Menanggapi Keberadaan Suku Mante di Hutan Aceh


monzaaulia@outlook.com (29 Maret 2017) - Akhir-akhir ini masyarakat dibikin heboh tentang tertangkapnya video suku mante dari kamera action oleh para pecinta motorcross Aceh. Video tersebuh sudah beredar luas, baik di youtube, facebook maupun di instagram.

Bagi yang belum nonton, silahkan lihat videonya dibawah ini:



Bukan pertama kali ini saya mendengar cerita tentang suku mante. Pada tahun 2008, saya mendengar cerita tentang sosok manusia yang memiliki perawakan pendek ini dari seorang tentara. Katanya, tentara tersebut tidak sengaja bertemu salah satu dari anggota sukunya di pedalaman hutan yang berbatasan dengan Aceh Timur dan Aceh Tamiang.

Saya lupa namanya tentara tersebut, tapi dari ceritanya itu memang kelihatannya benar adanya, walaupun tidak bisa membuktikan kebenarannya secara langsung. Cuma waktu itu saya dan dia belum tahu kalau sosok yang diceritakan ini bernama Mante, dia menyebutnya ada suku pedalaman di Aceh yang memiliki perawakan tubuh yang pendek.

Bagaimana ceritanya tentara tersebut bisa bertemu dengan salah satu dari suku Mante? Waktu itu regu dia memang sedang melaksanakan tugas untuk menyisir hutan-hutan yang diduga sebagai markasnya kombatan GAM. Bukannya bertemu GAM, dia malah bertemu dengan sosok yang beda dari umumnya.

Selang beberapa tahun kemudian baru saya tahu tentang adanya cerita suku Mante yang hidup di hutan pedalaman di Aceh. Lebih gila lagi, selain perawakan berpostur pendek, suku Mante juga katanya memiliki kaki terbalik. Wallahualam.

Cerita dari tentara tersebut dan cerita dari orang-orang lain yang saya dengar seolah-olah membuktikan bahwa suku mante memang ada. Tapi memang sulit kita buktikan, namun video yang beredar tersebut seharusnya dapat menjadi bukti kuat kalau suku Mante memang ada, tapi tentu video tersebut perlu diuji oleh digital forensic untuk memastikan bahwa itu video real dan bukan editan.

Berdasarkan Wikipedia, National Geographic pernah melakukan penelitian tentang orang kerdil di Kerinci 22 September 2005. Selama dua tahun, mereka memasang kamera perangkap dalam rangkaian penelitian untuk membuktikan keberadaaan orang kerdil alias suku Mante. Namun hasilnya nihil.

Apa karena lembaga sekelas National Geographic gagal menemukan keberadaannya berarti suku Mante itu hoax? Belum tentu, bisa saja suku Mante mengetahui keberadaan orang lain, atau menemukan sesuatu yang tidak beres dirumah mereka sehingga mereka bersembunyi. Dari beberapa cerita orang-orang yang “katanya” pernah bertemu mereka, suku Mante lebih condong dianggap sebagai manusia daripada hewan, sehingga kita tahu kecerdasan mereka (sebagai sosok manusia) lebih baik dari hewan sekitarnya.

National Geographic akan lebih mudah bila yang mereka rekam itu harimau, tapi kalau benar suku Mante itu adalah manusia, berarti mereka sedang berhadapan dengan makhluk yang memiliki kecerdasan yang cukup.

Bagaimana dengan saya, apakah saya mampu membuktikan keberadaan suku mante?

Saya memang hobi sekali mendaki gunung dan menjelajahi hutan-hutan, terutama hutan di Aceh.

Tahun 2013 dan 2015, saya bersama teman-teman mendaki gunung Seulawah Agam, gunung yang memiliki ketinggian 1726mdpl merupakan gunung berapi yang berada di kawasan hutan Aceh Besar. Dari segi administratif, gunung ini letaknya sama dengan lokasi tempat terekamnya suku Mante, sama-sama di Aceh Besar, meski lokasi persisnya ditutupi oleh perekamnya.


Dari kedua pendakian Seulawah Agam, saya tidak pernah sekalipun bertemu suku Mante. Banyak factor yang mungkin saya tidak bertemu mereka, pertama: mungkin di Seulawah memang tidak ada suku Mante-nya, melihat Seulawah sudah sangat terkontaminasi dengan penduduk lokal modern yang sering mendaki Seulawah Agam, bahkan banyak motor trail yang jalan ke gunung Seulawah. Kedua: Mungkin saja suku Mantenya ada, tapi di titik tertentu yang tidak terjamah manusia, mengingat hutan rimba tropis Seulawah begitu luas.

Tahun 2015 saya juga pernah mendaki Gunung Gohleumo, gunung itu tidak begitu tinggi, sekitar 800mdpl, tapi hutannya saya pikir lumayan lebat. Seulawah di Aceh Besar, Gohleumo juga di Aceh Besar, kedua gunung ini tidak saya jumpai keberadaan suku Mante.

Mulai tahun 2008 hingga 2015, saya sudah beberapa kali mendaki gunung Burni Telong. Saya rasa sudah lebih 10 kali, tapi tiap pendakian saya ke Burni Telong tidak pernah sekalipun bertemu dengan sosok yang kita duga Suku Mante. Alasannya tetap sama seperti Seulawah, Burni Telong termasuk gunung yang paling banyak didaki oleh anak-anak Mapala.



Tahun 2015 saya pun menyempatkan diri mendaki gunung Burni Kelieten, gunung yang berada di Aceh Tengah ini sebenarnya gunung yang jarang didaki oleh pendaki, barangkali karena medannya yang lumayan berat.

Gunung Burni Kelieten memiliki beragam flaura yang sangat indah, terutama spesies anggrek. Dari struktur alam yang lebat, saya pikir Burni kelieten sangat cocok dijadikan tempat hidupnya suku Mante, andai mereka memilih Burni Kelieten sebagai tempat hidupnya. Namun lagi-lagi saya kurang beruntung, saya tidak menemukan tanda-tanda kehidupan suku Mante di Burni Kelieten.


Kalau beberapa gunung diatas masih kurang cocok sebagai tempat hidup suku Mante karena alasan kontaminasi oleh pendaki, maka gunung salak yang betul-betul terjaga baik flaura dan fauna nya maka adalah tempat yang tepat untuk dijadikan indikasi sebagai tempat suku Mante hidup.

Gunung salak memang sangat terjaga hutannya, begitu lebat, dan masih banyak fauna yang hidup disana. Saya mendaki gunung tersebut sekitar tahun 2014 bersama salah satu anggota komunitas pecinta alam kabupaten Pidie.


Ada banyak fauna yang saya jumpai disana, diantaranya beruang, merak, kodok yang bersuara seperti burung, ular, landak dan fauna lainnya. Dan lagi-lagi tanda keberadaan suku Mante juga saya tidak jumpai.

Semua hutan yang saya jelajahi, tidak ada satupun hutan yang menunjukkan adanya kehidupan dari suku Mante. Tapi, meski tidak saya temukan mereka, bukan berarti saya tidak mempercayai tentang keberadaan suku Mante. Alasannya sudah jelas, saya bukan orang yang ahli peradaban, ya artinya bisa jadi ketika saya mendaki ada yang lost dari pandangan saya tentang bukti-bukti adanya peradaban. Alasannya lainnya, hutan Aceh ini sangat luas, satu hutan saja kita tidak mampu jelajahi semua sudut, apalagi Aceh memiliki hutan lebat tiap kabupatennya.


Apakah suku Mante itu fakta atau mitos? Saya sulit menjawabnya dan tidak ada jawaban untuk itu. Artinya, misteri suku Mante memang belum terpecahkan.

Baik, sudah dulu, maag saya mulai kumat, cerita suku Mante saya cukupi dulu. Sampai ketemu dengan tulisan saya selanjutnya.

Artikel ini bermanfaat? Share ke Jejaring Sosial Anda.

Artikel lain:

9 Komentar untuk "Menanggapi Keberadaan Suku Mante di Hutan Aceh"

  1. Baca tulisan Monza jadi kepingin naik gunung, tapi takut sama pacat hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngga semua gunung ada pacatnya kok :D

      Delete
  2. Kak ihan takut sama pacaaat? Wkwkwkkwkw

    ReplyDelete
  3. suku mante sekilas mirip suku anak dalam sebelum mereka mengenal modernisasi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum banyak informasi mengenai suku mante :D

      Delete
  4. Saya pikir anda ketemu dgn suku mante itu

    ReplyDelete
  5. Saya pikir anda ketemu dgn suku mante itu

    ReplyDelete
  6. Bisa jadi suku Mante lebih mengenal seluk beluk hutan dibanding kita, bisa jadi mereka punya tempat persembunyian tersendiri yang takkan ditemukan oleh manusia urban. Btw nice article! :)

    ReplyDelete