Selama Bertahun-Tahun Saya Salah Mengelola Keuangan

Belakangan ini, sempat pupoler tentang kaum milenial yang tidak mampu membeli rumah. Bahkan kompas.com pernah mengangkat topik yang dimana pada tahun 2021, generasi muda Indonesia sudah tidak bisa lagi membeli rumah di Jakarta.

Tidak ketinggalan juga, channel Skinnyindonesia24 juga pernah ikut mengangkat konten yang dimana anak milenial usia 25 tahun kebawah, tidak mampu membeli rumah. Benarkah begitu?

Baik, sebelum saya menjawabnya,  saya ingin sedikit bercerita tentang pengalaman kacaunya finansial saya.

Sedikit informasi, saat ini usia saya 28 tahun, memiliki seorang istri dan jagoan yang lucu. Yang ingin saya ceritakan adalah pengalaman beberapa tahun yang lalu.

Di usia 20 tahun adalah usia dimana saya pertama kali mendapatkan honor dari pekerjaan saya. Dulu saya ingat, saya mendapatkan pekerjaan untuk mendesain ulang sebuah situs pemerintahan.




Saat itu saya dibayar sekitar Rp 3 juta, jumlah yang sangat besar ketika itu. Tapi sayangnya, tidak sampai seminggu uang tersebut menguap tanpa sisa.

Perlahan-lahan, job saya semakin berkembang. Ditambah lagi insting digital marketing saya makin terasah. Saya mulai mendapatkan pundi-pundi rupiah dari berbagai sumber. Jadi secara otomatis pendapatan saya semakin mantap dari bulan ke bulan.

Lagi-lagi semua uang itu tidak tersisa sepeserpun. Entah kemana uang itu menguap.

Tahun 2015 keatas, dimana usia saya saat itu sekitar 24 tahun, menjadi tahun yang begitu fantasi buat saya. Saya mampu mengantongi banyak pendapatan yang bersumber dari internet. Tapi momen itu tidak saya manfaatkan dengan baik, sehingga banyak uang yang menguap secara percuma.

Kesalahan yang sama masih saya perbuat.

Tidak ada niat untuk berubah, bahkan setelah menikah pun saya masih menghamburkan uang untuk yang sifatnya konsumtif.

Kebiasaan saya dan istri sebelum tidur, sering bertukar pikiran tentang hal apapun. Baik itu tentang teknologi, film, medis, apapun itu. Jadi, malam itu kami coba diskusi tentang pengeluaran kami yang menghabiskan uang Rp 2 juta hanya dalam seminggu. Bukan untuk membeli barang, tapi habis untuk makan, jajan dan nongkrong di cafe tiap malam. Jauh dari itu, ketika masih lajang saya bahkan juga pernah menghabiskan uang Rp 20 juta hanya dalam waktu sebulan.

Nah, berawal dari diskusi malam itu mulailah kami tersadarkan bahwa ada yang salah dengan pengelolaan keuangan kami. Kalau terus berlanjut seperti itu, maka kemungkinan besar dimasa depan kami akan terus bermasalah dengan keuangan.

Sedikit demi sedikit mulai mencari apa yang menjadi kesalahan kami. Ya, kami temukan dimana letak kesalahannya.

Kami mulai merasa tidak ada visi misi kedepan, belum mampu meninggalkan kebiasaan buruk yang menghabiskan uang, dan tidak pernah berpikir untuk belajar berinvestasi. Yang lebih parah, kami tidak bisa membedakan antara “kebutuhan” dan “kemauan” ketika membeli sesuatu.

Boro-boro bicara soal investasi, bahkan tabungan pun tidak punya. Seolah-olah, ketika gaji masuk, maka wajib hukumnya untuk dihabiskan saat itu juga.

Selama bertahun-tahun saya telah salah mengatur keuangan, saya tidak mau belajar, merasa terlalu dini berpikir untuk berinvestasi.

Tahun 2018 kebawah merupakan masa yang begitu kelam dalam manajemen finansial keluarga saya. Tidak terpikirkan sama sekali untuk mengatur keuangan sebaik mungkin, demi menggapai kebebasan finansial dimasa datang.

Jadi kalau ada pertanyaan, benarkah kaum milenial kesulitan membeli rumah?

Jawaban dari saya, Ya.

Menurut pandangan pribadi saya, kebanyakan kaum milenial memiliki gaya hidup seperti saya yang dulu, sangat konsumtif. Bahkan tidak pernah terpikirkan sama sekali untuk menerapkan budaya investasi.




Parahnya lagi, tidak sedikit kaum milenial menghabiskan tabungan dan gaji untuk keinginan sesaat, seperti jalan-jalan keluar negeri atau ke daerah yang lagi nge-hits di Indonesia, beli gadget yang harganya puluhan juta, dan kongkow  tiap hari di coffee shop ternama.

Pengalaman bisa menjadi guru terbaik. Saya menyesal karena terlambat menyadari kalau saya berada diluar jalur. Namun, seperti kata pepatah, tidak ada kata terlambat untuk memulai kembali.

Pernyataan kaum milenial kesulitan atau tidak mampu membeli rumah tentu bisa dipatahkan, asalkan pendapatan yang dimiliki dapat dikelola dengan baik. Tidak hanya sekedar untuk mencukupi kebutuhan hidup, tapi juga dapat dialokasikan untuk dana investasi.

Sampai detik ini, saya masih tetap terus belajar mengenai manajemen finansial dan investasi. Melalui artikel ini, saya juga ikut mengajak anda untuk mengubah diri, mengubah kebiasaan lama yang konsumtif, dan peduli dengan masa depan.

Semoga kedepannya saya bisa bercerita tentang bagaimana saya menerapkan konsep manajemen finansial dan pengalaman investasi yang sedang saya jalani.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *