Pengalaman Ikut Tes CPNS 2018

Pada artikel kali ini, saya mau sedikit berbagi pengalaman saat saya mengikuti tes CPNS tahun 2018. Artikel ini tidak bermaksud mencari keuntungan dari jumlah pencarian yang besar dengan keyword CPNS 2018, tapi ini murni hanya berbagi pengalaman pribadi saya. Semoga dengan pengalaman saya ini, ada hikmah yang bisa diambil, atau ada pelajaran yang bisa dipetik.

Seperti yang kawan-kawan ketahui, tidak tiap tahun tes cpns itu dibuka, biasanya tes cpns dibuka berdasarkan kebutuhan formasi. Jika banyak PNS yang pensiun, maka akan dibuka, itupun setelah menimbang besaran anggaran belanja negara.

Yang saya ingat, tes CPNS untuk formasi dokter dibuka pada tahun 2008, 2014, dan sekarang 2018. Jadi kalau dilihat rentang waktunya, cukup lama juga tidak dibukanya tes CPNS untuk formasi dokter. Koreksi jika saya salah.

Saya menyelesaikan pendidikan pada akhir tahun 2015. Tahun 2016 saya wara-wiri di Jabodetabek untuk mencicipi segudang pengalaman. Sebagai dokter yang baru lulus, kami diwajibkan mengikuti program internship selama setahun yang diselenggarakan oleh Pemerintah. Kesempatan saya mengikuti internship datang pada bulan februari 2017. Saya memilih wahana internship di Jawa Timur, tepatnya di kabupaten Situbondo.

Singkat cerita, internship selesai tepat setahun kemudian, yaitu pada februari 2018. Sebagai dokter yang memiliki pengalaman dalam sistem informasi manajemen rumah sakit, saya mendapat tawaran dari RSU Cut Meutia untuk bergabung menjadi dokter sekaligus ikut mengembangkan SIMRS yang sedang dirintis oleh RSU Cut Meutia.

Sebagai informasi, RSU Cut Meutia merupakan sebuah rumah sakit milik pemerintah Kabupaten Aceh Utara yang terletak di wilayah Pemkot Lhokseumawe. Rumah sakit ini merupakan RS kelas B, dengan status rumah sakit pendidikan, dan memiliki penunjang yang saya pikir cukup memadai.

April 2018 akhir saya kembali ke Aceh bersama istri. Ngomong-ngomong, saya menikah di Jakarta pada Desember 2016. Wara-wiri di Jakarta malah ketemu calon istri.

Juni 2018 saya bekerja di RSU Cut Meutia sebagai dokter umum dan PJ instalasi SIMRS. Disana saya mulai bergaul dan bertukar pikir dengan banyak dokter spesialis yang memiliki segudang pengalaman. Dokter spesialis yang sering saya ajak diskusi diantaranya dr.Sayuti, Sp.B-KBD, dr.Ichwan,Sp.S, dr.Mawaddah, Sp.PD, dan dr.Rohaya, Sp.M.

Saya mendapat kabar dari Bapak saya kalau Pemerintah dalam waktu dekat ini akan membuka seleksi tes CPNS, “menurut kabar, formasi guru & kesehatan paling banyak diminta” sambung Bapak. Tapi awalnya kabar itu tidak begitu menarik buat saya, karena saya belum ada niat untuk langsung tes CPNS, karena saya pikir saya ini baru saja lulus pendidikan, masih newbie, kok langsung nyerocos ikut tes CPNS.

Masalah isu tes CPNS saya ceritakan ke dr.Sayuti. Dengan antusiasnya beliau cerita pengalaman beliau ketika baru selesai pendidikan, awal dari beliau jadi PNS hingga beliau menyelesaikan subspesialis-nya. Beliau menjadikan PNS sebagai batu loncatan untuk mengejar pendidikan yang lebih tinggi dan karir yang lebih oke.

Setelah mendengar pengalaman dr.Sayuti, ada hal yang berkecamuk dalam hati saya. Ada sesuatu yang sepertinya menjadi gairah baru, malamnya saya kepikiran, terngiang-ngiang diotak tentang hebatnya pengalaman dr.Sayuti.

Rasanya masih belum puas, saya pengen ngobrol lagi dengan dr.Sayuti. Lusanya saya cari beliau di poli, rupanya beliau sudah pulang. Pas saya ke kantin, saya bertemu dengan dr.Ichwan, kami pun berdiskusi ringan. Beliau pun beri masukan ke saya untuk menyegerakan ambil pendidikan spesialis, jika memang PNS dapat membantu pendidikan, maka ikutlah tes PNS kali ini. Maka hari itu, saya memutuskan untuk mendaftar CPNS 2018.

Saya ceritakan ke istri niat saya untuk ikut tes CPNS, istri setuju dan sangat mendukung. Maka malam itu saya cari informasinya di internet. Pembukaan CPNS belum dijadwalkan, tapi pasti dibuka, karena Pemerintah sudah mengatakan seperti itu.

Saya membekali diri, pertama-tama saya mencari bagaimana sistem tes CPNS itu. Ternyata tes menggunakan metode CAT (tes dengan komputer), metode tes yang sudah tidak asing bagi saya, karena ketika ujian kompetensi profesi dokter juga menggunakan komputer. Lalu saya mengetahui ternyata yang pertama diuji adalah SKD (Seleksi Kompetensi Dasar) yang terdiri dari TWK (Tes Wawasan Kebangsaan), TIU (Tes Intelejensi Umum), dan TKP (Tes Kemampuan Pribadi). Kedua TKB (Tes Kompetensi Bidang) sesuai dengan jabatan formasi masing-masing.

Sambil menunggu kapan pengumuman resmi tes CPNS dibuka, saya mempersiapkan diri dengan belajar materi SKD yang saya download dari berbagai sumber di internet.

Sebagai seseorang yang aktif bekerja di rumah sakit dan seorang kepala rumah tangga, tentu saya harus berbagi waktu antara membantu istri dalam urusan rumah tangga, pekerjaan, dan membantu Barra terlelap (jagoan saya yang berumur 4 bulan).

Saya mempersiapkan diri kurang lebih 1,5 bulan, tapi kurang maksimal. Soalnya tidak seperti biasanya, dari SMA sampai kuliah saya selalu totalitas kalau belajar. Tapi ini karena pagi-sore bekerja dan malam harinya menjadi seorang ayah maka harus pintar-pintar nyuri waktu belajar.

Uniknya ketika istri sedang menyelesaikan pekerjaan rumah, saya belajar sambil gendong Barra. Kebiasaan Barra suka rewel kalau tidak digendong, apalagi sudah sejam di tempat tidur tidak ada yang temenin.

Bulan Agustus, saya menjadi salah satu anggota tim akreditasi Rumah Sakit Pendidikan RSU Cut Meutia yang ikut studi banding ke RS Zainoel Abidin. Kebetulan saya bertemu dengan dr. Sayuti ketika sarapan. Saya pikir ini kesempatan saya ngobrol banyak dengan beliau. Saya bilang ke beliau kalau saya ingin tes CPNS tahun ini, saya tanya bagaimana pendapat beliau. Ternyata beliau sangat setuju dan bersemangat, beliau menyarankan saya untuk ambil di Kabupaten yang masih baru pemekaran, karena kesempatan melanjutkan pendidikan lebih mudah. Pilihan ada 3, Bener Meuriah, Pidie Jaya, dan Aceh Jaya.

Pulang studi banding, saya ngobrol ke istri kalau saya bertemu dengan dr. Sayuti. Saya juga ceritakan saran kabupaten dari dr. Sayuti. Istri saya setuju dengan Aceh Jaya, karena jarak Aceh Jaya – Banda Aceh cukup dekat, jadi mempermudah perjalanan ke Bandara, karena kami memang rutin pulang ke Jakarta.

Pendaftaran CPNS 2018 resmi dibuka

Akhirnya Pemerintah resmi membuka pendaftaran tes CPNS secara online melalui portal sscn.bkn.goid. Disanalah saya bisa melihat formasi tiap kabupaten dan jumlah lowongannya. Tentu saja yang pertama saya cek adalah Aceh Jaya. Saya bersyukur ternyata Aceh Jaya membuka formasi dokter umum. Pilihan saya semakin mantap, saya kembali berdiskusi dengan istri dan kali ini melibatkan orang tua. Ya, akhirnya saya memilih Puskesmas Indra Jaya, jaraknya hanya 1,5 jam dari Banda Aceh.

Saya ingat, persyaratannya rupanya tidak serumit yang dibayangkan. Semua berkas yang diminta ada di saya tanpa perlu mengurusnya lagi, kecuali surat sehat jasmani dan legalisir KTP. Untuk legalisir ijazah, transkrip nilai dan akreditas kampus, semua ada stoknya disaya. Saya tinggal bikin surat sehat di Rumah Sakit dengan biaya gratis, dan mengurus legalisir KTP yang hanya butuh waktu sehari saja.

Semua syarat administrasi harus diserahkan langsung ke BKD Aceh Jaya. Kebetulan tanggal 12 Oktober, istri saya harus ke Banda Aceh untuk kegiatan pembekalan dokter internship. Maka saya pikir sekalian saja saya anterin istri sekaligus saya ke Aceh Jaya untuk mengirim berkas CPNS.

Sampai di BKD, saya bertemu teman-teman seprofesi yang ternyata mengambil CPNS di Aceh Jaya, bahkan ada beberapa terpaksa menjadi pesaing saya untuk memperebutkan formasi di Puskesmas Indra Jaya. Tapi saya tetap optimis dan malah semakin bersemangat.

Sekarang tinggal tunggu pengumuman kelulusan administrasi. Bila lulus, maka berhak untuk lanjut tes SKD. Dalam peraturannya, peserta yang lolos Passing Grade-lah yang berhak untuk ikut tes lanjutan SKB. Itu artinya saya harus lolos PG supaya bisa bersaing kembali di SKB.

Pengumuman kelulusan Administrasi akhirnya keluar, Alhamdulillah saya lulus. Sekarang saya tunggu pengumuman selanjutnya untuk jadwal dan lokasi tes SKD.

Beberapa hari kemudian, Akun resmi FB BKD Ajay memposting perihal peraturan mengenai kartu tes (telah ditanda-tangani oleh panitia) yang mana semua peserta harus mengambilnya di kantor BKD Ajay. Itu artinya saya harus balik lagi ke Ajay untuk mengambil kartu tes tersebut. Kali ini saya pergi sendiri, berangkat dari Lhokseumawe setelah subuh, sampai di Calang (Ibukota Ajay) tepat pukul 13.00. Setelah kartu tes ditangan, saya langsung kembali ke Lhokseumawe.

Sambil saya mengambil kartu tes, saya melipir ke Gramedia Banda Aceh untuk mencari bank soal CPNS. Meski materi yang saya dapat internet lebih dari cukup, saya tetap penasaran dengan pola soal yang ada di bank soal. Hitung-hitung menambah kisi-kisi soal CPNS. Harganya cukup mahal ternyata, sekitar 150ribu.

5 hari setelah mengambil kartu ujian, saya tes SKD. Pagi sehari sebelum tes, saya masih harus bekerja dan pulang sore hari. Biasanya saya paling suka terkantuk kalau nyetir malam, makanya sehabis magrib saya tidur dulu, kalau sudah puas tidur baru enak nyetirnya.

Ternyata tidurnya bablas sampai jam 10 malam, benar-benar puas tidurnya. Istri saya sudah mempersiapkan ransel yang isinya perlengkapan mandi, pakaian ganti, dan pakaian tes hitam-putih. Tepat pukul 11.30 malam saya berangkat dari Lhokseumawe ke Banda Aceh dengan menembus gelapnya malam.

Pukul 04.00 subuh saya sampai di Saree. Ini yang paling saya senangi, bisa tidur di tempat yang dingin, serasa camping di gunung. Saya tidur sambil menunggu datangnya subuh. Dari Saree saya berangkat ke Banda Aceh pukul 09.00, agak sedikit telat karena saya ketiduran sehabis subuh.

Tepat di gedung ITLC, saya bersama peserta lainnya bersiap-siap untuk tes SKD. Jadwal tes agak molor 40 menit dari seharus, tapi itu tidak masalah, karena ketika tes tidak ada kendala yang berarti.

Waktu pelaksanaan tes hanya 90 menit untuk menjawab 100 pertanyaan yang diberikan. Menjawab soal tentunya perlu strategi, cermat dan tangkas. Di artikel selanjutnya saya akan memberikan sedikit trik bagaimana menjawab soal SKD.

Hasil tes kita akan langsung muncul di monitor setelah kita menekan tombol selesai yang menandakan kita hendak mengakhiri tesnya. Alhamdulillah saya lulus Passing Grade dengan nilai yang cukup meyakinkan, yaitu 360 (TWK 120, TIU 90, TKP 150).

Suasana ruangan berbagai macam rupa, ada yang menangis di depan monitor, ada yang pasrah, dan ada yang biasa aja. Saya sendiri cukup senang, namun kurang puas dengan hasilnya. Karena harusnya saya bisa lebih banyak menjawab soal TIU, tapi karena waktunya habis ya beberapa soalnya tidak bisa dijawab dengan serius.

Tentu saya bersyukur, ditambah info dari kawan-kawan diluar, baru saya sendiri yang lulus Passing Grade dari kedua sesi. Tapi saya tidak mau jumawa, apalagi berekspresi berlebihan. Yang saya harapkan, saya bisa mempersiapkan diri lebih baik di tes SKB.

Lulus PG tentu menguntungkan posisi saya, karena saya bisa nyuri start belajar SKB lebih awal. Kalau sudah lulus PG, saya yakin bakalan melaju ke tes SKB. Pulang dari Banda Aceh langsung kumpulkan bahan belajar SKB. Kalau dihitung-hitung, saya ada waktu sebulan dari awal tes SKD sampai hari tes SKB  untuk saya benar-benar belajar SKB.

Munculnya wacana regulasi baru

Banyaknya peserta tes yang tidak lulus Passing Grade membuat Pemerintah berupaya mencari solusi agar tidak kekurangan peserta CPNS. Makanya jadwal agenda CPNS molor dari seharusnya. Sebenarnya ini menguntungkan saya, semakin molor semakin banyak waktu untuk saya mempersiapkan diri.

Saya pribadi tidak masalah dengan upaya Pemerintah membuat regulasi baru ditengah jalan, karena saya percaya dengan kemampuan diri saya. Andai kemarin itu, setelah saya lulus PG di tahap SKD, dan saya harus bersaing kembali dengan peserta yang tidak lulus PG. Maka saya siap untuk bersaing.

Saya berkeyakinan, bila saya lulus di tahap SKD dan SKB, artinya saya layak menyandang dokter yang berstatus CPNS. Tapi seandainya kemarin saya lulus tahap SKD dan gagal di SKB, artinya ada orang lain yang lebih layak dari saya. Tentu saya terima dengan lapang dada.

Beberapa lama kemudian, akhirnya Pemerintah mengeluarkan regulasi baru bagi yang tidak lulus Passing Grade, yaitu sistem perangkingan. Regulasi baru itu membuat sistem tes bagi peserta lulus PG dengan non-PG terpisah.

Pengumuman SKD

Proses demi proses saya lalui, akhirnya sampai juga tahap BKD mengeluarkan pengumuman resmi hasil SKD dan siapa saja yang berhak lulus ke tahab SKB. Dari lampiran hasil SKD, ternyata yang lulus PG di instansi saya cuma saya sendiri. Artinya bila merujuk ke regulasi baru, saya melangkah sendiri ke SKB tanpa pesaing. Ya, regulasi baru ini benar-benar win-win-solution seperti yang dijanjikan oleh BKN.

Di instansi saya, ada 2 formasi dokter umum. Formasi pertama jatuh ketangan saya melalui jalur PG, sedangkan formasi kedua diperebutkan oleh 3 orang hasil dari perangkingan tertinggi berdasarkan nilai SKD.

Oke, semua sudah jelas, sambil menunggu jadwal SKB, saya kembali melanjutkan belajar materi SKB. Seperti biasa, Pagi-Sore saya dinas, sore hari bersantai dan mengobrol, malam hari bermain dengan Barra sampai dia tidur, baru sekitar pukul 11.00 malam saya start belajar sampai pukul 01.00 dini hari, terkadang sesekali sampai 02.00 dini hari.

Tes SKB

Kali ini tes SKB berlokasi di kampus Unaya. Saya pikir lokasinya lebih baik ketimbang lokasi tes sebelumnya, karena parkiran lebih luas dan suasananya lebih asri.

Suasana dan metode tes tetap sama. Kita diberikan waktu 90 menit untuk menjawab 100 soal sesuai dengan bidang kompetensi masing-masing. Saya yang berprofesi dokter tentu soalnya seputar diagnosis, pengobatan dan isu kesehatan. Soal yang keluar sama seperti soal-soal tes kompetensi dokter.

Setelah menjawab semua soal, skor yang didapat langsung muncul di layar monitor. Saya mendapat skor 355. Dengan skala skor 500, nilai benar persoal skornya 5, artinya saya menjawab 71 soal dengan benar. Wah saya pikir cukup lumayan. Dulu saya ikut tes kompetensi, skor yang saya dapat 79. Meski lebih rendah, saya cukup puas dengan hasilnya.

Informasi dari teman yang melihat hasil skor yang tertera di dasbor nilai, ternyata saya mendapatkan skor tertinggi di sesi saya (sesi ke-2, peserta SKB dari 2 Kabupaten, yaitu Aceh Jaya dan Bireuen). Wah saya senang dan cukup bergembira dengan hasilnya. Keberuntungan bagi saya karena saya sempat nyuri start belajar SKB, yang dimana peserta lain sibuk menunggu pengumuman resmi.

Dengan nilai SKD yang lulus PG dan SKB dengan nilai tertinggi di sesi kedua, saya yakin lulus CPNS 2018 one shot.

Pengumuman integrasi SKD – SKB

Hari demi hari berjalan seperti biasanya, saya mulai menyibukkan diri dengan pekerjaan sehari-hari saya di rumah sakit sembari menunggu pengumuman resmi dari BKN / BKD. Meski yakin lulus, tetap saja pengen segera lihat pengumuman resmi.

Sebulan menunggu, akhirnya BKD merilis pengumuman resmi. Alhamdulillah secara resmi saya dinyatakan lulus dengan skor tertinggi.

Hasil ini saya raih bukan karena keberuntungan, tapi ini adalah rezeki dari Allah dan usaha saya selama ini. Saya tidak belajar semalam dua malam, tapi sejak menduduki bangku SD, saya belajar untuk meraih sesuatu yang layak untuk diperjuangkan.

Menjadi CPNS adalah bantu loncatan buat saya untuk mengejar mimpi menjadi seorang dokter spesialis. Impian tidak pernah berhenti, setelah mimpi menjadi spesialis terwujud, tentu saya akan membangun mimpi-mimpi saya lainnya.

Saat ini saya sudah melaksanakan proses pemberkasan untuk pengusulan NIP. Untuk mengisi waktu sambil menunggu keluarnya SK, saya berencana ingin berbagi tips dan trik seputar CPNS dan PPPK.

Semoga artikel selanjutnya seputar CPNS bisa saya selesaikan secepat mungkin. Ditunggu artikel saya selanjutnya.

One Reply to “Pengalaman Ikut Tes CPNS 2018”

  1. sungguh artikel dan pengalaman yg luarbiasa..pak Dokter..
    perkenalkan saya Rovingah Guru SD d kab Cilacap..
    kini saya lagi persiapkan mental dan materi menghadapi CPNS 2019..
    saya masih ragu bisa atau ga karna dari kempuan saya dan kecerdasan saya tapi saya lagi berjuang untuk belajar pak Dokter dari belajar dan berusaha semoga ada hasil yg saya dapat…trimakasih atas inspirasi pak Dokter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *