Dampak yang Mungkin Terjadi Akibat Kenaikan Harga Tiket Maskapai Domestik

Saya jadi ingat foto lama, foto kebanggaan Kek Cut. Tahun 1994, kek Cut berfoto di depan salah satu pesawat Merpati Airlines. Pesawat yang hendak menerbangkannya ke Ibukota. Analisis pertama, beda dengan sekarang kalau ingin mengabadikan moment bisa langsung cekret dengan hape, baik itu moment penting maupun yang nggak penting sama sekali.

Dulu pakai kamera manual, masih pakai film. Artinya, dulu menggunakan kamera hanya untuk moment penting saja. Analisis kedua, kakek cut berpose di depan pesawat, berarti kakek mengganggap itu peristiwa penting. Kita bisa simpulkan, dulu “meusoe-soe” (artinya: tidak sembarang orang) bisa naik pesawat terbang. Karena apa? Karena dulu pesawat adalah moda transportasi mewah, hanya orang-orang berkantong tebal yang mampu membeli tiket pesawat.

Seiring berjalannya waktu, penerbangan domestik berkembang begitu pesat, rute penerbangan semakin bertambah, dan pilihan pesawatpun begitu variatif, bahkan memuncul persaingan baru antara armada. Berbagai macam penawaran dilakukan pihak armada agar calon mau memilih mereka, adapun penawarannya antara lain tiket yang lowcost, kapasitas bagasi yang besar, ketepatan waktu, dan layanan selama penerbangan. Maka tahun 2000an ke atas, semua orang akhirnya bisa naik pesawat, karena harga tiketnya sudah ramah dikantong.

Tapi entah apalah dosa kami selama ini, tahun 2019 menjadi tahun gelap bagi kami sebagai pengguna rutin penerbangan domestik. Seolah-olah kita kembali ke era Kek Cut tahun 1994 yang dimana naik pesawat adalah sesuatu yang mewah dan mahal. Kiranya situasi ini tidak ditanggapi, maka akan timbul dampak yang meluas, dan jika terlambat akan sulit tertangani.

Fenomena yang baru-baru ini terjadi di Aceh, dimana orang Aceh kalau mau ke Jakarta lebih memilih penerbangan transit Kuala Lumpur. Karena penerbangan BNA-JKT via transit KL, ongkos tiketnya jauh lebih murah dibandingkan langsung terbang ke Jakarta. Nah, situasi ini bila terus berlarut-larut, akan memuncul mindset baru, sehingga dampaknya ikut meluas.

Dampak yang mungkin muncul tidak bisa dianggap remeh, karena ini bisa menyangkut kehidupan ekonomi masyarakat. Adapun dampak yang bisa saja muncul diantaranya:

Perubahan Mindset Wisatawan Lokal

Wisatawan lokal sepertinya bakal naik kelas, bukan karena kemauan sendiri, tapi keterpaksaan karena keadaan yang memintanya untuk naik kelas menjadi wisatawan mancanegara. Perubahan mindset bisa terjadi karena opsi, bila harga tiket domestik mahal, orang-orang kemungkinan akan lebih memilih liburan hemat ke negara tetangga (Malaysia, Singapore, Thailand) ketimbang liburan ke destinasi wisata lokal yang mahal diongkos.

Padahal Kementrian Parawisata, Pemda, dan volunter wisata selalu kampanye untuk memajukan parawisata lokal. Dengan kondisi seperti, akan sangat sulit menggapai jumlah kunjungan wisata.

Larinya Devisa ke Negara Lain

Kampanye cintai produk dalam negeri dan berwisata di negeri sendiri rasanya akan terbentur dengan harga tiket domestik yang tak kunjung turun. Padahal, kampanye tersebut sangat berguna agar roda ekonomi dapat berputar dengan baik di dalam negeri. Sehingga daya beli masyarakat pelaku wisata bisa ikut terangkat. Selain itu, sikap Pemerintah yang mencoba untuk mengembangkan parawisata lokal ditunjukkan dengan membebaskan visa bagi turis 169 negara yang hendak berwisata di Indonesia.

Pemerintah pun telah mengeluarkan rilisan 10 destinasi wisata andalan Indonesia, yaitu: Danau Toba, Belitung, Tanjung Lesung, Kepulauan Seribu, Candi Borobudur, Gunung Bromo, Mandalika Lombok, Pulau Komodo, Taman Nasional Wakatobi, dan Morotai. Ke-10 destinasi wisata tersebut telah menyumbangkan devisa yang sangat besar.

Sayangnya, jumlah devisa yang masuk justru berpotensi terancam pengurangan atau terbagi akibat kemungkinan perubahan mindset wisatawan lokal akibat kenaikan harga tiket pesawat. Dampak tersebut memungkinkan orang-orang akan lebih memilih wisata hemat ke negeri tetangga, dampak selanjutnya adalah larinya devisa ke negara tetangga, atau dengan kata lain uang masyarakat Indonesia malah terpakai berbelanja di negeri orang.

Tidak ada cara mengakal-akali selain dengan cara mengembalikan harga tiket seperti dulu. Andaikata, Pemerintah dan pihak maskapai ikut-ikutan menaikkan harga penerbangan international sebagai bentuk mencegah orang-orang berlarian ke luar negeri, itu malah akan memunculkan dampak skala nasional. Bukan hanya wisatawan lokal yang menurun, wisatawan asing pun bisa ikut menurun. Kalau sudah begitu, pemasukan devisa negara dari sektor parawisata pun ikut terancam.

Naiknya Ongkir Ekspedisi

Bukan hanya harga tiket, ternyata harga muatan juga ikutan naik. Hal ini bisa menyebabkan ongkir alias ongkos kirim barang dari Provinsi A ke Provinsi B berpotensi naik juga. Contoh yang sudah terbukti adalah ongkir JNE yang naik pertanggal 15 Januari 2019.

Untuk beritanya, silahkan baca berita CNN: Harga Pengiriman Paket Lewat JNE Naik Mulai 15 Januari 2019

Sebagai negara kepulauan yang besar dan luas, kaum milenial yang aktif berbelanja online sangat mengandalkan layanan ekspedisi untuk mengirimkan barang dari penjual ke konsumen. Dampak dari kenaikan ini bisa membuat konsumen juga harus ikut mengeluarkan duit lebih. Padahal, saat ini sedang heboh-hebohnya kampanye berbelanja online, bahkan tiap tahun diadakan Harbolnas untuk mendukung kampanye tersebut.

Pedagang-pedangan pakaian dikota kecil yang selalu menggunakan layanan ekspedisi pun ikut dampak, mau tidak mau mereka terpaksa menyesuaikan harga baru yang tentunya lebih mahal dari sebelumnya.

Lahirnya Bang Toyib-Bang Toyib Baru

Salah satu kerabat dari istri saya bekerja di Pertamina pusat Jakarta, sedangkan domisili keluarga di Semarang. Tiap minggu (sabtu-minggu) beliau terbang dari Jakarta ke Semarang untuk berkumpul bersama keluarga.

Cerita lainnya, masing ingat dengan kasus jatuhnya pesawat Lion Air? ada 31 PNS Kemenkeu yang menjadi korban atas musibah tersebut. Mereka adalah contoh pengabdi negeri yang bekerja jauh dari domisili aslinya. Taip akhir pekan mereka pulang ke provinsi asal. Sebagai pengguna rutin penerbangan domestik, mereka pastinya merasakan dampak atas kenaikan harga tiket pesawat.

Belum lagi cerita mahasiswa yang kuliah jauh dari rumah. Yang dulunya bisa pulang seminggu sekali, kini harus pulang sebulan sekali. Yang dulunya bisa pulang sebulan sekali, kini mungkin harus pulang setahun sekali. Yang dulunya pulang tiap lebaran, kini harus siasati pulang tiap 5 tahun sekali. Yang dulunya Bang Toyib 3 kali puasa 3 kali lebaran ngga pulang-pulang, kini semakin ngga pulang-pulang.

Sebagai pengguna rutin jasa penerbangan domestik, kami sangat mengharapkan kebijaksanaan pemerintah dan pihak maskapai untuk mencari solusi atas kenaikan harga tiket pesawat yang melambung tinggi. Kami sebenarnya bukan tidak setuju atas peraturan atau keputusan yang telah diambil, cuma harapan kami sebagai rakyat yang masih kesulitan ekonomi ini masih ada peluang untuk mempertimbangkan harga tiket sekarang ini dan kalau memungkinkan harapannya agar harga tiket bisa kembali seperti dulu.

Dari beberapa uraian dampak diatas, itu hanya pandangan saya yang memprediksi kemungkinan yang akan terjadi bila kenaikan harga tiket terus berlanjut. Bukan berarti saya mengabaikan hasil analisis para pemangku jabatan. Saya percaya, pihak pemangku jabatan telah bekerja semaksimal mungkin. Harapan tetaplah harapan, rakyat tentu mengharapkan kemudahan membeli tiket di zaman yang serba sulit ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *