Yakin Ingin jadi Dokter? Inilah Suka Duka Profesi Dokter

Kalau niatnya ingin hidup kaya, punya mobil mentereng, jadi menantu idaman dan bisa poligami. Maka menjadi dokter bukanlah pilihan yang tepat, kenapa? lanjut baca artikel ini.



Tiap harinya selain dikejar oleh persoalan pasien, ancaman keluarga pasien yang seakan ingin membunuhmu, dikerja-kejar orang hukum yang ingin menuntut, intensif jasa yang tidak sesuai, padahal pekerjaan dokter bermain dengan nyawa, keselamatan manusia, bukan keselamatan motor. Belum lagi tengah malam ditelpon, padahal lagi enak "me time".

Bagi adik-adik yang masih SMA, cobalah pikir kembali sebelum benar-benar memutuskan masuk kuliah kedokteran. Dan bagi yang sudah terlanjur, yakin ingin menghabiskan waktu di rumah sakit saja? Apa tidak ingin beralih profesi jadi trader/investor saham? atau jadi petani sawit, atau coba calonkan diri jadi Bupati.

Inilah alasan mengapa kamu sebaiknya berpikir lagi untuk menjadi seorang dokter.

1. Terus menerus belajar

Ada istilah dalam dunia kedokteran "belajar sepanjang hayat", ini istilah yang di doktrin saat kamu pertama kali belajar di Fakultas Kedokteran. Bukan tanpa alasan, dunia kedokteran yang terus berevolusi memang memaksa kamu untuk terus up to date, terus memperbaharui skill seiring ditemukannya metode pengobatan terbaru. Disini kamu harus lebih agresif mencari ilmu terbaru, dan teori-teori terbaru. Jadi jangan kira seorang dokter hanya cukup belajar saat kuliah saja, dokter wajib belajar hingga Tuhan menyuruhmu pulang. Intinya, menjadi dokter harus siap mental untuk terus belajar tanpa lelah.

2. Masuk susah, lulus lebih susah, dan lama pula

Jurusan Kedokteran boleh dikatakan sebagai prodi paling diminati oleh calon mahasiswa baik di Indonesia maupun di luar negeri. Kalau kamu memutuskan untuk masuk FK di universitas negeri, maka kamu harus siap bersaing dengan ratusan ribu calon mahasiswa FK. Padahal yang diterima paling cuma 5% dari semua calon mahasiswa yang mendaftar.

Tapi kalaupun gagal masuk di universitas negeri, kamu masih bisa masuk FK di universitas swasta yang mungkin persaingan masuknya tidak begitu ketat, cuma kamu harus siap dengan uang SPP yang mahal.

Setelah kamu menjadi mahasiswa FK, tentu kamu harus menyelesaikan pendidikan kamu sesuai kurikulum. Di ujung semester, untuk memperoleh gelar sarjana kamu harus menyelesaikan penelitian. Nah, setelah itu kamu berhak menyandang gelar S.Ked (Sarjana Kedokteran). Tapi itu baru gelar sarjana doang, kamu wajib koas paling tidak 2 tahun untuk mendapatkan gelar profesi dokter (disingkat: dr.).

Di masa kepanitraan klinik alias koas, selama 2 tahun kamu akan ditempa dengan ilmu klinis dan pengabdian sampai kamu dianggap layak menjadi seorang dokter. Kebanyakan mahasiswa, banyak yang berguguran dimasa koas, karena ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri atau ketidakmampuan mental ketika menjalani proses pendidikan.

Koas jarang mandi, jarang pulang ke kost, sering telat makan dan kurang tidur. Begitulah gambaran seorang koas (sekarang sebutannya Dokter Muda).

Selesai menjalani kepanitraan klinik, untuk menjadi seorang dokter yang sah dan ada legalitasnya, kamu wajib ikut ujian kompetensi (UKDI/UKMPPD) sebagai syaratnya. UKMPPD diadakan 3 atau 4 kali dalam setahun, saya lupa. Ada batasan nilai yang harus kamu capai supaya lulus. Jika lulus, kamu bakal mendapatkan sebuah sertifikat kompetensi yang bisa kamu gunakan untuk mendaftarkan surat tanda registrasi seorang dokter di kantor Konsil Kedokteran Indonesia.

Apakah semua sudah selesai? belum. Sebagai dokter yang baru lulus, kamu diwajibkan untuk ikut program dokter internship selama 1 tahun. Nah, selesai itu baru bisa bernafas lega, karena kamu sudah menjadi dokter seutuhnya. Namun, kalau ingin melanjutkan pendidikan, berarti perjuangan tetap berlanjut.

3. Susah mempertahankan hubungan

Kesibukan kamu dalam menjalani pendidikan, dapat mengakibatkan retaknya hubungan kamu dengan doi. Ini bukan 1 atau 2 kasus, tapi sudah sangat banyak. Kalau kamu orang yang mudah galau karena hubungan, berarti kamu bukan orang yang cocok untuk masuk ke prodi kedokteran. Karena dalam dunia pendidikan kedokteran, ada berbagai macam kegalauan bisa saja ditimbulkan antara kamu dan pacar, antara kamu dan senior, antara kamu dan residen, ataupun antara kamu dan konsulen.

Tapi tenang saja, ada kok mahasiswa kedokteran yang berhasil mempertahankan hubungan meski dia dipenuhi dengan kesibukan. Itulah pentingnya punya pacar yang pengertian.

4. Mengabdi 24 jam

Kalau kamu berpikir dokter hanya bekerja dari jam 8 pagi hingga jam 2 siang, maka buang jauh-jauh pikiran kamu itu. Profesi dokter itu kerjanya 24 jam. Dokter wajib menolong pasiennya dimana pun dan kapanpun pasien butuh pertolongan. Dan dokter juga berhak dibangunkan tidurnya kalau memang sedang dalam keadaan darurat. Loh? Kenapa begitu? Ya memang begitu. Kalau tidak mau? Ingat, profesi dokter adalah profesi dibawa dibawah sumpah, juga dibawah hukum perundangan profesi kedokteran.

5. Bayarannya sedikit

Kalau kamu tergiur cerita lama yang katanya dokter punya finansial yang baik, mungkin kamu benar, tapi belum tentu. Kamu harus searching lagi kisah hidup dokter masa kini. Semenjak alien menyerang bumi, banyak hal yang berubah tentang persoalan intensif. Meski saya tidak tahu pasti berapa uang yang dibayarkan oleh pihak penyelenggara pembiayaan kesehatan nasional, sudah sangat banyak dokter yang mengeluh tentang ketidaksesuaian resiko dengsn intensif yang diterima. Malah beberapa waktu yang lalu sempat heboh yang katanya jasa Dokter lebih murah ketimbang tukang parkir.

Dan... Masih banyak poin-poin lain bagaimana beratnya menempuh pendidikan kedokteran. Saya tidak mungkin memaparkan semuanya disini, saya pikir 5 poin diatas sudah cukup menggambarkan bentuk dan proses pendidikan kedokteran.

Dilain kesempatan, saya juga ingin sedikit bercerita bagaimana akhirnya memutuskan untuk menempuh pendidikan kedokteran dan akhir menjadikan dokter sebagai profesi utama saya. Meski dulunya cita-cita awal saya bukan dokter, tapi ingin jadi seorang guru ilmu komputer. Tapi semua berubah ketika sampai di penghujung putih abu-abu

Baiklah, saya tutup dengan kalimat "Yakin ingin jadi dokter?"

POSTINGAN TERKAIT

Posting Komentar