Suku Mante, Keberadaannya Fakta atau Mitos? Mari Kita Kupas Lebih Dalam


monzaaulia@outlook.com (31 Maret 2017) - Tentang adanya keberadaan suku Mante selalu bikin penasaran, apalagi diantara kebanyakan kita ada yang pro atau kontra akan fakta keberadaan suku Mante. Tapi diantara kedua kubu tersebut, saat ini belum ada satupun dari mereka yang mampu membuktikan pendapatnya secara real dan tak terbantahkan.

Menurut Wikipedia, Suku Mante (Gayo: Manti) atau juga dieja Mantir, adalah salah-satu etnik terawal yang disebut-sebut dalam legenda rakyat pernah mendiami Aceh. Suku ini, bersama suku-suku asli lainnya seperti Lanun, Sakai, Jakun, Senoi, dan Semang, merupakan etnik-etnik pembentuk Suku Aceh yang ada sekarang.

Suku Mante diperkirakan termasuk dalam rumpun bangsa Melayu Proto, awalnya menetap di wilayah sekitar Aceh Besar dan tinggal di pedalaman hutan. Suku-suku asli tersebut diperkirakan beremigrasi ke Aceh melalui Semenanjung Melayu. Dalam legenda Aceh, Suku Mante dan Suku Batak disebut-sebut sebagai cikal-bakal dari Kawom Lhèë Reutōïh (suku tiga ratus), yang merupakan salah satu kelompok penduduk asli Aceh. Saat ini Suku Mante sudah punah, atau lenyap karena sudah bercampur dengan suku bangsa pendatang-pendatang lainnya yang datang kemudian. Sampai saat ini, masih belum terdapat bukti ilmiah yang kuat terhadap keberadaan suku ini.

Kalau cuma karena belum ada bukti tentang keberadaan suku mante dan langsung dikatakan itu hoax, rasanya kurang bijaksana. Harus ada alasan dan bukti yang kuat untuk berpendapat hoax. Begitupun kalau anda cuma percaya suku mante itu ada hanya karena membaca beberapa media, itu juga tidaklah cukup.

Nah, yang jadi pertanyaan besarnya, suku mante itu sebenarnya ada atau tidak? Saya sendiri sulit untuk menjawabnya. Meski saya sudah beberapa kali mendaki gunung-gunung di Aceh, saya belum pernah berpapasan dengan mereka dalam kegiatan pendakian saya. Tapi ini belum bisa menjadi bukti kalau suku mante itu tidak ada, hanya gara-gara saya tidak pernah bertemu mereka dalam pendakian.

Setelah saya posting artikel tentang pendapat saya terhadap suku mante, ternyata tidak sangka-sangka salah satu pendaki gunung perempuan paling senior dikalangan mapala Aceh mengirimkan pesan facebook kesaya. Isi pesan facebook membahas tentang pandangan terhadap suku mante.

Beliau bernama Ida Rj, salah satu anggota dari angkatan kedua Metalik Unsyiah (mapala FE Unsyiah) dan aktif mendaki dari tahun 1990 hingga 1996. Beliau dikenal sebagai pendaki perempuan pertama yang berhasil mendaki salah satu gunung tersulit di Indonesia, yaitu gunung Leuser. Saya rasa pengalaman beliau dalam menelusuri hutan Aceh sudah tidak perlu diragukan lagi, dan pendapat beliau sangat layak untuk kita tampilkan.

Begini pesan facebook dari kak Ida Rj:

Gara-gara heboh dengan suku Mante, saya jadi teringat cerita tetangga saya. Sebelum jalan Banda Aceh – Meulaboh dapat dilalui (ketika itu pasca tsunami), jalan alternatifnya dari Meulaboh ke Banda Aceh melewati Geumpang Siglie. Jadi magrib itu, didepan mereka melintaslah orang-orang kerdil berbaris rapi. Sangking terkejutnya, mereka sampai memberhentikan mobil dan melihat rombongan tersebut hilang di semak-semak. Setelah rombongan tersebut tidak tampak lagi, semua yang ada di mobil saling bertanya, apa semua penumpang melihat hal yang sama?. Karena hari mulai magrib jadi mereka beranggapan itu makhluk halus tapi semua yang ada di mobil melihat hal yang sama. Katanya mereka berjalan sangat cepat. Jadi, rencananya saya mau nampakin (memperlihatkan) video ini sama tetangga saya, untuk konfirmasi sama atau tidak dengan apa yang dilihatnya dulu”.

Jadi, dalam pesan facebook yang dikirim oleh kak Ida Rj bercerita tentang pengalaman tetangganya yang bertemu rombongan yang memiliki postur berperawakan pendek. Nah, sebelum saya mendapatkan konfirmasi yang jelas betul atau tidak tetangga kak Ida melihat sosok yang sama seperti video yang sedang heboh beredar. Kak Ida memang berjanji akan memberikan info lebih lanjut ke saya setelah beliau menanyakan lagi ke tetangganya.

Saya memperkirakan kejadian ini terjadi antara tahun 2004 hingga 2006. Saya rasa ini belumlah terlalu lama. Dan menariknya terjadi di Pidie. Saya sudah cerita sebelumnya, berdasarkan pengalaman saya hutan di Pidie lebih terjaga ekosistemnya, lebih banyak fauna dan flauranya, dan sangat sedikit terkontaminasi dengan manusia modern (sangat jarang dimasuki penduduk). Selain itu, memang sudah sangat banyak kesaksian dan pendapat akan keberadaan suku Mante di wilayah Pidie.

Esok harinya, saya mendapatkan info tambahan dari kak Ida. Memang benar dan persis apa yang tetangganya lihat sama seperti yang di video. Ibu tersebut melihatnya dari jarak dekat karena berjalan di samping mobil beliau. Jumlahnya kurang lebih 30 orang, mereka cuma memakai penutup kemaluan berbentuk segitiga dari dedaunan yang diikat dipinggang. Rombongan tersebut berjalan cepat sambil bersuara seperti bergumam. Posisi mereka ketika itu berada di jalan kuburan Aneuk Manyak.

Jika kita tarik kesimpulan dari pengalaman tetangga kak Ida, semakin kuat dugaan kita bahwa mereka benar-benar manusia. Hanya manusia (memiliki cukup kecerdasan) yang menutup bagian dari kemaluannya dan membuat sesuatu yang digunakan untuk menutup kemaluan. Mereka berbicara, itu menandakan komunikasi diantara anggota kelompok sangat baik, ini semakin menjelaskan bahwa mereka bukan hewan.

Dari informasi tambahan, rombongan yang kita duga suku Mante ini berjalan tidak melihat kiri dan kanan sedikitpun, bahkan tidak lari. Mereka berjalan dari pinggir jalan masuk terus kedalam hutan, didepannya menggunakan tongkat.

Saya beranggapan yang menggunakan tongkat bisa jadi pemimpin rombongan. Nah ini bisa membuktikan suku Mante serupa seperti suku lainnya, mereka hidup berkomunitas dan dipimpin oleh kepala suku, memiliki pemahaman sosial yang baik. Ini bisa mematahkan mitos bahwa suku mante adalah makhluk halus, makhluk jadi-jadian ataupun bahkan hewan.

Kak Ida sangat yakin dan percaya kalau tetangganya itu dapat dipercaya. Namun saya rasa kita harus perbanyak lagi pendapat untuk memperkuat keyakinan kita apakah suku Mante itu ada atau tidak.

Kak Ida bercerita kalau dulu memang ada perkampungan orang-orang kerdil di daerah Krueng Raya. Memang tidaklah ramai, namun bila kita ke Krueng Raya kita menemukan mereka. Hidup mereka normal seperti kita, malah ada yang menjadi kondektur angkutan kota. Ini sekitar tahun 1990an.
Pertanyaannya, apakah masyarakat kerdil di Krueng Raya memiliki hubungan genetik dengan suku Mante? Ini hanya bisa dibuktikan jika kita benar-benar bertemu dengan suku Mante yang asli. Namun bila kita ingin berspekulasi, bisa saja masyarakat kerdil tersebut memiliki hubungan genetik suku Mante. Apalagi dari segi pemetaan lokasi, sangat memungkinkan.

Krueng Raya adalah bagian dari Kabupaten Aceh besar dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Pidie. Kalau kita kaitkan berdasarkan informasi dari Wikipedia yang katanya suku Mante berasal dari Aceh Besar dan informasi tertangkapnya video suku Mante di Aceh Besar, maka sangat memungkinkan hubungan genetik keduanya memang ada.

Lalu saya berpikir, apakah Seulawah yang notabennya begitu dekat dengan Krueng Raya memungkinkan adanya suku Mante? Meskipun dalam pendakian saya tidak pernah menjumpai mereka. Kak Ida berpendapat sangat tidak mungkin suku Mante dapat ditemukan di Seulawah. Selain karena sudah sangat terkontaminasi dengan dunia luar, pengalaman kak ida sudah mendaki Seulawah dari semua jalur, baik itu jalur Sare, Lamtamot, Lamteuba dan Lambaro, belum pernah sekalipun melihat tanda-tanda kehidupan dari suku Mante.

Akhir sesi diskusi, saya bertanya “Apakah kak Ida secara pribadi percaya atau tidak dengan beradaaan adanya suku Mante?

Kakak memang baru dengar tentang adanya suku Mante, kakak jadi tertarik karena dulu waktu tamat SMA kakak memang mau ambil kuliah arkeologi UGM, cuma tidak lewat (tidak diterima), lewatnya pilihan kedua di Ekonomi (Unsyiah). Tahun kedua, kakak tes lagi ambil arkeologi UGM, masih tetap tidak lewat, berarti rezeki memang di ekonomi hehehe

Setelah lihat video sama cerita tetangga kakak sebelum ada video, apalagi karena adanya kampung orang pendek di Krueng Raya, jadinya kakak percaya orang itu (suku Mante) memang ada. Cuma kalau kita ekspos sayang juga orang itu (suku Mante) jadinya dicari-cari. Hidupnya jadi tidak tenang, apalagi bentuk mereka aneh, jadi tontonan dong. Sayang juga.

Jadi, seorang legenda pendakian, seorang mapala paling senior yang pernah saya kenal, yang telah mendaki banyak gunung baik di Sumatera maupun pulau Jawa, percaya akan adanya keberadaan suku Mante, meski dalam pendakiannya tidak pernah sekalipun bertemu dengan suku Mante.

Gunung Peut Sagoe Pidie. Sumber https://baranom.wordpress.com 
Untuk memperkuat pendapat kak Ida, saya mengutip pendapat dari bapak Husaini Ibrahim dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah).Beliau meyakini suku Mante ini masih ada di hutan belantara Aceh. Adapun ciri-cirinya menurutnya sangat mudah untuk dikenali, karena berbeda dengan manusia biasa.  Sumber Merdeka.com.

Ciri-ciri yang paling mencolok suku Mante itu adalah tinggi tidak lebih 1 meter, berbeda dengan manusia biasa mencapai 1 meter lebih. Bahkan tinggi suku Mante itu rata-rata hanya 60 centimeter. Ciri lainnya, perawakan suku Mante ini dekat kemalayuan. Kemudian rambut suku Mante ini lurus dan bahkan ada yang panjang hingga ke punggung. "Mereka juga sangat lincah berlari,"  menurut Pak Husaini.

Pak Husaini Ibrahim yang juga seorang arkeolog Aceh ini menyebutkan suku Mante tidak bisa berbahasa Aceh, meskipun asal mereka pertama dari hutan Jantho, Kabupaten Aceh Besar. Akan tetapi mereka memiliki bahasa tersendiri untuk berkomunikasi bersama komunitas suku mereka.

Pak Husaini juga berpendapat, suku Mante tinggal di hutan belantara dan sering menjadikan gua-gua tempat tinggal mereka. Sedangkan makanan mereka makan apapun yang disediakan oleh alam, serta tinggal mereka berpindah-pindah. Bila bertemu dengan manusia biasa, mereka akan ketakutan dan langsung melarikan diri.

Suku ini mulanya berasal dari belantara hutan Jantho, Kabupaten Aceh Besar. Kemudian setelah masuknya Islam, ada sebagian suku Mante ini memeluk Islam sekitar abad ke 13. Sebagiannya lagi memilih melarikan dari menolak memeluk agama Islam.

Kemudian mereka menyebar ke sejumlah belantara hutan di Aceh. Seperti mengungsi ke Kecamatan Tangse, Geumpang di Kabupaten Pidie. Karena hutan Jantho bersambung langsung ke pegunungan Tangse dan Geumpang.

Sehingga suku ini terpecah beberapa kelompok dan terus menyebar mencari belantara hutan yang jauh dari penduduk. Sampai mereka menyebar hingga ke dataran tinggi Gayo, Lukop perbatasan antara Bener Meriah dengan Aceh Tengah.

Kisah tentang pertemuan suku Mante juga pernah terjadi oleh salah satu pendaki gunung yang bernama Hendri. Cerita ini dia sampaikan melalui detik.com. Ketika itu, dia melihat 3 sosok yang berperawakan pendek berpapasan dengannya. Jarak antara dia dengan orang diduga suku Mante itu tak terlalu jauh hanya sekitar lima meter.  Hendri kaget bukan kepalang. Karena ketakutan, ia lari meninggalkan lokasi sambil berteriak.

Hendri melihat sosok diduga suku Mante ini pada tahun 2009 lalu. Ketika itu, ia bersama beberapa temannya sedang menjelajahi hutan di pedalaman Aceh. Mereka butuh waktu sekitar satu hari satu malam berjalan kaki untuk sampai ke lokasi tempat ia melihat makhluk tanpa busana dan lincah tersebut.

Ia bercerita, saat itu ia ditugaskan mencari kayu bakar pada sore hari menjelang terbenam matahari. Hendri datang mencarinya sendiri. Setelah beberapa lama, ia mendengar suara ribut-ribut seperti suara burung.

Secara tak sengaja, Hendri melihat tiga makhluk kecil sedang bermain di sana. Karena sama-sama kaget, ia dan sosok makhluk kecil tersebut sama-sama memilih melarikan diri.

Menurut Hendri, sosok yang ia lihat lebih pendek dari yang terekam di video penggemar motor trail. Meski demikian, ia tidak berani ambil kesimpulan apakah makhluk tersebut persis dengan yang dilihatnya atau tidak.

Pada 18 Desember 1987, Kompas pernah mempublikasikan tulisan tentang kisah seorang pawang hutan yang beberapa kali bertemu dengan suku Mante. Beliau bernama Gusnar Ef­fendy.

"Semula saya masih agak ragu, apa mereka benar-benar orang Mante", kata Gusnar Effendy (72). Beliua menambahkan; "maka, saya tak berani mengungkapkannya."  Tetapi setelah ia beberapa kali berjumpa dengan  rombongan suku tersebut, ia semakin yakin bahwa keberadaan suku yang pernah “hilang” ini benar-benar bukan khayalan.

Kalau berbohong, …silakan saya digantung,” tutur Gusnar Effendy meyakinkan. Pawang hutan berusia lanjut tetapi tetap tegar ini memang sering kali menjelajah hutan dengan berjalan kaki. Dalam perjalanan  tadi, ia beberapa kali bertemu dengan kelom­pok masyarakat Mante. “Mereka tinggal berkelompok, sekitar 60-an orang, besar- kecil-laki perempuan. Sayang, begitu bertemu, mereka langsung melarikan diri menghindar.

Masyarakat Mante yang ditemukannya tadi hidup di belantara pedalaman Lokop, Kabupaten Aceh Timur. Kecuali itu Gusnar juga pernah berjumpa dengan mereka di hutan-hutan Oneng, Pintu Rimba, Rikit Gaib di Kabu­paten Aceh Tengah dan Aceh Tenggara. “Umumnya, tinggal di gua-gua celah gunung. Kalau siang hari berada di alur-alur sungai dalam  lembah.” Gua yang dijadikan tempat tinggal kelompok terasing ini dinamakah Gua Beye, Jambur Atang , Jambur Ketibung, Jambur Ratu dan Jambur Simpang.

Kalau saya telisik lagi dari cerita Gusnar Effendi, lokasi ditemukannya suku Mante persis seperti cerita yang saya dapat dari sumbernya langsung seorang tentara yang tidak sengaja bertemu dengan sosok berperawakan pendek di pedalaman Aceh Timur. Cerita ini bisa dilihat di artikel sebelumnya.

Harian Waspada juga pernah menurunkan cerita tentang jejak suku Mante, supaya tidak penasaran silahkan baca fotonya disini:

Sumber Aulia87
Kalau kita kutip dari pendapat Sejarawan Aceh, Adli Abdullah, keberadaan Suku Mante itu bisa jadi masih ada, namun dalam jumlah yang sudah sangat berkurang. Berdasarkan sejarah Aceh yang dituliskan oleh sejarawan asal Belanda KFH van Langen, dalam bukunya yang berjudul Inrichting van Het Atjehsche Staatsbestuur Onder Het Sultanaat, disebutkan bahwa Suku Mante, atau yang juga disebut Suku Mantra atau Suku Mantir, adalah suku Melayu tua yang merupakan suku awal untuk penduduk di Pulau Sumatera. Kompas.com.

Uniknya, berdasarkan informasi yang saya dapatkan Pemerintah Aceh telah berkoordinasi dengan sejumlah instansi terkait keberadaan sosok manusia yang disebut suku Mante terekam kamera video anggota komunitas motor trail Aceh. Rencananya, pemerintah akan melakukan penelitian.

Katanya, bila suku Mante masih terdapat di Aceh, pemerintah siap memfasilitasi dan membuka akses kepada mereka. Sehingga Pemerintah berpendapat suku ini tidak lagi tinggal di hutan belantara.

Untuk mempermudah melakukan penelitian, Pemerintah Aceh bakal memanggil komunitas motor trail asal Banda Aceh itu untuk mempertanyakan kejadian yang sebenarnya. Termasuk lokasi tempat mereka temukan yang diduga suku Mante.

Menurut saya, hal yang paling penting sebelum melakukan penelitian adalah pastikan dulu video tersebut real berdasarkan konfirmasi dari digital forensik, hal ini untuk menepis kecurigaan terhadap dugaan editan video. Lalu mempersempit penelusuran, yakni dari hutan Aceh besar, Pidie dan Aceh Timur yang dikonfirmasi pernah ditemukan suku Mante.

Setelah itu Pemerintah sepertinya harus siap terhadap tekanan pro-kontra dari masyarakat yang mungkin akan menolak agenda Pemerintahan Aceh yang akan meneliti tentang keberadaan suku Mante, hal ini wajar bila masyarakat menilai suku Mante berhak hidup bebas tanpa harus diusik.

Meski banyak yang percaya bahwa suku Mante benar-benar ada, tapi tidak sedikit orang yang meragukan fakta atas keberadaan suku Mante atau mempercayai suku Mante telah punah.

Menurut Sejarawan Aceh, Rusdi Sufi. Dilihat dari tinjauan ilmu pengetahuan, suku Mante sudah tidak ada lagi di Aceh. Suku Mante yang berukuran tubuh kecil tinggal di Aceh jauh sebelum Islam masuk sekitar abad 12. Merdeka.com.

Pak Rusdi menuturkan, seiring perkembangan zaman semua hutan belantara Aceh sudah terjamah manusia. Karena itu dia semakin yakin Suku Mante yang masih primitif sudah tidak ada lagi. Pak Rusdi Sufi mengatakan, suku Mante adalah orang asli Aceh yang juga lebih dekat dengan Batak. Selain itu juga dekat dekat Melayu. Sayangnya belum banyak literasi yang membahas suku Mante di Aceh.

Suku Mante hidup dalam hutan belantara yang tak terjamah oleh manusianya. Loginya, semasa konflik semua hutan di Aceh sudah terjamah oleh manusia, yaitu pasukan gerilya Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Menurut Muhajir Juli selaku pemimpin redaksi Acehtrend, Mante hanyalah makhluk mitologi yang oleh Cristian Snouck Hurgronje--orientalis asal Belanda-- ditulis dalam bukunya dengan penyebutan sepintas saja. Kemudian banyak kalangan menyebutkan--dengan merujuk keterangan Snouck-- adalah penduduk asli Aceh, dengan perawakan tubuh kecil dan punya kecepatan bergerak yang sangat cepat. Namun, sampai dengan tahun 2017, belum ada orang yang benar-benar melihat keberadaan Mante, baik Mante yang sedang berjalan sendirian, maupun pemukiman Mante di dalam rimba.

Gerilyawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan TNI yang aktif bergerak dalam rimba tatkala Aceh didera konflik, pun tidak seorang pun yang pernah bertemu dengan Mante, konon lagi menemukan permukiman mereka. Demikian juga para pelaku illegal logging dan pencari jernang, tidak ada yang pernah bertemu dengan Mante.

Lalu, bagaimana dengan komunitas trail yang tiba-tiba "berkesempatan" bertemu dengan Mante yang "kurang kerjaan" itu? Muhajir Juli meminta kita untuk kembali menyimak videonya. Banyak hal yang sangat janggal. lalu kenapa bisa seheboh seperti saat ini? banyak hal yang melatarbelakanginya. Selain karena orang Indonesia suka berita yang unik-unik dan nyaris keluar dari akal sehat, juga bisa jadi, "temuan Mante" akan berujung pada "proyek intelektual" berupa riset antropologi. Sumber ucweb.com.

Pendapat Bang Muhajir sepertinya senada dengan pendapat Snouck dalam bukunya, Aceh: Rakyat dan Adat Istiadatnya, Volume 2. Karena menurut Snouck, sebagai suku primitif yang tinggal di dalam hutan, orang Mante pernah dijadikan label untuk merendahkan orang lain. Menurut Snouck, dalam tulisan tentang Aceh dan dalam percakapan sehari-hari, orang yang tolol dan serba canggung disamakan dengan orang Mante. Di daerah dataran rendah, perkataan ini juga dipakai untuk memberi julukan kepada penduduk dataran tinggi, yang dianggap mereka kurang beradab dan dalam arti yang sama juga diterapkan pada penduduk pantai barat yang berdarah campuran.

Bahkan, menurut Snouck, Mante (orang hutan) juga disebut sebagai “sekelompok orang yang sering diceritakan sebagai makhluk jahat dalam dongengan Aceh.” Sumber historia.id.

Baiklah…

Akhir dari tulisan ini yang bisa saya pastikan, dari beberapa orang yang percaya akan adanya keberadaan suku Mante berpendapat suku ini masih ada dan mendiami wilayah hutan di Aceh yang jauh dari peradaban kehidupan modern.

Pendapat yang kontra, yang artinya tidak mempercayai keberadaan suku Mante juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Karena pendapatnya juga berdasarkan dari pemahaman yang ada dilapangan.

Menurut saya, hanya video dari pemotor cross itu satu-satunya kunci untuk menguak misteri ini. Kalau hanya dari cerita-cerita saja rasanya kurang klop. Teliti videonya, uji digital forensik, dan gali informasi lebih dalam, maka kita akan menemukan fakta sebenarnya. Sumbernya video, yang ada dilapangan bukan 1 orang, tapi lebih dari 3 pemotor yang ada, saya rasa akan lebih mudah digali informasi faktanya.

Dan saya tertarik dengan pendapat dari bang Aulia Fitri yang menulis di laman facebooknya mengenai video suku Mante, "Jika ditelisik video ini memang murni, tanpa suntingan dan polesan efek. Gerakan lincah pertama muncul dari kanan hingga belok kanan dan akhirnya menghilang masuk ke semak-semak sebelah kiri menandakan bahwa mereka (mungkin) masih ada."

Bang Aulia Fitri yang dikenal sebagai salah satu generasi pertama Aceh Blogger dan pendiri komunitas I Love Aceh memang sudah beberapa kali terlibat dalam diskusi tentang suku Mante baik di blog dan laman facebooknya. Pendapat bang Aulia saya pikir patut diperhitungkan mengingat sepak terjang beliau yang sudah lama di dunia digital.

Misteri tentang jejak suku Mante sudah sangat lama diperbincangkan oleh para budayawan, arkeolog, dan para penulis. Jadi berita suku Mante dan pro kontranya tidaklah sama seperti berita bumi itu datar, karena suku Mante belum terbukti hoax, namun juga keberadaannya belum terkuak habis.

Nah, apakah anda tergolong orang yang percaya akan keberadaan suku Mante atau tidak? Sertakan alasannya di komentar. Jika anda memiliki bukti kuat akan keberadaan suku mante atau anda juga miliki bukti untuk mengatakan suku Mante adalah hoax, kirimkan ke saya melalui pesan facebook (https://www.facebook.com/monzaauliaofficial) dan saya akan update postingannya ke artikel ini.

Artikel ini bermanfaat? Share ke Jejaring Sosial Anda.

Artikel lain:

1 Komentar untuk "Suku Mante, Keberadaannya Fakta atau Mitos? Mari Kita Kupas Lebih Dalam"