Suku Mante, Keberadaannya Fakta atau Mitos? Mari Kita Kupas Lebih Dalam


monzaaulia@outlook.com (31 Maret 2017) - Tentang adanya keberadaan suku Mante selalu bikin penasaran, apalagi diantara kebanyakan kita ada yang pro atau kontra akan fakta keberadaan suku Mante. Tapi diantara kedua kubu tersebut, saat ini belum ada satupun dari mereka yang mampu membuktikan pendapatnya secara real dan tak terbantahkan.

Menurut Wikipedia, Suku Mante (Gayo: Manti) atau juga dieja Mantir, adalah salah-satu etnik terawal yang disebut-sebut dalam legenda rakyat pernah mendiami Aceh. Suku ini, bersama suku-suku asli lainnya seperti Lanun, Sakai, Jakun, Senoi, dan Semang, merupakan etnik-etnik pembentuk Suku Aceh yang ada sekarang.

Suku Mante diperkirakan termasuk dalam rumpun bangsa Melayu Proto, awalnya menetap di wilayah sekitar Aceh Besar dan tinggal di pedalaman hutan. Suku-suku asli tersebut diperkirakan beremigrasi ke Aceh melalui Semenanjung Melayu. Dalam legenda Aceh, Suku Mante dan Suku Batak disebut-sebut sebagai cikal-bakal dari Kawom Lhèë Reutōïh (suku tiga ratus), yang merupakan salah satu kelompok penduduk asli Aceh. Saat ini Suku Mante sudah punah, atau lenyap karena sudah bercampur dengan suku bangsa pendatang-pendatang lainnya yang datang kemudian. Sampai saat ini, masih belum terdapat bukti ilmiah yang kuat terhadap keberadaan suku ini.

Kalau cuma karena belum ada bukti tentang keberadaan suku mante dan langsung dikatakan itu hoax, rasanya kurang bijaksana. Harus ada alasan dan bukti yang kuat untuk berpendapat hoax. Begitupun kalau anda cuma percaya suku mante itu ada hanya karena membaca beberapa media, itu juga tidaklah cukup.

Nah, yang jadi pertanyaan besarnya, suku mante itu sebenarnya ada atau tidak? Saya sendiri sulit untuk menjawabnya. Meski saya sudah beberapa kali mendaki gunung-gunung di Aceh, saya belum pernah berpapasan dengan mereka dalam kegiatan pendakian saya. Tapi ini belum bisa menjadi bukti kalau suku mante itu tidak ada, hanya gara-gara saya tidak pernah bertemu mereka dalam pendakian.

Setelah saya posting artikel tentang pendapat saya terhadap suku mante, ternyata tidak sangka-sangka salah satu pendaki gunung perempuan paling senior dikalangan mapala Aceh mengirimkan pesan facebook kesaya. Isi pesan facebook membahas tentang pandangan terhadap suku mante.

Beliau bernama Ida Rj, salah satu anggota dari angkatan kedua Metalik Unsyiah (mapala FE Unsyiah) dan aktif mendaki dari tahun 1990 hingga 1996. Beliau dikenal sebagai pendaki perempuan pertama yang berhasil mendaki salah satu gunung tersulit di Indonesia, yaitu gunung Leuser. Saya rasa pengalaman beliau dalam menelusuri hutan Aceh sudah tidak perlu diragukan lagi, dan pendapat beliau sangat layak untuk kita tampilkan.

Begini pesan facebook dari kak Ida Rj:

Gara-gara heboh dengan suku Mante, saya jadi teringat cerita tetangga saya. Sebelum jalan Banda Aceh – Meulaboh dapat dilalui (ketika itu pasca tsunami), jalan alternatifnya dari Meulaboh ke Banda Aceh melewati Geumpang Siglie. Jadi magrib itu, didepan mereka melintaslah orang-orang kerdil berbaris rapi. Sangking terkejutnya, mereka sampai memberhentikan mobil dan melihat rombongan tersebut hilang di semak-semak. Setelah rombongan tersebut tidak tampak lagi, semua yang ada di mobil saling bertanya, apa semua penumpang melihat hal yang sama?. Karena hari mulai magrib jadi mereka beranggapan itu makhluk halus tapi semua yang ada di mobil melihat hal yang sama. Katanya mereka berjalan sangat cepat. Jadi, rencananya saya mau nampakin (memperlihatkan) video ini sama tetangga saya, untuk konfirmasi sama atau tidak dengan apa yang dilihatnya dulu”.

Jadi, dalam pesan facebook yang dikirim oleh kak Ida Rj bercerita tentang pengalaman tetangganya yang bertemu rombongan yang memiliki postur berperawakan pendek. Nah, sebelum saya mendapatkan konfirmasi yang jelas betul atau tidak tetangga kak Ida melihat sosok yang sama seperti video yang sedang heboh beredar. Kak Ida memang berjanji akan memberikan info lebih lanjut ke saya setelah beliau menanyakan lagi ke tetangganya.

Saya memperkirakan kejadian ini terjadi antara tahun 2004 hingga 2006. Saya rasa ini belumlah terlalu lama. Dan menariknya terjadi di Pidie. Saya sudah cerita sebelumnya, berdasarkan pengalaman saya hutan di Pidie lebih terjaga ekosistemnya, lebih banyak fauna dan flauranya, dan sangat sedikit terkontaminasi dengan manusia modern (sangat jarang dimasuki penduduk). Selain itu, memang sudah sangat banyak kesaksian dan pendapat akan keberadaan suku Mante di wilayah Pidie.

Esok harinya, saya mendapatkan info tambahan dari kak Ida. Memang benar dan persis apa yang tetangganya lihat sama seperti yang di video. Ibu tersebut melihatnya dari jarak dekat karena berjalan di samping mobil beliau. Jumlahnya kurang lebih 30 orang, mereka cuma memakai penutup kemaluan berbentuk segitiga dari dedaunan yang diikat dipinggang. Rombongan tersebut berjalan cepat sambil bersuara seperti bergumam. Posisi mereka ketika itu berada di jalan kuburan Aneuk Manyak.

Jika kita tarik kesimpulan dari pengalaman tetangga kak Ida, semakin kuat dugaan kita bahwa mereka benar-benar manusia. Hanya manusia (memiliki cukup kecerdasan) yang menutup bagian dari kemaluannya dan membuat sesuatu yang digunakan untuk menutup kemaluan. Mereka berbicara, itu menandakan komunikasi diantara anggota kelompok sangat baik, ini semakin menjelaskan bahwa mereka bukan hewan.

Dari informasi tambahan, rombongan yang kita duga suku Mante ini berjalan tidak melihat kiri dan kanan sedikitpun, bahkan tidak lari. Mereka berjalan dari pinggir jalan masuk terus kedalam hutan, didepannya menggunakan tongkat.

Saya beranggapan yang menggunakan tongkat bisa jadi pemimpin rombongan. Nah ini bisa membuktikan suku Mante serupa seperti suku lainnya, mereka hidup berkomunitas dan dipimpin oleh kepala suku, memiliki pemahaman sosial yang baik. Ini bisa mematahkan mitos bahwa suku mante adalah makhluk halus, makhluk jadi-jadian ataupun bahkan hewan.

Kak Ida sangat yakin dan percaya kalau tetangganya itu dapat dipercaya. Namun saya rasa kita harus perbanyak lagi pendapat untuk memperkuat keyakinan kita apakah suku Mante itu ada atau tidak.

Kak Ida bercerita kalau dulu memang ada perkampungan orang-orang kerdil di daerah Krueng Raya. Memang tidaklah ramai, namun bila kita ke Krueng Raya kita menemukan mereka. Hidup mereka normal seperti kita, malah ada yang menjadi kondektur angkutan kota. Ini sekitar tahun 1990an.
Pertanyaannya, apakah masyarakat kerdil di Krueng Raya memiliki hubungan genetik dengan suku Mante? Ini hanya bisa dibuktikan jika kita benar-benar bertemu dengan suku Mante yang asli. Namun bila kita ingin berspekulasi, bisa saja masyarakat kerdil tersebut memiliki hubungan genetik suku Mante. Apalagi dari segi pemetaan lokasi, sangat memungkinkan.

Krueng Raya adalah bagian dari Kabupaten Aceh besar dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Pidie. Kalau kita kaitkan berdasarkan informasi dari Wikipedia yang katanya suku Mante berasal dari Aceh Besar dan informasi tertangkapnya video suku Mante di Aceh Besar, maka sangat memungkinkan hubungan genetik keduanya memang ada.

Lalu saya berpikir, apakah Seulawah yang notabennya begitu dekat dengan Krueng Raya memungkinkan adanya suku Mante? Meskipun dalam pendakian saya tidak pernah menjumpai mereka. Kak Ida berpendapat sangat tidak mungkin suku Mante dapat ditemukan di Seulawah. Selain karena sudah sangat terkontaminasi dengan dunia luar, pengalaman kak ida sudah mendaki Seulawah dari semua jalur, baik itu jalur Sare, Lamtamot, Lamteuba dan Lambaro, belum pernah sekalipun melihat tanda-tanda kehidupan dari suku Mante.

Akhir sesi diskusi, saya bertanya “Apakah kak Ida secara pribadi percaya atau tidak dengan beradaaan adanya suku Mante?

Kakak memang baru dengar tentang adanya suku Mante, kakak jadi tertarik karena dulu waktu tamat SMA kakak memang mau ambil kuliah arkeologi UGM, cuma tidak lewat (tidak diterima), lewatnya pilihan kedua di Ekonomi (Unsyiah). Tahun kedua, kakak tes lagi ambil arkeologi UGM, masih tetap tidak lewat, berarti rezeki memang di ekonomi hehehe

Setelah lihat video sama cerita tetangga kakak sebelum ada video, apalagi karena adanya kampung orang pendek di Krueng Raya, jadinya kakak percaya orang itu (suku Mante) memang ada. Cuma kalau kita ekspos sayang juga orang itu (suku Mante) jadinya dicari-cari. Hidupnya jadi tidak tenang, apalagi bentuk mereka aneh, jadi tontonan dong. Sayang juga.

Jadi, seorang legenda pendakian, seorang mapala paling senior yang pernah saya kenal, yang telah mendaki banyak gunung baik di Sumatera maupun pulau Jawa, percaya akan adanya keberadaan suku Mante, meski dalam pendakiannya tidak pernah sekalipun bertemu dengan suku Mante.

Gunung Peut Sagoe Pidie. Sumber https://baranom.wordpress.com 
Untuk memperkuat pendapat kak Ida, saya mengutip pendapat dari bapak Husaini Ibrahim dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah).Beliau meyakini suku Mante ini masih ada di hutan belantara Aceh. Adapun ciri-cirinya menurutnya sangat mudah untuk dikenali, karena berbeda dengan manusia biasa.  Sumber Merdeka.com.

Ciri-ciri yang paling mencolok suku Mante itu adalah tinggi tidak lebih 1 meter, berbeda dengan manusia biasa mencapai 1 meter lebih. Bahkan tinggi suku Mante itu rata-rata hanya 60 centimeter. Ciri lainnya, perawakan suku Mante ini dekat kemalayuan. Kemudian rambut suku Mante ini lurus dan bahkan ada yang panjang hingga ke punggung. "Mereka juga sangat lincah berlari,"  menurut Pak Husaini.

Pak Husaini Ibrahim yang juga seorang arkeolog Aceh ini menyebutkan suku Mante tidak bisa berbahasa Aceh, meskipun asal mereka pertama dari hutan Jantho, Kabupaten Aceh Besar. Akan tetapi mereka memiliki bahasa tersendiri untuk berkomunikasi bersama komunitas suku mereka.

Pak Husaini juga berpendapat, suku Mante tinggal di hutan belantara dan sering menjadikan gua-gua tempat tinggal mereka. Sedangkan makanan mereka makan apapun yang disediakan oleh alam, serta tinggal mereka berpindah-pindah. Bila bertemu dengan manusia biasa, mereka akan ketakutan dan langsung melarikan diri.

Suku ini mulanya berasal dari belantara hutan Jantho, Kabupaten Aceh Besar. Kemudian setelah masuknya Islam, ada sebagian suku Mante ini memeluk Islam sekitar abad ke 13. Sebagiannya lagi memilih melarikan dari menolak memeluk agama Islam.

Kemudian mereka menyebar ke sejumlah belantara hutan di Aceh. Seperti mengungsi ke Kecamatan Tangse, Geumpang di Kabupaten Pidie. Karena hutan Jantho bersambung langsung ke pegunungan Tangse dan Geumpang.

Sehingga suku ini terpecah beberapa kelompok dan terus menyebar mencari belantara hutan yang jauh dari penduduk. Sampai mereka menyebar hingga ke dataran tinggi Gayo, Lukop perbatasan antara Bener Meriah dengan Aceh Tengah.

Kisah tentang pertemuan suku Mante juga pernah terjadi oleh salah satu pendaki gunung yang bernama Hendri. Cerita ini dia sampaikan melalui detik.com. Ketika itu, dia melihat 3 sosok yang berperawakan pendek berpapasan dengannya. Jarak antara dia dengan orang diduga suku Mante itu tak terlalu jauh hanya sekitar lima meter.  Hendri kaget bukan kepalang. Karena ketakutan, ia lari meninggalkan lokasi sambil berteriak.

Hendri melihat sosok diduga suku Mante ini pada tahun 2009 lalu. Ketika itu, ia bersama beberapa temannya sedang menjelajahi hutan di pedalaman Aceh. Mereka butuh waktu sekitar satu hari satu malam berjalan kaki untuk sampai ke lokasi tempat ia melihat makhluk tanpa busana dan lincah tersebut.

Ia bercerita, saat itu ia ditugaskan mencari kayu bakar pada sore hari menjelang terbenam matahari. Hendri datang mencarinya sendiri. Setelah beberapa lama, ia mendengar suara ribut-ribut seperti suara burung.

Secara tak sengaja, Hendri melihat tiga makhluk kecil sedang bermain di sana. Karena sama-sama kaget, ia dan sosok makhluk kecil tersebut sama-sama memilih melarikan diri.

Menurut Hendri, sosok yang ia lihat lebih pendek dari yang terekam di video penggemar motor trail. Meski demikian, ia tidak berani ambil kesimpulan apakah makhluk tersebut persis dengan yang dilihatnya atau tidak.

Pada 18 Desember 1987, Kompas pernah mempublikasikan tulisan tentang kisah seorang pawang hutan yang beberapa kali bertemu dengan suku Mante. Beliau bernama Gusnar Ef­fendy.

"Semula saya masih agak ragu, apa mereka benar-benar orang Mante", kata Gusnar Effendy (72). Beliua menambahkan; "maka, saya tak berani mengungkapkannya."  Tetapi setelah ia beberapa kali berjumpa dengan  rombongan suku tersebut, ia semakin yakin bahwa keberadaan suku yang pernah “hilang” ini benar-benar bukan khayalan.

Kalau berbohong, …silakan saya digantung,” tutur Gusnar Effendy meyakinkan. Pawang hutan berusia lanjut tetapi tetap tegar ini memang sering kali menjelajah hutan dengan berjalan kaki. Dalam perjalanan  tadi, ia beberapa kali bertemu dengan kelom­pok masyarakat Mante. “Mereka tinggal berkelompok, sekitar 60-an orang, besar- kecil-laki perempuan. Sayang, begitu bertemu, mereka langsung melarikan diri menghindar.

Masyarakat Mante yang ditemukannya tadi hidup di belantara pedalaman Lokop, Kabupaten Aceh Timur. Kecuali itu Gusnar juga pernah berjumpa dengan mereka di hutan-hutan Oneng, Pintu Rimba, Rikit Gaib di Kabu­paten Aceh Tengah dan Aceh Tenggara. “Umumnya, tinggal di gua-gua celah gunung. Kalau siang hari berada di alur-alur sungai dalam  lembah.” Gua yang dijadikan tempat tinggal kelompok terasing ini dinamakah Gua Beye, Jambur Atang , Jambur Ketibung, Jambur Ratu dan Jambur Simpang.

Kalau saya telisik lagi dari cerita Gusnar Effendi, lokasi ditemukannya suku Mante persis seperti cerita yang saya dapat dari sumbernya langsung seorang tentara yang tidak sengaja bertemu dengan sosok berperawakan pendek di pedalaman Aceh Timur. Cerita ini bisa dilihat di artikel sebelumnya.

Harian Waspada juga pernah menurunkan cerita tentang jejak suku Mante, supaya tidak penasaran silahkan baca fotonya disini:

Sumber Aulia87
Kalau kita kutip dari pendapat Sejarawan Aceh, Adli Abdullah, keberadaan Suku Mante itu bisa jadi masih ada, namun dalam jumlah yang sudah sangat berkurang. Berdasarkan sejarah Aceh yang dituliskan oleh sejarawan asal Belanda KFH van Langen, dalam bukunya yang berjudul Inrichting van Het Atjehsche Staatsbestuur Onder Het Sultanaat, disebutkan bahwa Suku Mante, atau yang juga disebut Suku Mantra atau Suku Mantir, adalah suku Melayu tua yang merupakan suku awal untuk penduduk di Pulau Sumatera. Kompas.com.

Uniknya, berdasarkan informasi yang saya dapatkan Pemerintah Aceh telah berkoordinasi dengan sejumlah instansi terkait keberadaan sosok manusia yang disebut suku Mante terekam kamera video anggota komunitas motor trail Aceh. Rencananya, pemerintah akan melakukan penelitian.

Katanya, bila suku Mante masih terdapat di Aceh, pemerintah siap memfasilitasi dan membuka akses kepada mereka. Sehingga Pemerintah berpendapat suku ini tidak lagi tinggal di hutan belantara.

Untuk mempermudah melakukan penelitian, Pemerintah Aceh bakal memanggil komunitas motor trail asal Banda Aceh itu untuk mempertanyakan kejadian yang sebenarnya. Termasuk lokasi tempat mereka temukan yang diduga suku Mante.

Menurut saya, hal yang paling penting sebelum melakukan penelitian adalah pastikan dulu video tersebut real berdasarkan konfirmasi dari digital forensik, hal ini untuk menepis kecurigaan terhadap dugaan editan video. Lalu mempersempit penelusuran, yakni dari hutan Aceh besar, Pidie dan Aceh Timur yang dikonfirmasi pernah ditemukan suku Mante.

Setelah itu Pemerintah sepertinya harus siap terhadap tekanan pro-kontra dari masyarakat yang mungkin akan menolak agenda Pemerintahan Aceh yang akan meneliti tentang keberadaan suku Mante, hal ini wajar bila masyarakat menilai suku Mante berhak hidup bebas tanpa harus diusik.

Meski banyak yang percaya bahwa suku Mante benar-benar ada, tapi tidak sedikit orang yang meragukan fakta atas keberadaan suku Mante atau mempercayai suku Mante telah punah.

Menurut Sejarawan Aceh, Rusdi Sufi. Dilihat dari tinjauan ilmu pengetahuan, suku Mante sudah tidak ada lagi di Aceh. Suku Mante yang berukuran tubuh kecil tinggal di Aceh jauh sebelum Islam masuk sekitar abad 12. Merdeka.com.

Pak Rusdi menuturkan, seiring perkembangan zaman semua hutan belantara Aceh sudah terjamah manusia. Karena itu dia semakin yakin Suku Mante yang masih primitif sudah tidak ada lagi. Pak Rusdi Sufi mengatakan, suku Mante adalah orang asli Aceh yang juga lebih dekat dengan Batak. Selain itu juga dekat dekat Melayu. Sayangnya belum banyak literasi yang membahas suku Mante di Aceh.

Suku Mante hidup dalam hutan belantara yang tak terjamah oleh manusianya. Loginya, semasa konflik semua hutan di Aceh sudah terjamah oleh manusia, yaitu pasukan gerilya Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Menurut Muhajir Juli selaku pemimpin redaksi Acehtrend, Mante hanyalah makhluk mitologi yang oleh Cristian Snouck Hurgronje--orientalis asal Belanda-- ditulis dalam bukunya dengan penyebutan sepintas saja. Kemudian banyak kalangan menyebutkan--dengan merujuk keterangan Snouck-- adalah penduduk asli Aceh, dengan perawakan tubuh kecil dan punya kecepatan bergerak yang sangat cepat. Namun, sampai dengan tahun 2017, belum ada orang yang benar-benar melihat keberadaan Mante, baik Mante yang sedang berjalan sendirian, maupun pemukiman Mante di dalam rimba.

Gerilyawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan TNI yang aktif bergerak dalam rimba tatkala Aceh didera konflik, pun tidak seorang pun yang pernah bertemu dengan Mante, konon lagi menemukan permukiman mereka. Demikian juga para pelaku illegal logging dan pencari jernang, tidak ada yang pernah bertemu dengan Mante.

Lalu, bagaimana dengan komunitas trail yang tiba-tiba "berkesempatan" bertemu dengan Mante yang "kurang kerjaan" itu? Muhajir Juli meminta kita untuk kembali menyimak videonya. Banyak hal yang sangat janggal. lalu kenapa bisa seheboh seperti saat ini? banyak hal yang melatarbelakanginya. Selain karena orang Indonesia suka berita yang unik-unik dan nyaris keluar dari akal sehat, juga bisa jadi, "temuan Mante" akan berujung pada "proyek intelektual" berupa riset antropologi. Sumber ucweb.com.

Pendapat Bang Muhajir sepertinya senada dengan pendapat Snouck dalam bukunya, Aceh: Rakyat dan Adat Istiadatnya, Volume 2. Karena menurut Snouck, sebagai suku primitif yang tinggal di dalam hutan, orang Mante pernah dijadikan label untuk merendahkan orang lain. Menurut Snouck, dalam tulisan tentang Aceh dan dalam percakapan sehari-hari, orang yang tolol dan serba canggung disamakan dengan orang Mante. Di daerah dataran rendah, perkataan ini juga dipakai untuk memberi julukan kepada penduduk dataran tinggi, yang dianggap mereka kurang beradab dan dalam arti yang sama juga diterapkan pada penduduk pantai barat yang berdarah campuran.

Bahkan, menurut Snouck, Mante (orang hutan) juga disebut sebagai “sekelompok orang yang sering diceritakan sebagai makhluk jahat dalam dongengan Aceh.” Sumber historia.id.

Baiklah…

Akhir dari tulisan ini yang bisa saya pastikan, dari beberapa orang yang percaya akan adanya keberadaan suku Mante berpendapat suku ini masih ada dan mendiami wilayah hutan di Aceh yang jauh dari peradaban kehidupan modern.

Pendapat yang kontra, yang artinya tidak mempercayai keberadaan suku Mante juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Karena pendapatnya juga berdasarkan dari pemahaman yang ada dilapangan.

Menurut saya, hanya video dari pemotor cross itu satu-satunya kunci untuk menguak misteri ini. Kalau hanya dari cerita-cerita saja rasanya kurang klop. Teliti videonya, uji digital forensik, dan gali informasi lebih dalam, maka kita akan menemukan fakta sebenarnya. Sumbernya video, yang ada dilapangan bukan 1 orang, tapi lebih dari 3 pemotor yang ada, saya rasa akan lebih mudah digali informasi faktanya.

Dan saya tertarik dengan pendapat dari bang Aulia Fitri yang menulis di laman facebooknya mengenai video suku Mante, "Jika ditelisik video ini memang murni, tanpa suntingan dan polesan efek. Gerakan lincah pertama muncul dari kanan hingga belok kanan dan akhirnya menghilang masuk ke semak-semak sebelah kiri menandakan bahwa mereka (mungkin) masih ada."

Bang Aulia Fitri yang dikenal sebagai salah satu generasi pertama Aceh Blogger dan pendiri komunitas I Love Aceh memang sudah beberapa kali terlibat dalam diskusi tentang suku Mante baik di blog dan laman facebooknya. Pendapat bang Aulia saya pikir patut diperhitungkan mengingat sepak terjang beliau yang sudah lama di dunia digital.

Misteri tentang jejak suku Mante sudah sangat lama diperbincangkan oleh para budayawan, arkeolog, dan para penulis. Jadi berita suku Mante dan pro kontranya tidaklah sama seperti berita bumi itu datar, karena suku Mante belum terbukti hoax, namun juga keberadaannya belum terkuak habis.

Nah, apakah anda tergolong orang yang percaya akan keberadaan suku Mante atau tidak? Sertakan alasannya di komentar. Jika anda memiliki bukti kuat akan keberadaan suku mante atau anda juga miliki bukti untuk mengatakan suku Mante adalah hoax, kirimkan ke saya melalui pesan facebook (https://www.facebook.com/monzaauliaofficial) dan saya akan update postingannya ke artikel ini.

Artikel ini bermanfaat? Share ke Jejaring Sosial Anda.

Artikel lain:

Menanggapi Keberadaan Suku Mante di Hutan Aceh


monzaaulia@outlook.com (29 Maret 2017) - Akhir-akhir ini masyarakat dibikin heboh tentang tertangkapnya video suku mante dari kamera action oleh para pecinta motorcross Aceh. Video tersebuh sudah beredar luas, baik di youtube, facebook maupun di instagram.

Bagi yang belum nonton, silahkan lihat videonya dibawah ini:



Bukan pertama kali ini saya mendengar cerita tentang suku mante. Pada tahun 2008, saya mendengar cerita tentang sosok manusia yang memiliki perawakan pendek ini dari seorang tentara. Katanya, tentara tersebut tidak sengaja bertemu salah satu dari anggota sukunya di pedalaman hutan yang berbatasan dengan Aceh Timur dan Aceh Tamiang.

Saya lupa namanya tentara tersebut, tapi dari ceritanya itu memang kelihatannya benar adanya, walaupun tidak bisa membuktikan kebenarannya secara langsung. Cuma waktu itu saya dan dia belum tahu kalau sosok yang diceritakan ini bernama Mante, dia menyebutnya ada suku pedalaman di Aceh yang memiliki perawakan tubuh yang pendek.

Bagaimana ceritanya tentara tersebut bisa bertemu dengan salah satu dari suku Mante? Waktu itu regu dia memang sedang melaksanakan tugas untuk menyisir hutan-hutan yang diduga sebagai markasnya kombatan GAM. Bukannya bertemu GAM, dia malah bertemu dengan sosok yang beda dari umumnya.

Selang beberapa tahun kemudian baru saya tahu tentang adanya cerita suku Mante yang hidup di hutan pedalaman di Aceh. Lebih gila lagi, selain perawakan berpostur pendek, suku Mante juga katanya memiliki kaki terbalik. Wallahualam.

Cerita dari tentara tersebut dan cerita dari orang-orang lain yang saya dengar seolah-olah membuktikan bahwa suku mante memang ada. Tapi memang sulit kita buktikan, namun video yang beredar tersebut seharusnya dapat menjadi bukti kuat kalau suku Mante memang ada, tapi tentu video tersebut perlu diuji oleh digital forensic untuk memastikan bahwa itu video real dan bukan editan.

Berdasarkan Wikipedia, National Geographic pernah melakukan penelitian tentang orang kerdil di Kerinci 22 September 2005. Selama dua tahun, mereka memasang kamera perangkap dalam rangkaian penelitian untuk membuktikan keberadaaan orang kerdil alias suku Mante. Namun hasilnya nihil.

Apa karena lembaga sekelas National Geographic gagal menemukan keberadaannya berarti suku Mante itu hoax? Belum tentu, bisa saja suku Mante mengetahui keberadaan orang lain, atau menemukan sesuatu yang tidak beres dirumah mereka sehingga mereka bersembunyi. Dari beberapa cerita orang-orang yang “katanya” pernah bertemu mereka, suku Mante lebih condong dianggap sebagai manusia daripada hewan, sehingga kita tahu kecerdasan mereka (sebagai sosok manusia) lebih baik dari hewan sekitarnya.

National Geographic akan lebih mudah bila yang mereka rekam itu harimau, tapi kalau benar suku Mante itu adalah manusia, berarti mereka sedang berhadapan dengan makhluk yang memiliki kecerdasan yang cukup.

Bagaimana dengan saya, apakah saya mampu membuktikan keberadaan suku mante?

Saya memang hobi sekali mendaki gunung dan menjelajahi hutan-hutan, terutama hutan di Aceh.

Tahun 2013 dan 2015, saya bersama teman-teman mendaki gunung Seulawah Agam, gunung yang memiliki ketinggian 1726mdpl merupakan gunung berapi yang berada di kawasan hutan Aceh Besar. Dari segi administratif, gunung ini letaknya sama dengan lokasi tempat terekamnya suku Mante, sama-sama di Aceh Besar, meski lokasi persisnya ditutupi oleh perekamnya.


Dari kedua pendakian Seulawah Agam, saya tidak pernah sekalipun bertemu suku Mante. Banyak factor yang mungkin saya tidak bertemu mereka, pertama: mungkin di Seulawah memang tidak ada suku Mante-nya, melihat Seulawah sudah sangat terkontaminasi dengan penduduk lokal modern yang sering mendaki Seulawah Agam, bahkan banyak motor trail yang jalan ke gunung Seulawah. Kedua: Mungkin saja suku Mantenya ada, tapi di titik tertentu yang tidak terjamah manusia, mengingat hutan rimba tropis Seulawah begitu luas.

Tahun 2015 saya juga pernah mendaki Gunung Gohleumo, gunung itu tidak begitu tinggi, sekitar 800mdpl, tapi hutannya saya pikir lumayan lebat. Seulawah di Aceh Besar, Gohleumo juga di Aceh Besar, kedua gunung ini tidak saya jumpai keberadaan suku Mante.

Mulai tahun 2008 hingga 2015, saya sudah beberapa kali mendaki gunung Burni Telong. Saya rasa sudah lebih 10 kali, tapi tiap pendakian saya ke Burni Telong tidak pernah sekalipun bertemu dengan sosok yang kita duga Suku Mante. Alasannya tetap sama seperti Seulawah, Burni Telong termasuk gunung yang paling banyak didaki oleh anak-anak Mapala.



Tahun 2015 saya pun menyempatkan diri mendaki gunung Burni Kelieten, gunung yang berada di Aceh Tengah ini sebenarnya gunung yang jarang didaki oleh pendaki, barangkali karena medannya yang lumayan berat.

Gunung Burni Kelieten memiliki beragam flaura yang sangat indah, terutama spesies anggrek. Dari struktur alam yang lebat, saya pikir Burni kelieten sangat cocok dijadikan tempat hidupnya suku Mante, andai mereka memilih Burni Kelieten sebagai tempat hidupnya. Namun lagi-lagi saya kurang beruntung, saya tidak menemukan tanda-tanda kehidupan suku Mante di Burni Kelieten.


Kalau beberapa gunung diatas masih kurang cocok sebagai tempat hidup suku Mante karena alasan kontaminasi oleh pendaki, maka gunung salak yang betul-betul terjaga baik flaura dan fauna nya maka adalah tempat yang tepat untuk dijadikan indikasi sebagai tempat suku Mante hidup.

Gunung salak memang sangat terjaga hutannya, begitu lebat, dan masih banyak fauna yang hidup disana. Saya mendaki gunung tersebut sekitar tahun 2014 bersama salah satu anggota komunitas pecinta alam kabupaten Pidie.


Ada banyak fauna yang saya jumpai disana, diantaranya beruang, merak, kodok yang bersuara seperti burung, ular, landak dan fauna lainnya. Dan lagi-lagi tanda keberadaan suku Mante juga saya tidak jumpai.

Semua hutan yang saya jelajahi, tidak ada satupun hutan yang menunjukkan adanya kehidupan dari suku Mante. Tapi, meski tidak saya temukan mereka, bukan berarti saya tidak mempercayai tentang keberadaan suku Mante. Alasannya sudah jelas, saya bukan orang yang ahli peradaban, ya artinya bisa jadi ketika saya mendaki ada yang lost dari pandangan saya tentang bukti-bukti adanya peradaban. Alasannya lainnya, hutan Aceh ini sangat luas, satu hutan saja kita tidak mampu jelajahi semua sudut, apalagi Aceh memiliki hutan lebat tiap kabupatennya.


Apakah suku Mante itu fakta atau mitos? Saya sulit menjawabnya dan tidak ada jawaban untuk itu. Artinya, misteri suku Mante memang belum terpecahkan.

Baik, sudah dulu, maag saya mulai kumat, cerita suku Mante saya cukupi dulu. Sampai ketemu dengan tulisan saya selanjutnya.

Artikel ini bermanfaat? Share ke Jejaring Sosial Anda.

Artikel lain:

Lebih Baik Dirikan Toko Online Daripada Cuma Ngimpi Sukses dengan Jejaring Sosial


monzaaulia@outlook.com (26 Maret 2017) - Dunia internet juga berlaku seleksi alam, siapapun yang tidak mampu bertahan dengan perkembangan pasar, maka dia akan tergerus dan dimakan zaman. Yang tinggal hanyalah website-website berkualitas.

Dulu saya pernah menulis artikel di blog lain yang cukup membuat penggiat startup model ini panas kuping. Saya hanya ingin blak-blakan, saya tidak begitu mengkhawatirkan mereka marah-marah pada saya, yang ada dipikiran saya adalah menyelamatkan generasi muda yang ingin berkecimbung dalam dunia bisnis internet.

Ada satu lagi model yang harus kita hindari, yaitu startup jejaring sosial. Kita ambil contoh Buzzbuddies, Fupei, Sebangsa dan Koprol yang katanya jejaring sosial buatan lokal.

Kalau orang awam kesasar ke Buzzbuddies, Fupei, Sebangsa dan Koprol. Saat masuk, jelas beberapa situs ini mirip seperti facebook, twitter, dan googleplus. Terus bedanya dengan jejaring raksasa sekelas facebook apa? tidak ada yang unik, kalau adapun saya pikir belum bisa menggeser jejaring raksasa, dan tidak ada nilai disisi bisnisnya.

Tahukah anda berapa jumlah pengunjung dari buzzbuddies.com? Kita perkirakan saja ya, kalau seandainya situs memiliki alexa rank 200.000, maka kemungkinan pengunjung 50 hingga 100 orang. Nah buzzbuddies.com ternyata alexa rank-nya 321,222, boleh dikira-kira sendiri berapa pengunjungnya.

Fupei dan Koprol, kemana mereka? Fupei tidak bisa diakses lagi situsnya, saya pikir mereka sudah menutup layanannya. Koprol sedikit bernasib baik saat Yahoo membelinya, tapi ujung-ujungnya koprol juga ditutup oleh Yahoo.

Dan masihkah anda ingat dengan jejaring sosial salingsapa yang dibuat oleh anak SD? dulu situs tersebut banyak yang meramalkan bakal sukses di pasar lokal, begitu fenomenal. Tapi sekarang kemana rimbanya? jelas, hukum alam berlaku disini.

Saat orang dihadapkan dengan pilihan antara fupei, Koprol, Salingsapa, buzzbuddies, dan facebook, maka orang-orang pasti lebih memilih menghabiskan waktunya dalam facebook.

Facebook, Twitter, dan Googleplus telah merajai dunia jejaring sosial dengan modal dan keunikannya masing-masing, sangat sulit menggeser mereka. Jika anda ingin membangun jejaring sosial, anda hanya dianggap sebagai pemain kacangan yang cuma numpang hidup di ranah jejaring sosial.

Saran saya, lupakan mimpi anda mendirikan jejaring sosial kalau anda benar-benar tidak siap, apalagi sekarang ini model bisnis jejaring sosial tidak cocok untuk anda mimpikan.

Tapi saya berhak dong untuk bermimpi!

Saya tetap menyarankan anda untuk mengubur mimpi sukses di bisnis jejaring sosial. Tidak perlu sukses seperti Mark Z (pendiri facebook), cukuplah sukses dengan cara anda sendiri.

Ranah internet butuh inovasi, lain dari yang lain. Anda butuh ide besar dan unik untuk berhasil. Kalau hanya menjiplak ide, maka kekuatan anda harus jauh lebih besar dari kekuatan si pelopor, itupun belum tentu bisa menggeser si pelopor. Contohnya Googlepus yang ingin menggeser Facebook tapi gagal.

Jangan cuma kritik, apa solusinya?

Saya lebih senang menyarankan anda untuk membuka toko online ketimbang bermimpi disiang bolong sukses diranah jejaring sosial. Contoh yang mau saya tampilkan yakni toko online jilbabinstan.net. Website ini menjadi rangking 20.000 di Indonesia merupakan hal yang hebat, apalagi keywordnya bersaing dengan situs besar sekelas Lazada dan Blibli di halaman pertama Google.

Saya memperkirakan ada lebih dari 500-1000 unik visitor perhari yang mengunjungi website Jilbabinstan.net. Dari 500 visitor, perkirakan saja 1% atau 5 orang yang membeli, seandainya 1 produk mendapat untung Rp.20.000, maka sehari mendapat untung Rp.100.000.

Mendapatkan untung 3 juta tiap bulan dari toko online bagi saya itu sudah sukses, bagi saya anda telah berhasil di bisnis internet, ketimbang bermimpi mendirikan jejaring sosial lokal dan berharap suntikan dana 200 milyar dari investor.

Bayangkan saja, misalnya anda seorang pegawai yang mendapat gaji bulanan 3 jutaan, lalu ditambah uang sampingan dari toko online 3 jutaan, maka pendapatan bulanan anda menjadi 6 juta. Nah, itukan sudah sangat membantu meningkatkan perekonomian keluarga, apalagi toko online anda sangat prospek menjadi lebih besar lagi.

Jikapun anda ngotot ingin mendirikan startup yang besar, maka sangat saya sarankan untuk mendirikan startup seperti tees.co.id, jelas ada layanan yang di jual, jelas arah bisnisnya, bukan hanya menjadi webiste yang hidup sekali lalu –tak lama kemudian–  mati dan tak berarti.

Satu lagi, bagi anda yang sudah terjun ke dunia adsense, tidak ada salahnya anda juga terjun di dunia jual beli online. Karena jual beli online lebih stabil pendapatannya ketimbang adsense yang kadangkala fluktuasi.

Tapi tidak harus jual beli online sih, bagi anda seorang publisher adsense, mencoba peruntungan di bisnis real adalah salah satu kesempatan yang patut anda pertimbangkan.

Akhir kata, saya mohon maaf sekali jika banyak yang tersinggung dengan tulisan saya. Tapi tabir ini perlu saya ungkap dengan tajam supaya mata dan wawasan anda terbuka.

Meski ini membuat luka gores di hati, paling tidak anda tidak jatuh ke dalam lubang yang telah banyak orang menyesalinya. Ingatlah, saya menulis ini tidak dibayar, saya pun tidak ingin menggurui, saya ingin menyampaikan apa yang seharusnya yang perlu diketahui oleh para penggiat bisnis internet.

Artikel ini bermanfaat? Share ke Jejaring Sosial Anda.

Artikel lain:

Jangan Jadi Blogger Pasaran!


monzaaulia@outlook.com (22 Maret 2017) - Seminggu lalu saya blogwalking ke beberapa blog kenalan, sudah lama saya tidak blogwalking ke beberapa blog. Dulu blogwalking adalah kegiatan rutin yang saya lakukan ketika sedang libur menulis.

Manfaat blogwalking sangat banyak, selain menambah wawasan, kita juga bisa menanamkan backlink pada kolom komentar di blog yang kita kunjungi. Ya meskipun itu backlink nofollow, tidak apa-apa, tetap berguna kok.

Blogwalking juga dapat meningkatkan silaturahmi dan pertemanan sesama blog. Bagi anda yang jarang blogwalking, sudah bisa anda sisihkan waktu untuk saling mengunjungi blog teman-teman atau blog apa saja yang anda temui di Google.

Dari pengalaman saya, sering-sering blogwalking dapat mengasah kemampuan menulis. Nah, bagi penulis pemula saya sangat menyarankan untuk sering-sering blogwalking supaya anda banyak membaca pola bahasa dari blogger yang berbeda.

Namun ketika blogwalking, saya menemukan sesuatu yang menurut saya tidak mengenakkan. Terus terang saya prihatin dengan kondisi blogger sekarang ini. Dari segi kuantitas, tiap tahun jumlah blogger semakin bertambah, namun dari segi kualitas begitu menurun.

Seperti apa blog yang kualitasnya rendah?

Pertama, isi artikel hanya berupa gambar yang tidak jelas temanya dan tidak ada deskripsi kenapa si blogger memposting gambar tersebut. Andaikan blognya merupakan blog galleri wallpaper, akan jelas ciri-cirinya kalau semua postingannya adalah wallpaper, tapi ini tidak.

Kedua, blog copy paste. Kalau anda menulis ulang tulisan orang, itu tidak apa-apa, malah saya menganggap anda cerdik. Namun kalau copy paste mentah-mentah, bahkan tata letak artikelnya amburadul, maka blog tersebut tidak sekedar dari blog murahan.

Ketiga, penggunaan template/theme blog yang berlebihan. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan selera memilih template/theme, namun akan sangat mengganggu dan bikin sakit mata kalau anda menggunakan background yang kontras pada template anda. Background kontras misalnya warna gambar background hampir menyerupai warna tulisan blog sehingga sulit dibaca.

Contoh tampilan blog yang berlebihan
Saya tahu, ngeblog sifatnya merdeka. Semua orang berhak ngeblog dan menulis sesuka hatinya. Tapi tidak begitu untuk pembaca, mereka berkunjung ke blog anda untuk sekedar mendapatkan pengalaman, momen, dan wawasan. Karena itulah manfaat blogwalking.

Saya percaya setiap manusia itu unik, punya keunikan dan perbedaan sendiri-sendiri dan itu adalah hukum alam yang tidak bisa dibantah, tentunya dengan hal tersebut anda bisa menciptakan sesuatu yang lain daripada kebanyakan orang dan tentu bermanfaat.

Sayang sekali jika keunikan anda tidak digunakan secara maksimal. Padahal dengan kekuatan itu, tidak hanya menjadikan anda blogger yang baik, tapi juga suatu hari blog anda akan populer karena itu.

Bangunlah sesuatu yang berguna untuk pembaca di blog anda, jadikan blog anda bermanfaat untuk yang lainnya. Janganlah sekedar menjadi blogger ikut-ikutan teman (ikut tren).

Untuk anda yang baru mengenal blog, saya ingin memberikan sedikit tips sederhana bagaimana menulis blog yang baik.

Tema tulisan bermanfaat. Yang terpenting menulis itu adalah bermanfaat bagi orang lain, maka tulislah sesuatu yang menurut anda ada manfaatnya.

Tulisan mudah dimengerti. Usahakan setiap tulisan-tulisan anda mudah di mengerti oleh para  pembaca,  jangan anda pergunakan kata-kata yang di singkat, seperti “yg”, “jgn” “benar2″ atau kata-kata yang di singkat lainnya. Tapi bukan berarti anda menulis terlalu baku, boleh gunakan kata-kata pasaran asal jangan disingkat.

Untuk permulaan 250-300 kata cukup. Artikel dengan jumlah 250-300 kata sudah cukup sebagai bahan motivasi menulis. Yang terpenting adalah isi dari artikel tersebut, fokuskan pada inti artikelnya. Karena bila sebuah artikel terlalu panjang takutnya anda malah jenuh untuk ngeblog.
Artikel panjang boleh anda tulis bila sudah lama ngeblog dan anda mulai untuk membuat blog khusus adsense. Disini yang penting anda mengasah kemampuan menulis dan meningkatkan passion menulis anda.

Pendahuluan yang menarik. Pendahuluan mencakup judul dan kalimat pembuka suatu artikel, buatlah semenarik mungkin agar pembaca tertarik untuk membaca artikel anda.

Konsisten. Misalkan anda konsisten dengan cara anda menyajikan sebuah artikel atau bisa konsisten dengan tema yang anda angkat selama ini. Maka untuk permulaan, menulislah sesuai passion anda. Misalnya suka jalan-jalan, maka cukuplah anda menulis tentang dunia traveling.

Cek sebelum mempublikasi artikel. Biasanya, sebagian besar blogger termasuk saya langsung mempublikasikan artikel yang sudah di tulisnya tanpa mengecek kembali ejaan atau kalimat-kalimatnya, barang kali ada yang kurang satu huruf atau tidak di beri spasi antara satu kata dengan kata lainnya. Terkadang hal kecil tersebut akan sedikit mengganggu pembaca.

Saya pikir tips sederhana diatas bisa membantu anda menjadi blogger yang lebih baik. Karena menjadi blogger tidaklah cukup hanya dengan memiliki blog saja, perlu ada taste untuk seorang blogger.

Akhir kata, janganlah jadi blogger pasaran, ciptakan emosional, asah insting dan filing menulis anda. Jadilah seseorang yang kontroversial, berbeda dengan yang lain dalam hal berfikir dan menulis.

Artikel ini bermanfaat? Share ke Jejaring Sosial Anda.

Artikel lain:

3 Cara Mainstream Mendapatkan Uang di Internet


monzaaulia@outlook.com (20 Maret 2017) - Banyak orang yang akhir-akhir mulai tergiur dengan ladang basahnya internet. Gimana tidak, kisah sukses orang IT telah menjadi magnet bagi  orang-orang untuk juga ingin sukses di dunia internet. Sayang sekali, mereka yang termakan mentah-mentah kisah sukses tersebut langsung terjun tanpa belajar untuk memahami apa yang mereka geluti.

Menjadi sukses di dunia teknologi tidaklah mudah, tidak seperti yang banyak motivator gadungan bicarakan. Semua itu butuh proses, kerja keras, dan sedikit keberuntungan. Jika anda sudah bekerja keras namun belum berhasil, berarti proses anda belumlah klimaks. Anda sudah bertahun-tahun bekerja keras untuk mendapatkan tempat di internet namun belum berhasil, sehingga merasa dunia teknologi bukanlah tempatnya anda.

Janganlah bersedih, setiap dari kita punya batas, jika anda tidak berhasil di bidang ini, carilah bidang lain yang mungkin cocok untuk anda. Manusia memang sudah ditakdirnya dengan jalannya masing-masing. Janganlah memaksakan diri, karena itu sama saja anda menyiakan waktu hidup di dunia.

Apa saja ladang uang yang paling banyak digeluti di internet?

1. Jadi publisher Adsense


Era tahun 2008 s/d 2010 memang masa emasnya Adsense di Jakarta dan Bandung. Tapi semakin beranjak tahun 2011, pemain adsense di ibukota kian menurun karena beralihnya tren startup dan ecommerce. Di beberapa provinsi, Adsense masih menjadi primadona bagi para pendulang rejeki internet, diantara mereka yang saya kenal memang berhasil tembus lebih 20 jutaan tiap bulannya sampai saat ini. Artinya ini memang ladang basah yang bisa dimasuki oleh siapa saja.

Tapi apakah anda yakin kalau anda ingin jadi publisher?

Pada pembahasan sebelumnya saya sudah memaparkan tentang pahitnya dunia Google Adsense dan solusi mengurangi rasa pahit Google Adsense, tapi masih saja tidak pernah bosan akan sisi negative dari Adsense ini. Yuk coba kita ulang lagi tentang pahitnya Adsense.

Kerja keras dan bergadang semalaman. Mereka yang menghasilkan 10 s/d 20 juta lebih perbulan, hampir rata-rata memiliki blog lebih dari satu, bisa lima atau lebih. Sehingga mereka dipaksa  untuk update terus artikel unik, dan kebanyakan dari mereka posting minimal satu artikel per hari untuk satu blog. Biasanya satu blog mereka update lima artikel per hari. Kebayangkan apa yang terjadi? anda perlu ngetik siang malam, waktu tidur anda jadi berkurang, apalagi waktu untuk senang-senang. Kecuali kalau anda mau keluarkan modal untuk menyewa penulis, atau kalau anda nekat anda bisa coba gaya spin. Ada harga yang perlu dibayar dan resiko yang harus diterima.

Blog belum tentu diterima oleh Google. Nah ini yang paling menyakitkan, sudah capek-capek persiapkan blog, eh pada saat di daftarkan, Google menolaknya. Terpaksa anda perlu mencari koneksi teman-teman yang menjual akun adsense, harganya mungkin berkisar 1 jutaan per akun.

Stres mikirin visitor. Jumlah visitor berbanding lurus dengan pendapatan. Kalau visitornya banyak, tentu pendapatan adsense kita juga banyak. Masalahnya tidak mudah untuk mencari visitor. Anda perlu berkompetisi dengan blogger lain, perlu perbanyak skill tentang SEO, dan mungkin saja perlu sedikit mengeluarkan modal untuk beriklan.

Rentan banned. Google tidak segan-segan untuk membanned sebuah blog yang menurut mereka melanggar TOS, meski si pemilik blog merasa tidak pernah melakukan kesalahan. Mereka yang sudah mendapatkan puluhan juta perbulan dari adsense sudah banyak makan asam garam kalau soal ini, jadi sudah biasa buat mereka. Nah Anda? yang baru main adsense, capek-capek mendapatkan akunnya, eh pas beberapa hari sebelum gajian malah dibanned. Sakitnya tuh disini. Saya saja yang baru 2 kali dibanned akun, demam 3 hari 3 malam.

2. Jadi pelaku startup


Saya kurang tahu kapan sebenarnya demam startup melanda Indonesia. Tapi yang pasti, kiprah lahirnya bibit-bibit startup sudah dimulai sejak tahun 2010 di beberapa kota besar. Startup ini boleh dikatakan sebagai sebuah perusahaan rintisan berbasis teknologi. Startup ada yang sukses besar, namun ada juga yang gagal. Contoh yang paling sukses menurut saya yakni Tokopedia, Bukalapak, Traveloka dan Go-Jek. Mungkin merekalah yang bisa dikatakan rajanya startup lokal. Tapi apakah segampang itu menjadi sukses di dunia startup? Tentu tidak. Apa saja kepahitannya? Mari simak poin-poin ganas dibawah ini:

Butuh ide hebat. Jika anda penjiplak, maka dunia ini jelas tidak cocok untuk anda. Mereka yang berhasil adalah mereka yang benar-benar memiliki ide briliant, sebuah ide yang memang berbeda dengan startup lainnya. Disinilah kebanyakan kita kalah, krisis ide, sampai-sampai karena terlalu ngebet ingin mendirikan startup kita malah ikut-ikutan ide orang duluan berhasil. Seorang penjiplak sebenarnya telah menggali lubang kegagalannya sendiri.

Pernah dulu ada situs microblogging yang layanannya sangat mirip Twitter, kalau tidak salah namanya Helloo. Kalian tahu apa yang terjadi dengan situs itu? Tidak lama setelah dibangun, situs itu harus menutup layanannya karena tidak sanggup bersaing dengan pendahulunya, Twitter.

Jadi, di dunia startup ide produk itu paling penting. Dunia startup lebih condong menghasilkan produk berupa ide yang dapat digunakan untuk membantu pengguna layanan.

Butuh ilmu pemprograman. Kalau memang anda jago pemprograman, mungkin ini bisa jadi modal dasar anda untuk mendirikan sebuah startup. Tapi jika anda buta dengan dunia pemprograman, artinya anda perlu menyewa programmer lepas yang bisa jadi anda perlu mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Namun ini tidak ada apa-apanya jika elemen pokok dari sebuah startup tidak anda miliki, yakni ide.

Rumitnya manajemen. Disini anda dipaksa untuk membuka jalan supaya dapat mempromosikan produknya. Kalau memang anda bukanlah orang yang terbiasa dengan ini, saran saya berpikirkan dua kali untuk bergelut di bidang ini.

Ngomong-ngomong, kalau memang anda serius ingin menjajaki dunia startup, ada baiknya anda membaca beberapa artikel dailysocial. Situs ini banyak membahas tentang perkembangan startup lokal dan Internasional. Semoda dailysocial bisa membuka wawasan anda tentang startup.

3. Jadi penjual online


Mungkin ini satu-satunya yang memungkinkan untuk anda geluti. Bidang ini menurut saya tidak serem-serem amat. Disini anda hanya perlu menyiapkan produk yang akan dijual, lalu mempromosikan di internet, dan tinggal proses transaksi jika ada yang beli. Sayangnya, ecommerce juga memiliki kendala tersendiri.

Mari kita kupas kendala yang saya maksud.

Masih rendahnya kepercayaan konsumen. Mungkin hal ini bisa disiasati dengan menggunakan transaksi Bukalapak atau Tokopedia. Namun masih ada kendalanya, misalnya barang yang sudah deal perlu dikirimkan ke pelanggan. Nah artinya anda perlu modal dasar yang dipakai untuk mengirim barang tersebut sebelum anda mendapatkan uang anda dari Bukalapak atau Tokopedia. Kalau satu dua barang tidak masalah, nah kalau pembeliannya banyak?

Ketatnya persaingan. Jual beli online memang semakin bertumbuh, artinya sangat banyak penjual online selain anda. Berarti ini menjadi masalah tersendiri untuk anda. Saya sendiri masih sulit mendapatkan celah bagaimana bersaing dengan kompetitor lain.

Barang tidak laku. Kalau anda menjual sesuatu barang yang mudah didapatkan dipasar, tentu sangat sulit laku di internet. Anda harus berpikir keras barang apa yang bisa dijual di internet. Yang artinya barang tersebut memang sulit didapatkan di pasar pada umumnya.

Kendala pengiriman bagi penjual luar Jabodetabek. Saya masih beranggapan bahwa kalau ingin menjadi pelaku bisnis online yang sukses, hijrahlah ke ibukota!. Saya harus katakan, 50% pelaku jual beli berpusat di ibukota, artinya 50% pelanggan anda berada di Jakarta (berdasarkan survei pribadi). 

Nah, kalau anda misalnya berada di Aceh atau Papua, sangat menyulitkan karena biaya pengiriman akan membengkak, apalagi biaya pengiriman lebih mahal ketimbang dari harga barang itu sendiri. Kecuali anda menjual produk etnik daerah, nah kalau ini beda lagi ceritanya.

Oke, sudah paham kan? Mencari uang di internet sepertinya begitu sulit ya. Ladang ini hanya cocok bagi mereka yang tahan banting, kreatif, dan mampu bekerja dibawah tekanan. Modal dana memang bukan sesuatu yang penting, namun adakala anda membutuhkan sedikit modal supaya anda bisa lebih kuat dalam bersaing di ladang yang basah.

Langkahi dulu rintangan di atas, baru anda bisa berhasil seperti mereka-mereka yang berpenghasilan dari internet. Tidak harus 10 juta keatas, dapat 3 juta perbulan saja dari internet saya pikir anda sudah cukup sukses, apalagi internet anda jadikan sebagai usaha sampingan selain profesi utama anda sebagai pekerja kantoran atau guru misalnya.

Tapi sebenarnya mencari uang di internet bisa mudah jika anda memang orang inovatif dan brilian, misalnya anda memanfaatkan internet untuk menjual skill dasar anda. Begitu lebih gampang ketimbang ketiga jalur diatas. Nanti pada artikel selanjutnya saya ingin membahas bagaimana skill dasar anda dapat dijual di internet.


Baiklah, barangkali ada yang ingin di diskusikan, silahkan meluncur ke kolom komentar. Mohon maaf, komentar yang berbau promosi situs perjudian dan situs yang melanggar hukum lainnya akan saya hapus tanpa peringatan. Mohon dimengerti.

Artikel ini bermanfaat? Share ke Jejaring Sosial Anda.

Artikel lain: