Pengangguran Aceh Tertinggi di Sumatera, Salah Siapa?


monzaaulia@outlook.com (21 April 2017) - Serambi Online pernah mengangkat berita perihal pengangguran Aceh yang “katanya” tertinggi di Sumatera. Padahal dalam statistik, di sumatera hanya Aceh yang memiliki 4 Universitas Negeri sekaligus, belum lagi Universitas Swasta yang tiap tahunnya mencetak banyak sarjana.

Ternyata pemuda/i yang mengenyam pendidikan tinggi bukanlah jalan keluar menurunkan angka pengangguran, bahkan lebih parah lagi, merekalah yang suatau hari bakal menjadi bom waktu melonjaknya angka pengangguran dalam perekonomian.

Siapa yang salah? Apakah ingin menyalahkan Tuhan atas takdir yang diterima? Atau ingin menyalahkan pemerintah yang tak mampu menampung para sarjana muda? Atau ingin menyalahkan orang tua karena tidak memiliki relasi?

Sebelum menyalahkan pihak lain, cobalah bercermin, pantaskah kita menjadi pengangguran? Jika jawabannya iya, berarti akal sehat kita masih bekerja dengan baik.

Rezeki di dunia begitu melimpah, di hutan, laut, bahkan dikeramaian. Berapa luas tanah yang tidak terpakai dan dapat ditanami singkong? Sangat luas, dan begitu subur. Di lautan, semua begitu melimpah, terlebih lagi di Aceh. Lautan Aceh adalah tempatnya perkembang biakan ikan dari samudera, jadi untuk urusan penghasilan dari laut Aceh tidak perlu diragukan lagi. Di keramaian? Membuka waralaba, industri kecil, atau mengadu peruntungan via internet adalah salah satu jalan yang tepat. Jadi tidak ada alasan untuk jadi pengangguran.

Kita telah terdidik menjadi orang yang bermental budak, berpikir hanya PNS dan karyawan satu-satunya lapangan kerja. Pikiran miskin kita telah menbuntukan jalur pikir. Selain itu, menyalahkan Pemerintah yang tidak mampu menciptakan lapangan kerja bukanlah cara yang bijak. Seandainya Pemerintah tidak bekerja dengan baik, bukan berarti kita menyerah dan berpangku tangan.

Lantas apa solusi untuk memecahkan persoalan pengangguran?

Pertama, jangan pedulikan dogma masyarakat yang mengatakan PNS adalah lambang keberhasilan. Menjadi PNS memang cukup menjamin keuangan Anda, tapi menjadi sukses tidak harus PNS kan? Pikirkan opsi wirausaha!

Kedua, jadilah orang yang lebih inovatif, kreatif, dan mampu melihat peluang usaha. Larry page, Mark Z, dan semua CEO perusahaan internet adalah orang-orang yang mampu memaksimalkan kreativitas diri untuk menciptakan sesuatu yang besar, mereka semua berawal dari nol, yakni dengan modal rata-rata kurang dari $1000.

Ketiga, jangan pernah katakan tidak ada modal untuk memulai. Apakah Donald Trump memiliki modal jutaan dolar untuk awal memulai usahanya? Apakah Chairul Tandjung memulai usahanya dengan modal besar dari keluarganya? Mereka yang telah sukses, tidak semua berawal dari akar yang sudah kuat. Ada beberapa dari mereka malah memulai dari nol, menumbuhkan akar, hingga menghasilkan pohon yang kuat dan berbuah manis.

Saya beropini berdasarkan pengalaman sendiri. Dan sekali lagi jujur saja saya kecewa dengan mereka-mereka yang terus berdemo dan menyalahkan pemerintah yang tidak menyediakan lapangan kerja. Memang apa harus selalu mengemis kepada penguasa? Ayo bangunlah, jadilah orang yang berani untuk memulai mandiri.

Kalau sudah menganggur 3 bulan dirumah tanpa pekerjaan dan dan tidak berani mengambil sikap, maka waktunya untuk merubah diri. Jual motor atau minta pinjangan dari keluarga inti atau saudara. Sebesar apapun modal yang Anda dapat, 5 juta kah, atau 10 jutakah, jadikan itu berguna dan langkah awal Anda membangun sebuah usaha. Kalau Anda kreatif, bangunlah sesuatu yang bagus untuk dijual kepasar dengan modal yang Anda miliki, atau Anda bisa memulai dengan usaha waralaba.

Saran saya, perbanyak nonton stasiun tv Bloomberg atau baca berita-berita bisnis kreatif, disana Anda bisa mendapatkan inspirasi untuk memulai usaha Anda. Ini pengalaman saya yang sering mendapatkan inspirasi ketika membangu website dari tayangan Bloomberg. Yang pasti, saat kamu sudah mulai, maka pertahankan itu.

Artikel ini bermanfaat? Share ke Jejaring Sosial Anda.

Artikel lain:

0 Response to "Pengangguran Aceh Tertinggi di Sumatera, Salah Siapa?"

Post a Comment