Tips Menulis Artikel Sesuai Karakter Orang Indonesia yang Malas Membaca


@MonzaAulia (30 Oktober 2017) - Sudah sering kita menjumpai karakter orang yang mengeluarkan kata-kata yang tak pantas dikomentar facebook ketika ada judul artikel kontroversial yang di-share. Kenapa? itu karena kebanyakan dari masyarakat kita cuma baca judul doang dan tidak mau membuka untuk membaca artikel lengkapnya. Budaya seperti ini menjadi salah satu ciri-ciri masyarakat yang minat membacanya masih rendah.

Berdasarkan studi "Most Littered Nation In the World" yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Sumber Kompas.com

Bahkan Taufiq Ismail pernah menyinggung dalam salah-satu tulisannya mengatakan orang Indonesia “luar biasa sedikit” membaca buku. Tak heran, industri rokok berhasil mengalahkan industri buku dengan telak karena orang Indonesia lebih suka membeli rokok daripada buku.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan minat baca masyarakat Indonesia masih rendah. Pertama, belum ada kebiasaan membaca yang ditanamkan sejak dini. Role model anak di keluarga adalah orang tua dan anak-anak biasanya mengikuti kebiasaan orang tua.

Jadi secara tidak langsung adanya lingkaran setan dimana kalau orang tuanya tidak suka membaca (tidak membentuk budaya membaca dikeluarga), maka anaknya akan mengikuti kebiasaan orang tuanya. Jadi, peran orang tua dalam mengajarkan kebiasaan membaca menjadi penting untuk meningkatkan kemampuan literasi anak.

Biasanya kita sering mendengar kata membaca sebagai hobi, sehingga orang masih menganggap sepele akan pentingnya membaca. Paradigma inilah yang harus diubah untuk menjadikan membaca sebagai kewajiban.

Kedua, akses ke fasilitas pendidikan belum merata dan minimnya kualitas sarana pendidikan. Sudah menjadi fakta bahwa kita masih melihat banyak anak yang putus sekolah, sarana pendidikan yang tidak mendukung kegiatan belajar mengajar, dan panjangnya rantai birokrasi dalam dunia pendidikan. Hal inilah yang secara tidak langsung menghambat perkembangan kualitas literasi di Indonesia.

Ketiga, mungkin karena faktor masih kurangnya produksi buku di Indonesia sebagai dampak dari belum berkembangnya penerbit di daerah, insentif bagi produsen buku dirasa belum adil, dan wajib pajak bagi penulis yang mendapatkan royalti rendah sehingga memadamkan motivasi mereka untuk melahirkan buku berkualitas.

Rendahnya minat membaca orang Indonesia secara tidak langsung berdampak pada rendahnya pengunjung blog berbahasa Indonesia. Ini terbukti dari Google Analytics yang dimana tingkat share tidak berbanding lurus dengan jumlah visitor. Selain itu, tingginya statistik Bounce menunjukkan pembaca blog berbahasa Indonesia tidak mau berlama-lama dalam sebuah blog.

Tentu hal ini harus disikapi serius, karena apa? budaya seperti ini cukup merugikan semua kalangan. Siapa yang dirugikan? Pertama, Pemerintah. Indeks Penmbangunan Manusia (IPM) Indonesia akan terjun bebas dikarena hal dasar seperti ini. Selain itu, kampanye anti Hoax percuma dijalankan karena tingkat literasi dasar memprihatikan.

Kedua, penerbit buku dan penulis. Bisnis industri percetakan Indonesia sulit tumbuh, penerbit lebih selektif mengeluarkan buku, dan penulis pun tidak termotivasi untuk menulis akibat minat baca orang Indonesia yang rendah.

Ketiga, Blogger. Rendahnya minat membaca orang Indonesia membuat jumlah kunjungan menurun, sehingga jumlah klik Google Adsense pun ikut menurun. Bukan hanya jumlah klik, nilai konversi klik juga ikutan rendah. Menurut kamu, apakah nilai konversi klik ini ada hubungannya dengan karakter orang Indonesia yang malas membaca?

Sebagai blogger, apalagi blogger yang mengandalkan blog sebagai ladang ekonominya, pasti tidak ingin tergulung akibat karakter orang Indonesia yang malas membaca. Sehingga perlu ada siasat khusus agar dapat menyesesuaikan dengan karakternya orang Indonesia. Begini tipsnya:

1. Persingkat paragraf pembuka.

Jangan bertele-tele membuat paragraf pembuka, apalagi keluar dari topik. Cukup bahas tentang maksud dan tujuan dari postingan. Malah terkadang banyak orang Indonesia yang melewati paragraf ini, mereka lebih memilih langsung ke poinnya saja.Loh, tapi kok artikel ini paragraf pembukanya kepanjangan? hehe, karena kamu yang membaca blog ini, saya anggap bukan kelompok orang-orang yang malas membaca.

2. Sesuaikan jumlah kata.

Untuk artikel yang berhubungan dengan tips dan trik, lebih baik tidak menulis hingga lebih dari 500 kata. Jangan biarkan pembaca bosan dengan artikel kita yang tidak ada ujungnya. Kalau kamu merasa 500 kata tidaklah cukup, buatlah artikel kedua sebagai kelanjutan dari artikel pertama. Kecuali kamu menulis artikel berbahasa Inggris yang mana target pembacanya adalah negara premium, kamu boleh menulis sepanjang yang kamu mau. Bahkan 500 kata tidaklah cukup.

3. Gunakan cara list.

Orang Indonesia paling senang dengan yang instant, misalnya kamu menulis artikel tentang tutorial, maka lebih baik meng-listkan langkah-langkahnya dengan singkat dan jelas.

4. Perbanyak gambar yang mendukung.

Gambar bisa membuat sebuah artikel lebih berwarna dan jelas. Terkadang gambar juga sangat vital perannya dalam sebuah artikel. Poin ini perlu diprioritaskan, karena masyarakat kita biasanya lebih suka menikmati sebuah gambar ketimbang menghayati artikel didalamnya.

5. Jangan menulis statistik, tabel, apalagi kurva.

Kebanyakan pembaca blog dari Indonesia alergi yang begituan. Tampak sedikit saja angka, langsung mata gatal-gatal. Padahal tidak ada masalahnya, apalagi untuk memperlengkap data dalam artikel, cuma untuk waktu sekarang ini rasanya belum pas kalau artikel blog berbahasa Indonesia menambahkan data-data seperti itu. Tapi ini sangat berbeda dengan artikel berbahasa Inggris ya, karena kamu wajib menambah itu kalau target pembaca kamu dari negara premium.

Itu saja tips yang saya bagikan, tips ini berdasarkan pengalaman saya menulis. Beberapa artikel dengan gaya penulisan yang berbeda pernah saya bandingkan, dan terbukti gaya artikel diatas lebih efektif ketimbang yang lain.

Dan perlu di-ingat, menulis artikel dengan target orang Indonesia sangat berbeda dengan artikel yang menargetkan negara-negara premium seperti Finlandia, Amerika Serikat, Kanada, dan German.

Artikel ini bermanfaat? Share ke Jejaring Sosial Anda.

Artikel lain:

Drop Out Lalu Sukses? Eits Tunggu Dulu!


@MonzaAulia (28 Oktober 2017) - Tentu kita pernah mendengar kisah mereka yang pernah DO dari kampus dan akhirnya mereka sukses meski bukan sarjana. Sekilas memang kisah tersebut sangat menggugah semangat, ingin rasanya seperti mereka, berhenti kuliah lalu menjadi sukses.

Tapi apakah benar seperti itu? sayangnya kebanyakan dari kita termakan mentah-mentah dengan kisah sukses tersebut tanpa sadar dengan kemampuan diri, apalagi motivator-motivator yang tidak bertanggung jawab melemparkan argumen tanpa berfikir efek negatifnya.

Nah sekarang kita coba gali lagi kisah mereka yang sukses meski DO dari kampus.

Steve Jobs

Siapa yang tidak kenal dengan sosok yang bernama Steve Jobs, seorang pendiri perusahaan IT raksasa Apple ini dikenal sebagai seorang yang perfeksionis, dan dia adalah tokoh sukses yang pernah DO dari kampus. Selain cerdas dibidang elektronik, Steve Jobs juga punya jiwa bisnis dan jiwa seni yang tinggi, maka tidak heran Apple dikenal sebagai pionir yang begitu revolusiner.

Pelajaran yang dapat kita petik, Steve Jobs sudah mahir elektronik dan komputer walaupun di DO. Coba kamu analisa? Apa karena DO nya yang membuat ia sukses? bukan, itu karena kemampuan elektronik, otak bisnis dan jiwa seninya jauh melebihi mahasiswa yang lulus S1 kala itu.

Bill gates

Bill gates lahir dari keluarga orang kaya, hal yang membuatnya DO adalah kejeniusan dan otak bisnis yang jauh diatas lulusan S1 kala itu. Perlu diketahui, Bill gates sudah mampu menguasai pemprograman komputer sejak usianya masih 13 tahun. Saat era komputer mulai bangkit, dia dan rekannya Paul Alen membuat bahasa pemrograman basic. Kita saja bahkan tidak tahu apa itu pemprograman basic, boro-boro membuatnya.

Bahkan kala itu, kemampuan pemprograman Bill gates melebihi kemampuan lulusan S2 bahkan S3. Sekarang lihat, dia DO dari kampus apa karena malas atau bodoh? Tidak, dia memilih keluar dari kampus karena kejeniusan jauh diatas tingkat lulusan manapun.

Mark Zuckerberg

Nah ini dia yang paling fenomenal, si miliuner muda yang telah menciptakan facebook ini keluar dari kampus bukan karena bodoh, tapi karena facebook kala itu tembus 1 juta pengguna dan dia lebih memilih fokus untuk mengembangkan social network yang dia ciptakan. Selain itu, dia terlalu jenius dibidang pemprograman dan kuliah terlalu mudah baginya.

Seperti halnya Bill Gates, Mark pertama kali membuat program komputer pada saat dia masih berusia 13 tahun. Nah, kala itu teman temannya masih suka main game, si Mark ini justru membuat Game. Kemampuan hacking dan programmingnya juga termasuk jempolan.

Sekarang, lihatlah diri kamu. Saya ingin bertanya: "Apakah kamu memiliki kemampuan seperti mereka? masih yakin DO lalu sukses?"

Saya tidak bodoh, saya juga jago hacking, coding dan jaringan!

Seandainya kamu memang sudah sejago mereka, tetap saran saya untuk terus lanjutkan kuliah. Kamu tetap boleh bereksperimen, mendirikan perusahaan tanpa perlu meninggalkan bangku kuliah. Menjadi mahasiswa itu membentuk karakter, apa yang kamu dapat ketika dimasa kuliah suatu hari akan berguna untuk bisnis di masa depanmu.

Selain itu, ingatlah orang tua. Meski kamu punya mimpi yang besar, orang tua juga punya mimpi besar terhadap kamu, melihat kamu memakai toga sambil sumringah di depan lensa foto. Jangan egois mengejar mimpi kamu sendiri, apalagi dengan cara DO dari kampus. Orang tua kamu cuma inginkan ijazah, meski ijazah itu tidak kamu butuhkan saat sudah jadi bos.

Nah sekarang coba kita lihat mereka yang sukses tanpa harus di-DO

Larry Page

Dia adalah pendiri Google, Larry Page mendirikan Google bersama temannya Sergey Brin. Page memperoleh gelar Bachelor of Science dalam teknik komputer dari Universitas Michigan dengan pujian dan seorang lulusan Master dari Universitas Stanford di inggris. Menurut Forbes, Page mempunyai perkiraan kekayaan bersih sebesar AS$12,8 miliar, membuatnya orang nomor 27 terkaya di dunia (satu tempat di belakang pendiri lain Google, Sergey Brin).

Jeffrey Preston Bezos

Pendiri Amazon, salah satu orang masuk kedalam deretan 10 orang terkaya didunia. Berkarya tidak harus dimulai dari DO, dia termasuk lulusan dari ilmu komputer dan teknik listrik.

Saya tidak bermaksud untuk meruntuhkan semangat jadi pengusaha, mendirikan lapangan kerja, dan jadi bos. Tidak harus melewati fase DO, kamu juga bisa jadi pengusaha, mendirikan lapangan kerja, dan bahkan jadi bos di perusahaan sendiri.

Nah, saran saya, janganlah berpikir pendek, lanjutkan kuliah sambil terus mengejar mimpi jadi pengusaha. Kalau memang usaha kamu sudah sangat berkembang pesat, kamu yakin untuk fokus ke usaha sukses kamu, dan kamu ingin DO dari kampus, panjatkanlah doa pada Allah agar dimudahkan untuk mengambil keputusan, dan mintalah pendapat orang tua.

Artikel ini bermanfaat? Share ke Jejaring Sosial Anda.

Artikel lain: