Menikmati Indahnya Flora Gunung Bur Kelieten (Burni Kelieten)

Kalau Burni Telong dikenal dengan Edelweis nya, Burni Kelieten dikenal sebagai habitat flora salah satu bunga yang paling digemari banyak orang, yakni anggrek. Disana kamu bisa menemukan berbagai varian warna anggrek yang tentunya sangat memanjakan mata.

Ada syarat tertentu yang harus disepakati oleh pendaki bila hendak mendaki gunung Burni Kelieten, yakni jangan memetik atau mengganggu anggrek yang tumbuh disana, biarkan dia tumbuh dihabitatnya sendiri. Kamu cukup mengabadikannya dengan kamera, tanpa harus dibawa pulang.

Gunung Burni Kelieten terletak di Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh. Tidak ada petunjuk khusus mengenai pintu rimba atau jalur menuju Burni Kelieten. Untuk kamu yang hendak mendaki gunung tersebut, lebih baik gunakan guide lokal. Atau kamu bisa minta arahan dari anggota Mapala Universitas Gajah Putih. Saya pikir anggota Mapalanya akan memberitahu kamu tentang jalur pendakian Burni Kelieten.

Awal pendakian, kamu akan memasuki pintu rimba yang notabennya adalah hutan pinus. Bagi yang baru pertama kali datang kesana, akan sangat bingung menentukan arah jalannya, soalnya sekeliling tampak sama, sulit dibedakan mana jalur pendakian mana yang bukan jalur pendakian.



Banyak para pendaki yang gagal mendaki gara-gara kesasar di hutan pinus, karena mereka tidak bisa membaca jalur arah pendakian. Disinilah kita sangat membutuhkan guide lokal atau seorang teman yang sudah sering wara wiri mendaki Burni Kelieten.

Selain resiko kesasar, jalur hutan pinus meski agak landai tetap tidak boleh dianggap remeh, karena sifatnya yang banyak gambut dan rumputnya, hutan pinus juga sering bikin para pendaki cidera akibat tergoreng rumput tajam. Jadi di hutan pinus memang harus hati-hati, banyak berdoa.

Butuh waktu kurang lebih 8 jam agar sampai ke shelter 2. Disana kita bisa membuka tenda untuk bermalam, karena untuk menuju ke puncak cadas lebih baik subuh hari saja. Di shelter 2 kita bisa menikmati malam sembari menyeruput kopi gayo. Saya ingat ketika itu saya benar-benar lelah, jadinya sehabis isya saya langsung tidur. Maklum saja, karena sudah lama tidak mendaki, jadi rasanya badan jadi mudah lelah.

Nah, subuh harinya. Pendakian dilanjutkan menuju puncak cadas. Dalam perjalanan menuju cadas, disinilah kita akan disuguhi berbagai jenis flora yang begitu indah. Rasanya pengen ditanam dirumah, tapi karena komitmen kita untuk menjaga kelestarian flora Burni Kelieten, kita tidak memetiknya, cukup memotretnya saja.




Sampai di puncak cadas, pemadangan luar bisa terpampang di depan mata kita. Disanalah titik dimana kita bisa bersantai, bercengkrama, berswafoto, sambil menikmati awan-awan yang menari mengikuti gelombang angin.



Hingga detik ini, saya masih bisa merasakan lembutnya udara puncak cadas. Ingin rasanya kembali kesana, bernostalgia bersama anggrek-anggrek, dan bernyanyi lagu favorit di atas salah satu batu.

POSTINGAN TERKAIT

Komentar

  1. Bukan puncak batu namanya

    BalasHapus
  2. iya, puncak batu, spot paling eksotis

    BalasHapus
  3. Ada nomor kontak Mapala Universitas Gajah Putih, bang?

    BalasHapus