Strategi Mengelola Domain Sebagai Aset Digital

Ilmu manajemen rupanya penting sekali. Tidak hanya dimasalah finansial, tapi hampir dari segala aspek kita membutuhkan ilmu manajemen.

Sebagai informasi, sejak 2008 saya berkiprah di dunia digital marketing, saya lebih memfokuskan diri pada program Google Adsense, sebuah produk Google yang menyediakan cara bagi pemilik situs web untuk mendapatkan uang dari konten online mereka.

Google AdSense bekerja dengan mencocokkan iklan teks dan iklan bergambar dengan situs Anda berdasarkan konten dan pengunjung. Iklan tersebut dibuat dan dibayar oleh pengiklan yang ingin mempromosikan produk mereka. Pendapatan yang Anda peroleh merupakan bagi hasil antara anda sebagai pemilik situs web dan Google.

Berkiprah dalam program Adsense memaksa saya untuk memiliki banyak situs web berbagai macam niche. Saya sendiri fokus pada niche kecil dengan market yang kecil pula. Hal ini membuat saya memiliki listing domain yang mencapai 300 lebih domain.

Kenapa bisa sebanyak itu?

Saya bermain di niche kecil (atau orang lebih sering menyebutnya micro niche), persaingan tidak begitu ketat, namun pedapatan pun kecil. Untuk mencapai target pendapatan, saya membangun banyak situs web yang berniche kecil. Istilahnya, meski sedikit lama-lama menjadi bukit.

Ditambah lagi kebanyakan domain merupakan domain promo yang saya beli ketika datangnya masa promo.

Mereka yang bermain di program Google Adsense dengan menargetkan market micro niche, sudah terbiasa mengelola puluhan hingga ratusan situs web. Jadi ini bukan hal yang aneh lagi. Silahkan baca panduan Google Adsense agar anda lebih banyak memahami micro niche.

Sayangnya, dari sekian banyak domain saya, yang aktif hanya 10% saja. Selebihnya berstatus cancelled. Jangankan orang lain, saya sendiri pusing melihat daftar list domain yang begitu banyak. Bingung melihat mana domain yang mesti diprioritaskan dan mana domain yang harus diperpanjang dalam waktu dekat.

Setahun lalu saya bertemu dengan teman lama, dia baru menyelesaikan program masternya di bidang manajemen. Nah, rupanya perbicangan saya dengan dia sangat merubah pola manajemen pengelolaan domain saya.

Awalnya dia bertanya "masih aktif dengan Google Adsense?" ya, saya jawab masih. Ada yang tumbuh, ada yang tumbang, ada yang bahkan sampai lupa kalau saya pernah membuat blog ini, begitu seterusnya.

Dari sanalah muncul saran dari dia pola yang sebenarnya menyerupai portofolio aset. Dimana pola aset mengikuti pendapatan yang diterima. Tiga jam duduk sama dia serasa dapat 3 SKS ilmu manajemen tingkat dasar.

Tidak semua yang dia beritahukan bisa saya mengerti, terutama beberapa istilah terminologi yang begitu asing ditelinga saya. Jadi, esok harinya saya mengajak dia untuk ketemuan lagi agar bisa mengajarkan saya cara tata pengelolaan aset (bagi dia domain = aset) seperti yang pernah ia pelajari ketika di bangku kuliah.

Nah, baru dipertemuan kedua ini saya mulai paham dan menemukan arah bagaimana seharusnya saya mengelola domain saya sendiri.

Setelah saya menemukan konsep, hal yang saya lakukan adalah sebagai berikut.

Pertama yang saya lakukan adalah meminta pihak webhosting untuk menghapus list domain cancelled dan expired dari dasbor saya. Cukup tampilkan yang masih aktif saja. Supaya lebih mudah mengaturnya.

Kedua, saya meminta invoice perpanjangan tiap tanggal 3. Range pendapatan saya dari berbagai sumber berada pada tanggal 22 hingga tanggal 2 dibulan berikutnya. Jumlah akumulasi pendapatan disisihkan ke dalam bentuk biaya rumah tangga, investasi, dana darurat, asuransi, dan biaya perpajangan domain hosting.

Tujuan saya menjadwalkan perpajangan domain rutin pada tanggal 3, agar tidak mengganggu keuangan yang sudah saya pos-kan tiap bulannya.

Selama ini terkadang surplus terkadang limit. Penyebabnya karena ada bulan yang harus melakukan perpanjangan 3 domain sekaligus, dan ada bulan dimana saya tidak ada tagihan perpanjangan domain sama sekali. Rasanya terlalu fluktuatif, makanya kalau dibayar rutin, dapat dimasukkan ke dalam pengeluaran rutin.

Ketiga, hanya membayar satu domain tiap bulan, yang dibayar pada tanggal 3.

Loh, bagaimana saya membayar domain yang belum jatuh tempo?

Anda perlu tahu bagaimana aturan perpanjangan domain.

  1. Untuk domain aktif, anda tidak dapat mengubah tanggal masa aktif.

  2. Domain dapat diperpanjang meskipun belum masuk ke masa jatuh tempo.

  3. Perpanjangan domain mengikuti jadwal awal pendaftaran sebelumnya. Contoh, bila registrasi domain anda pada tanggal 1 januari 2019 s/d 1 januari 2020, lalu anda membayar perpanjangan di tanggal 1 maret 2019, maka domain akan diperpanjang masa aktifnya hingga 1 januari 2021.


Agar dapat membayar satu domain tiap tanggal 3 perbulannya, saya menerapkan strategi ini:

  1. Meminta invoice perpanjangan/tagihan domain sebelum bulan jatuh tempo. Misalnya:
    Domain abc.com jatuh tempo tanggal 5 juni 2019
    Domain def.com jatuh tempo tanggal 10 juni 2019
    Domain ghi.com jatuh tempo tanggal 15 juni 2019
    Maka saya akan meminta kepihak Webhosting untuk mengeluarkan invoice pada tanggal berikut:
    Tanggal 3 April 2019 untuk abc.com
    Tanggal 3 Mei 2019 untuk def.com
    Tanggal 3 Juni 2019 untuk ghi.com

  2. Menonaktifkan domain yang masuk kriteria eliminasi. Bagi saya, kriteria domain yang masuk dalam eliminasi:
    - Usia domain lebih dari 3 tahun namun statistik pengunjung kurang dari 100 pengunjung perbulan.
    - Domain yang mendapatkan nilai CPC yang rendah.

  3. Menargetkan hanya mengelola maksimal 12 domain saja.


Keempat, saya menyimpan daftar tanggal tagihan ke App Google Keep untuk mempermudah saya membayar tiap domain. Namun Anda juga dapat membuat tabel Excel yang berisi variable nama domain dan tanggal pembayaran, lalu sisipkan di meja kerja atau dinding.

Semenjak pengelolaannya seperti ini, efek positifnya selain berdampak pada pengelolaan keuangan yang semakin sehat, juga berdampak pada pengelolaan situs web yang semakin terurus karena kita mulai rutin untuk melihat satu persatu performa situs web yang kita miliki.

Banyak sekali metode konsep pengelolaan yang bisa kita terapkan, saya sendiri masih terus mencari sesuatu yang bisa mempermudah segala hal. Tidak hanya sebatas dalam pengelolaan domain.

Saya rasa pengelolaan domain seperti ini adalah hal yang sederhana dan dapat dilakukan oleh semua pelaku digital yang memiliki banyak domain. Namun masih banyak yang mengabaikannya, padahal impact yang didapatkan begitu pesar.

POSTINGAN TERKAIT

Posting Komentar