Kisah Sukses Michelle, CEO Ayam Goreng BonChon Indonesia


Nama Michelle E surjaputra mungkin memang masih asing bagi sebagian orang, karena boleh dibilang ia adalah pendatang baru di daftar pengusaha Indonesia. Salah satu keunikan dari perempuan ini adalah, mendirikan sebuah perusahaan berkelas  International di usia 22 tahun. Ia adalah CEO dari PT Michelindo Food International (MiFI).

Perusahaannya adalah pemegang master franchise BonChon Chicken International, sebuah perusahaan makanan cepat saji dari Busan, Korea. Michelle mendirikan perusahaannya pada tahun 2012, dan dalam waktu 2 tahun berhasil membuka 17 outlet di kota-kota besar di seluruh Indonesia dengan mempekerjakan 200 orang lebih pegawai.

Siapa sebenarnya Michelle, dan bagaimana ia bisa sukses dalam bisnis waralaba? Michelle lahir di Jakarta, pada tanggal 15 November 1988. Ia merupakan anak tertua dari 3 bersaudara. Pada usia 9 tahun, ia dan saudaranya dibawa kedua orangtuanya tinggal bersama di Amerika Serikat. Michelle melanjutkan pendidikannya di Wayland High School pada tahun 2004-2007. Kemudian, ia mengikuti pendidikan di Swiss Finance Academy pada tahun 2009. Di waktu yang bersamaan, ia juga menempuh pendidikan di New York University-Leonard N.Stern School of Business dari tahun 2007, dan lulus dengan magna cumlaude pada Maret 2011. Pada September 2011, ia memutuskan untuk pulang sendiri ke Indonesia.

Berasal dari keluarga pengusaha yang cukup berada, tidak membuat Michelle lupa diri dan berhenti memikirkan apa yang bisa ia lakukan sendiri. Ia memutuskan untuk mendirikan usaha sendiri yang berbeda dengan bidang usaha ayahnya. Michelle juga telah mendapatkan pekerjaan yang cukup mapan sesuai impiannya di Amerika. Ia pernah bekerja sebagai Investment Banking Summer Analyst di UBS Invenstment Bank, Economic Analysis Intern di Bank Indonesia, Junior Sales Intern di AXA Advisors, Wealth Advisory Intern di Schnall Advisory, dan Marketing Intern di Creative Media Marketing.

Namun, ia merasa bosan dengan pekerjaan tersebut. Menurutnya, ia hanya bekerja mengikuti sistem yang telah dibuat sedemikian rupa. Ia tinggal mengikuti aturan dan perintah yang telah dibuat tersebut. Selain tidak leluasa mengambil keputusan, Michelle merasa pekerjaan yang ia jalani membuatnya tidak tertantang untuk berbuat sesuatu yang lebih. Itulah alasan mengapa ia ingin memiliki sebuah perusahaan sendiri.

Michelle dihadapkan pada berbagai tantangan dan kesulitan seperti menentukan strategi penjualan, tekanan yang datang dari berbagai pihak, masalah karyawan, kualitas pelayanan, dan produk. Namun, ia mengatakan, bahwa ia tidak akan berhenti ditengah jalan dan akan terus berusaha lebih baik lagi. Michelle tidak pernah lelah untuk mempertahankan mimpinya, dan ia menyukai pekerjaannya. Belum lama ini, ia membuka kesempatan bagi para pebisnis. yang berminat untuk membeli waralabanya seharga $50.000-80.000. Michelle juga bertekad menjadikan BonChon Indonesia sebagai BonChon terbaik di dunia.

Menjadi master franchise BonChon Chicken International juga tidak semudah membalikkan telapak tangan bagi Michelle. Berkat keyakinan dan kesungguhannya, ia menjadi yang terpilih di antara beberapa orang yang juga mengajukan diri menjadi master franchise BonChon Chicken International untuk Indonesia. Ide untuk berbisnis BonChon ini pun juga sederhana, karena ia sering makan BonChon selama di Amerika dan ketika pulang ke Indonesia Michelle kesulitan untuk mendapatkan BonChon. Michelle juga melakukan beberapa riset sebelum memutuskan untuk membawa BonChon ke Indonesia.

Sekarang, bisnis ayam goreng BonChon yang dikembangkan oleh Michelle sudah berkembang, di antaranya bisa ditemui di Grand Indonesia, Gandaria City, Emporium Pluit, Central Park, City Walk Sudirman, Kemang Village, Kota Kasablanka, Mall of Indonesia dan beberapa outlet di Cibubur, Bekasi, Surabaya, dan Bali. Tidak hanya BonChon, pada tahun 2013, Michelle juga membuka Sombrero, sebuah restoran ala Mexico.

Selain bisnis, Michelle juga memiliki minat dalam bidang olahraga seperti marathon, triathlon, svyimrning, snowboarding. Tak ketinggalan, ia juga suka traveling dan bidang fashion.

Beberapa pelajaran yang bisa diambil dari Michelle adalah: pertama, membuat sesuatu yang lebih menantang. Ia bosan bekerja menjadi karyawan di beberapa perusahaan, karena merasa pekerjaannya hanya itu ke itu saja setiap hari. Mengelola sebuah usaha baginya adalah sebuah keleluasaan untuk mengambil keputusan, kebebasan beride dan membuatnya lebih hidup, karena bisa memberikan sesuatu untuk orang lain seperti menyediakan lapangan pekerjaan.

Kedua, tidak gila dengan kesuksesan orangtua. Meskipun orang tuanya memiliki perusahaan yang cukup diperhitungkan, Michelle lebih memilih membuatusahanya sendiri. Selain karena ia tidak menyukai bidang usaha ayahnya, ia ingin merasakan sulitnya mengembangkan usaha dari nol.

Ketiga, memerhatikan hal-hal yang sederhana. Ia sering makan BonChon ketika kuliah di Amerika. Di Amerika BonChon lumayan mudah ditemukan. Ketika ia pulang ke Indonesia, iajalan-j alan ke mal dan mendapatkan inspirasi untuk menjadi orang pertama yang membawa BonChon ke Indonesia.

Keempat, melakukan riset. Sebelum memutuskan untuk mengembangkan BonChon, Michelle terlebih dahulu melakukan riset dan berbagai persiapan. Target konsumen BonChon adalah kelas A dan B. Michelle yakin masyarakat Indonesia yang menyukai berbagai hal berbau korea adalah sebuah pasar yang bagus.

Semoga kamu bisa memetik pelajaran berharga dari kesuksesan Michelle.

Artikel ini bermanfaat? Share ke Jejaring Sosial Anda.

Artikel lain:

0 Response to "Kisah Sukses Michelle, CEO Ayam Goreng BonChon Indonesia"

Post a Comment