.

Kebiasaan ini semakin diperparah ketika hasrat mengisi konten Instagram dengan jalan-jalan ke Eropa, pakai baju branded, dan nongkrong di cafe mahal. Sampai-sampai kita mikir, rupanya generasi kita adalah generasi yang hobi pamer dan ingin terlihat hebat.

Dalam survei Jakpat 2017, ternyata 23% generasi milenial menggunakan kartu kredit untuk jalan-jalan ke tempat wisata. Tren ini semakin lama semakin meningkat, tapi sayangnya tidak semua yang traveling ke kota atau negara tertentu memang ingin belajar tentang budaya atau sejarah setempat, keinginan ini lebih karena pengaruh influencer atau teman-temannya sendiri.

Satu hal yang bisa kita pelajari bersama, ternyata saat generasi milenial traveling, tujuannya bukan cuma mencari hiburan atau karena punya jiwa pertualangan yang tinggi, tapi lebih karena ingin terlihat eksis dan populer di kalangan inner circle. Perilaku seperti ini sering disebut dengan istilah “demi konten”.

Kenapa budaya “demi konten” sulit dihilangkan dari generasi milenial? satu satunya jawaban yang paling mendekati fakta adalah sikap kepo yang berlebihan terhadap akun-akun influncer. Media sosial punya peran penting dalam memengaruhi keinginan, salah satunya jalan-jalan. Dan untuk memenuhi kebutuhan tren satu ini, generasi milenial banyak yang akhirnya menggunakan fasilitas kartu kredit.

Menurut data Alvara Riset Center, bahwa milenial Indonesia merupakan internet addict, milenial bisa menghabiskan lebih dari 7 jam sehari untuk internetan. Internet addict pernah menjadi tema skripsi saya ketika sedang menempuh pendidikan. Tidak main-main loh, gangguan ini bisa digolongkan sebagai gangguan mental.

Kalau dipikir-pikir, buat apa kita menghabiskan segitu banyak waktu di internet? paling hanya untuk ngecek berita ter-update dari akun-akun lnstagram influencer favorit atau mungkin akun gosip kesayangan. Kita memang bagian dari generasi milenial yang menguasai teknologi, tapi segala sesuatu ada batasannya.

Coba bayangkan, saat jam-jam produktif, kita habiskan hanya untuk sekadar urusan kepoin akun orang lain, lalu terbawa arus untuk ikut tren. Belum lagi informasi hoaks yang menjamur tidak jelas asal-usulnya. Informasi yang tidak jelas ujung-ujungnya malah jadi penyebar gosip, dan gosip bisa menjadi fitnah, sementara fitnah dan ujaran kebencian bukan sesuatu yang baik untuk karakter kita.

Belum selesai dengan masalah menghabiskan uang untuk traveling, generasi milenial juga dihadapkan dengan kebiasaan lain yang juga menghabiskan uang. Dalam sebuah penelitian dikatakan, 30,7% generasi milenial Indonesia setidaknya dua kali dalam seminggu pergi ke mal, cafe atau hangout bareng teman-teman.

Kalau dihitung, setiap hangout menghabiskan uang Rp 100 ribu, artinya tiap bulan generasi milenial paling tidak menghabiskan uang Rp 800 ribu.Perhitunganya bila hangout dilakukan semingu dua, seandainya tiga kali seminggu? atau tiap hari?

Tentu itu hitungan kasar, karena besar kecilnya uang yang dikeluarkan tergantung lokasi, kota dan kebiasaan. Namun, angkat tersebut bisa menjadi gambaran bahwa kita sebagai generasi milenial memang doyan menghabiskan uang.

Ada sebuah penelitian yang dilakukan lembaga independen, Provetic Indonesia, sebanyak 41% dari 7.809 respondennya sebagian besar generasi milenial lndonesia. Nah, dari mereka ini akhirnya diketahui kalau alasan utama mereka untuk menabung, ya buat membeli tiket konser.

Padahal harga tiket untuk sebuah konser bisa di atas 2 juta rupiah, dan ini dilakukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan tren menonton konser. Ya, menurut milenial menonton konser merupakan bagian dari mencari pengalaman sehingga tak tanggung-tanggung uang berapa pun akan dikeluarkan.

Ada salah satu artikel pendek di sebuah situs online yang menyatakan, “Seorang fans rela menjual organ tubuhnya demi menonton konser 5SOS”.

Sumber kompas.com

Tidak hanya itu saja, ada pula sebuah film pendek yang menggambarkan seorang remaja yang ingin menonton konser musisi idolanya, tapi terkendala dana, sementara teman-teman sekelasnya sudah punya tiket konser. Akhirnya apa yang terjadi? Ia rela menjual diri senilai harga tiket konser tadi. Barangkali bahasan kita terlalu jauh dan menyeramkan, ya.

Tapi kalau dipikir-pikir tidak juga. Mungkin kejadian itu hanya ada di film-film saja, tapi tidak ada yang tahu dengan pasti apa yang terjadi di luar sana, bisa jadi demi memenuhi kebutuhan tren, ada juga yang melakukan hal sama atau lebih buruk dari itu.

Karakter konsumtif juga banyak dijumpai saat pembelian gadget dengan cara menyicil. Begitu lihat Apple mengeluarkan seri terbaru, kita buru-buru cek harganya dan ingin menjadi orang pertama yang menggunakannya di lingkungan kita.

Jika diteliti dengan baik, kita akan menemukan sebuah realitas, ternyata semakin tinggi seri gadgetnya, semakin mahal harganya, maka semakin tinggi keinginan si pengguna untuk show off.

Nah, dari semua hal yang sudah saya uraikan diatas, harusnya kita bisa bisa menyadari untuk tidak ikut-ikutan terjerumus sebagai milenial konsumtif, harusnya menjadi milenial yang produktif. Lantas, bagaimana caranya menjadi milenial yang produktif?

Jadi, satu hal yang perlu disadari, kita harus bisa membedakan antara kita memang lagi butuh atau kita cuma sekadar pengen. Yang namanya kebutuhan sesaat (wants) akan menciptakan impulsive buying, cara menandainya mudah sekali. lmpulsive buying itu adalah ketika pengeluaran terjadi tanpa kita rencanakan sebelumnya. Mari kita lihat contohnya dibawah ini.

Setelah makan siang di mall, kita melewati sebuah Sports Station store yang punya info bertuliskan sepatu Nike diskon 60%. Kaki yang melewati store mendadak berhenti, bukan cuma berhenti, kita seperti dipaksa masuk ke dalam, mencari mana nih sepatu Nike yang lagi diskon tadi. Padahal, sebenarnya kita tidak butuh-butuh amat sepatu baru. Tapi berhubung baca tulisan diskon, kok jadi mendadak butuh.

Nah, itu salah satu contoh pengeluaran yang hanya sekadar wants bukan needs. Jadi penting sekali kita bertanya lagi pada diri sendiri. Benar tidak kita butuh barang ini? Perlu tidak kita mengeluarkan anggaran dadakan buat barang ini? Tanya lagi, tanya lagi berulang kali sampai kita benar-benar yakin, kalau ini memang barang yang dibutuhkan bukan cuma sekadar keinginan sesaat. Kalau cuma keinginan sesaat, dari pertanyaan berulang kali tadi, kita akhirnya bakal tahu jawabannya apa?

Kita selalu berharap, milenial mampu mengambil keputusan ketika akan mengeluarkan anggaran untuk suatu hal. Konsep needs dan wants akan selalu dibutuhkan kalau harus berhadapan dalam keputusan pelik tentang pengeluaran.

Well, sekarang, kita tinggal pilih, mau jadi milenial yang produktif atau konsumtif?

One Reply to “Kenapa Generasi Milenial Hobi Menghabiskan Uang?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *