Sudah 72 Tahun, Namun Mengapa Indonesia Masih Sulit Menjadi Negara Maju?


monzaaulia@outlook.com (28 April 2017) - Peradaban dan sumber daya merupakan salah atu dari cikal bakal sebuah negara untuk menuju ke arah kemajuan. Peradaban yang tidak berkembang menjadi faktor kuat yang membuat negara tersebut menjadi tertinggal, apalagi ditambah dengan sumber daya (baik itu SMD maupun SDA) yang tidak mendukung peradaban di negara tersebut.

Lantas kenapa peradaban itu berpengaruh? Ini hanya sekedar opini, bukan pendapat dari antropolog atau ahli bidang peradaban. Kita perlu menjabarkan makna dari peradaban tersebut.

Menurut Huntington , peradaban adalah suatu identitas terluas dari budaya, yang teridentifikasi dengan melalui dalam unsur-unsur obyektif umum, seperti ialah bahasa, agama ,sejarah, institusi, kebiasaan, ataupun melalui identifikasi diri yang subyektif.

Jadi, dalam kata kutip, peradaban mewakili segmen kehidupan dalam satu kehidupan. Namun, bagi seorang muslim, peradaban tertinggi yakni peradaban yang dibaluti oleh unsur agama. Dalam hal ini adalah agama Islam.

Nah, pola pikir, kebiasaan, budaya, institusi dan sejarah dari negara tersebut mampu membuat negara tersebut menjadi maju atau sebaliknya. Lantas bagaimana dengan Indonesia? Kenapa segmen peradaban Indonesia sulit menjadikan negara ini sebagai negara maju?

Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia, kaya akan sumber daya alam, budaya, dan kaya akan segala-galanya. Tapi, di Indonesia ini banyak sekali orang yang bodoh, dari pejabat sampai masyarakat bawah, dari yang kaya sampai yang miskin, dari yang muda sampai yang tua, semua bodoh dan termasuk kita semua.

Banyak dari kita bertanya-tanya mengapa negara dengan sumber daya alam yang besar namun tak kunjung maju dan sejahtera. Mungkin alasan-alasan inilah yang menjadi penyebabnya.

Penjajahan. Indonesia dijajah sangat lama oleh bangsa kolonial, sampai berabad-abad tapi tidak ada perlawanan, hingga sampai pada titik lahirnya para tokoh perlawanan yang akhirnya sampai pada titik Indonesia merdeka. Banyak sekali hasil alam yang kita punya diperas oleh kolonial, bahkan harga diri bangsa juga dirampas.

Mementingkan diri sendiri. Jaman mempersiapkan kemerdekaan adalah era dimana Indonesia masih bersatu untuk satu kepentingan, yaitu kepentingan Indonesia. Namun, setelah itu dan sampai sekarang kita sudah tidak lagi bersatu seperti dahulu. Terutama mereka-mereka yang sangat egois dan mementingkan diri sendiri dengan memanfaatkan kekuasaan yang ada.

Terlalu banyak manusia bodoh di Indonesia yang bersifat licik, ada paham komunis yang hampir memporak porandakan negeri kita, yang ingin memisahkan Agama dari kehidupan berbangsa, dan berpolitik dengan tujuan keduniawian.

Budaya korupsi. Korupsi telah menjadi kebiasaan orang Indonesia, dari anak SD sampai S3 hingga lulus dan menjadi pejabat. Bahkan, pengusaha besar ataupun kecil juga ikut korupsi. Budaya bodoh korupsi memang sudah mendarah daging dan akan sulit di hilangkan, kecuali birokrasi dan hukum negara Indonesia yang kuat dan terbuka. Ketidak adilan inilah yang mengawali budaya korupsi.

Hukum yang carut marut. Negara Indonesia bukanlah negara yang baru berdiri, semestinya negara yang sudah berumur lebih setengah abad ini harus matang akan konsep hukumnya. Banyak sekali ketimpangan dan ketidakjelasan hukum yang sering terjadi di Indonesia. Bukan pengamat atau ahli hukum, di mata masyarakat, mereka menilai hukum hanya tajam bagi semua segmen bawah atau segmen yang bersebrangan dengan pemerintahan.

Malu dengan budaya lokal. Indonesia adalah negara yang sangat kaya dengan keberagaman budayanya. Seharusnya budaya lokal dapat menjadi aset penting dalam kemajuan negara Indonesia, namun sayangnya masih banyak ketidakpedulian kita akan warisan dari budaya tersebut atau telah menyia nyiakan kebudayaan kita sendiri dan dicuri oleh negara sebelah atau orang lain.

Pemerintah yang jarang mendengar. Demonstrasi adalah cara masyarakat menyampaikan aspirasi terhadap birokrasi yang berkuasa, namun sering demonstrasi diakhir dengan kekerasan atau bentrokan yang disebabkan ketulian penguasa yang tak mau menerima aspirasi dari rakyatnya.

Inovasi yang mandeg. Pendidikan dan inovasi hanya gempar di media, tidak ada realisasi dan hanya menjadi wacana pencitraan seseorang yang hendak mencalonkan diri. Atau mungkin untuk setor muka kepada masyarakat yang gampang dibodohi. Perlu dibukti dengan segala teknologi untuk merealisasikan inovasi yang sudah ditemukan, dan pemerintah harus pintar membaca peluang.

Perpustakaan buku usang. Generasi “ayo membaca” mungkin hanya menjadi wacana dan wacana saja. Memperkenalkan gemar membaca tentu lebih baik didukung oleh fasilitas perpustakaan disetiap sudut toko, taman atau minimal perpustaan sekolah. Namun realitanya tidak semua sekolah punya ruang perpustakaan. Kalaupun ada, banyak perpustakaan yang bukunya mulai usang, jarang ada stok buku baru.

Krisis moral. Etika yang dimiliki masyarakat kian hari semakin surut, sesama siswa saling tawuran, sesama pejabat saling sikut-sikutan. Ini adalah sifat diri yang bisa menghilangkan budaya Indonesia akan kepribadian yang baik dan mempunyai kredibilitas.

Mengutamakan diam itu emas. Etika merupakan hal penting yang harus dimiliki oleh golongan pejabat, termasuk legislatif. Namun berdiam diri hanya karena alasan etika adalah kesalahan, berdiam diri dan manut dengan keputusan dari pemimpin meski keputusan itu merugikan banyak orang membuat Indonesia ini tidak bergerak maju. Dari tahun ke tahun, kita memilih anggota legislatif yang fungsinya menyusun Undang-Undang dan mengontrol pemerintahan yang berjalan seolah-olah tidak ada fungsi sama sekali bila mereka hanya diam.

Mudahnya mendapatkan Ijazah tanpa kuliah. Belakangan ini ijazah bodong marak terjadi di masyarakat kita. Dengan uang belasan juta, mereka sudah dapat sebuah gelar sarjana dan Ijazah tanpa harus bersusah payah kuliah bertahun-tahun dan mengikuti tahap skripsi. Sarjana tanpa ilmu, tanpa kualitas, dan sama saja seperti orang tidak berpendidikan tinggi. Hasilnya? Tidak ada sama sekali daya saingnya.

Masih percaya ramalan dan jimat. Hampir tiap tahun Indonesia selalu dihebohkan dengan ramalan, belum lama ini salah satu perusahaan ecommerce dibidang ceruk handmade malah mempromosikan jimat sebagai produk prioritasnya. Selain mengarah ke kesyirikan, ramalan dan jimat hanya membuat orang terlalu percaya dengan sesuatu diluar nalar, malas berusaha dan sangat berharap keajaiban datang dari jimatnya.

Mudah percaya dengan hoax. Facebook, BBM dan WA sering sekali menjadi media tempat penyebaran fitnah dan hoax. Selain fitnah tentang pejabat dan artis, isu hoax semisal menusuk jarum ke jari untuk mencegah stroke masih makanan sehari-hari orang Indonesia. Belum lagi fanspage yang menyebarkan berita bohong dan meminta share artikel tersebut demi terhindar dari malapetaka masih menjadi momok di Indonesia, sehingga orang Indonesia belum bisa berpikir dengan logika.

Mudahnya membunuh orang. Indonesia masih menjadi negara yang tidak aman, pembunuhan terjadi dimana-mana, pembegalan hanya demi merampas motor orang, atau hanya karena utang 5000 perak membunuh orang. Ini terjadi karena ketidakwarasan berpikir dan lemahnya nilai-nilai spiritual sehingga Indonesia seolah-olah menjadi negara ini masih belum aman untuk ditinggali.

Pendidikan Indonesia yang tidak sesuai. Dulu, nilai UN dari tahun ke tahun terus meningkat. Hal ini bukannya lebih baik, malah tingkat kecurangan UN semakin meningkat. Memukul rata kemampuan semua siswa di Indonesia terbukti tidak membuat pendidikan negara ini semakin maju.

Masih adanya budaya Ospek. Dari tingkat SMP hingga Sarjana, budaya Ospek seolah-olah telah mendarah daging dalam dunia pendidikan di Indonesia. Ospek adalah contoh dari bentuk penindasan yang dilegalkan, membentuk mental budak bagi korban dan membentuk mental penguasa yang haus hormat bagi pengospek.

Artikel ini bermanfaat? Share ke Jejaring Sosial Anda.

Artikel lain:

Pengangguran Aceh Tertinggi di Sumatera, Salah Siapa?


monzaaulia@outlook.com (21 April 2017) - Serambi Online pernah mengangkat berita perihal pengangguran Aceh yang “katanya” tertinggi di Sumatera. Padahal dalam statistik, di sumatera hanya Aceh yang memiliki 4 Universitas Negeri sekaligus, belum lagi Universitas Swasta yang tiap tahunnya mencetak banyak sarjana.

Ternyata pemuda/i yang mengenyam pendidikan tinggi bukanlah jalan keluar menurunkan angka pengangguran, bahkan lebih parah lagi, merekalah yang suatau hari bakal menjadi bom waktu melonjaknya angka pengangguran dalam perekonomian.

Siapa yang salah? Apakah ingin menyalahkan Tuhan atas takdir yang diterima? Atau ingin menyalahkan pemerintah yang tak mampu menampung para sarjana muda? Atau ingin menyalahkan orang tua karena tidak memiliki relasi?

Sebelum menyalahkan pihak lain, cobalah bercermin, pantaskah kita menjadi pengangguran? Jika jawabannya iya, berarti akal sehat kita masih bekerja dengan baik.

Rezeki di dunia begitu melimpah, di hutan, laut, bahkan dikeramaian. Berapa luas tanah yang tidak terpakai dan dapat ditanami singkong? Sangat luas, dan begitu subur. Di lautan, semua begitu melimpah, terlebih lagi di Aceh. Lautan Aceh adalah tempatnya perkembang biakan ikan dari samudera, jadi untuk urusan penghasilan dari laut Aceh tidak perlu diragukan lagi. Di keramaian? Membuka waralaba, industri kecil, atau mengadu peruntungan via internet adalah salah satu jalan yang tepat. Jadi tidak ada alasan untuk jadi pengangguran.

Kita telah terdidik menjadi orang yang bermental budak, berpikir hanya PNS dan karyawan satu-satunya lapangan kerja. Pikiran miskin kita telah menbuntukan jalur pikir. Selain itu, menyalahkan Pemerintah yang tidak mampu menciptakan lapangan kerja bukanlah cara yang bijak. Seandainya Pemerintah tidak bekerja dengan baik, bukan berarti kita menyerah dan berpangku tangan.

Lantas apa solusi untuk memecahkan persoalan pengangguran?

Pertama, jangan pedulikan dogma masyarakat yang mengatakan PNS adalah lambang keberhasilan. Menjadi PNS memang cukup menjamin keuangan Anda, tapi menjadi sukses tidak harus PNS kan? Pikirkan opsi wirausaha!

Kedua, jadilah orang yang lebih inovatif, kreatif, dan mampu melihat peluang usaha. Larry page, Mark Z, dan semua CEO perusahaan internet adalah orang-orang yang mampu memaksimalkan kreativitas diri untuk menciptakan sesuatu yang besar, mereka semua berawal dari nol, yakni dengan modal rata-rata kurang dari $1000.

Ketiga, jangan pernah katakan tidak ada modal untuk memulai. Apakah Donald Trump memiliki modal jutaan dolar untuk awal memulai usahanya? Apakah Chairul Tandjung memulai usahanya dengan modal besar dari keluarganya? Mereka yang telah sukses, tidak semua berawal dari akar yang sudah kuat. Ada beberapa dari mereka malah memulai dari nol, menumbuhkan akar, hingga menghasilkan pohon yang kuat dan berbuah manis.

Saya beropini berdasarkan pengalaman sendiri. Dan sekali lagi jujur saja saya kecewa dengan mereka-mereka yang terus berdemo dan menyalahkan pemerintah yang tidak menyediakan lapangan kerja. Memang apa harus selalu mengemis kepada penguasa? Ayo bangunlah, jadilah orang yang berani untuk memulai mandiri.

Kalau sudah menganggur 3 bulan dirumah tanpa pekerjaan dan dan tidak berani mengambil sikap, maka waktunya untuk merubah diri. Jual motor atau minta pinjangan dari keluarga inti atau saudara. Sebesar apapun modal yang Anda dapat, 5 juta kah, atau 10 jutakah, jadikan itu berguna dan langkah awal Anda membangun sebuah usaha. Kalau Anda kreatif, bangunlah sesuatu yang bagus untuk dijual kepasar dengan modal yang Anda miliki, atau Anda bisa memulai dengan usaha waralaba.

Saran saya, perbanyak nonton stasiun tv Bloomberg atau baca berita-berita bisnis kreatif, disana Anda bisa mendapatkan inspirasi untuk memulai usaha Anda. Ini pengalaman saya yang sering mendapatkan inspirasi ketika membangu website dari tayangan Bloomberg. Yang pasti, saat kamu sudah mulai, maka pertahankan itu.

Artikel ini bermanfaat? Share ke Jejaring Sosial Anda.

Artikel lain: